Ketika Harta Datang dan Pergi: Sebuah Renungan
Kisah singkat seorang ustadz dan istrinya mengajarkan kita hikmah mendalam tentang rezeki. Sang istri mengeluhkan sedikitnya uang, namun sang ustadz menjawab dengan tenang, "Santai saja wahai istriku, duit kalau tinggal sedikit artinya mau datang lagi." Ungkapan sederhana ini menyimpan pesan yang begitu bermakna.
Analogi yang tepat menggambarkan prinsip ini adalah air dalam gelas. Jika gelas penuh, air dari botol lain tak akan mampu mengisinya. Begitu pula rezeki. Jika kita berpegang teguh pada harta yang ada tanpa berbagi, rezeki seakan terbendung. Sebaliknya, ketika kita ikhlas berbagi, ruang kosong tersebut seolah-olah menjadi magnet bagi rezeki baru.
Hadits dari Asma’ binti Abi Bakr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah engkau menyimpan harta (tanpa mensedekahkannya). Jika tidak, maka Allah akan menahan rizki untukmu.” (لاَ تُوكِي فَيُوكى عَلَيْكِ) Peringatan ini menekankan pentingnya keikhlasan dalam berbagi. Harta yang ditahan, bukan hanya stagnan, tetapi justru dapat menjadi sumber masalah. Kerusakan barang, sakitnya anggota keluarga, atau kehilangan yang tak terduga, bisa menjadi jalan keluar bagi harta yang kita tahan.
Uang ibarat air yang jika ditahan akan menjadi kotor, namun jika dilepaskan akan menjadi bersih. Ia juga seperti udara, selalu mengisi ruang kosong. Dengan berbagi dan mengosongkan sebagian harta kita, kita memberikan ruang bagi Allah untuk melimpahkan rezeki-Nya dengan cara-cara yang tak terduga.
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa bersedekah dan berbagi kepada sesama. Bukan hanya sekedar memberi, tetapi juga dengan keikhlasan yang tulus. Sebab, sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba Allah yang sholih, yang senantiasa berbagi dan mensyukuri nikmat-Nya. Semoga kita termasuk di antara mereka.