Berita
Admin

Kemenag Latih Peer Educator Cegah Perkawinan Anak di Indonesia, Beri Bimbingan Pernikahan bagi Siswa

Kemenag Latih Peer Educator Cegah Perkawinan Anak di Indonesia, Beri Bimbingan Pernikahan bagi Siswa

31 Oktober 2025 | 16:32

Keboncinta.com-- Pernikahan merupakan sesuatu yang tidak boleh dianggap sepele, sehingga harus dipersiapkan secara serius.  Kementerian Agama (Kemenag) memberikan bimbingan remaja bagi 60 siswa Madrasah Aliyah di Bandung.

Mereka dilatih menjadi peer educator atau pendidik sebaya dalam upaya mencegah perkawinan anak.

Pelatihan tersebut dikemas dalam Peer Educator Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS). Program ini dirancang agar para siswa mampu menjadi agen perubahan di lingkungan sekolahnya.

Mereka dibekali kemampuan untuk mengampanyekan nilai-nilai positif dan mengedukasi teman sebaya tentang pentingnya menjaga masa depan, menghindari perilaku berisiko, serta menolak perkawinan dini.

Baca Juga: Turut Berduka, Kemenag Salurkan Bantuan kepada Pesantren Tertimpa Musibah di Pasuruan dan Situbondo

Instruktur BRUS Kemenag, Sugeng Widodo, atau yang akrab disapa Paman Dodo, menjelaskan bahwa pendekatan pelatihan ini dibuat dekat dengan gaya dan dunia anak muda. “Metode yang digunakan jelas lebih friendly, informal, dan cair. Kita harus siap menyesuaikan dialek serta istilah yang mereka gunakan agar komunikasi nyambung. Aktivitasnya pun dibuat kekinian dan interaktif,” ungkapnya di Bandung, Rabu (29/10/2025).

Menurutnya, kemampuan berpikir logis dan kecerdasan anak SMA pada dasarnya sudah setara dengan orang dewasa. Karena itu, peserta pelatihan ditempatkan bukan sebagai objek, melainkan subjek pembelajaran.

“Mereka kita pandang sebagai pribadi yang sudah punya banyak pengalaman. Fasilitator hanya memandu agar proses belajar bersama ini mencapai target yang diharapkan,” tambahnya.

Baca Juga: Optimalkan Pemberdayaan Dana Umat, Pemerintah Siapkan LPDU sebagai Instrumen Utama

Para siswa juga diajak memperkuat nilai-nilai kepribadian yang bersumber dari keteladanan para nabi. Nilai-nilai tersebut dikemas dalam enam karakter utama, yaitu bijaksana, religius-spiritual, berbuat baik, moderat, bertanggung jawab, dan konsisten.

Karakter moderat, misalnya, diterjemahkan ke dalam sikap saling menghormati, toleransi, menghargai perbedaan, serta kemampuan berteman dengan siapa pun. Nilai-nilai ini diharapkan menjadi fondasi bagi peserta ketika dewasa dan membangun keluarga yang sakinah.

Selain menjadi pendidik sebaya, peserta juga dilatih menjadi konselor sebaya. Mereka dibekali keterampilan komunikasi dan empati untuk mendampingi teman-teman di sekolah. Peserta diharapkan mampu mengampanyekan pesan-pesan positif seperti no seks bebas dan no perkawinan anak, sekaligus mencegah berbagai bentuk kenakalan remaja di lingkungannya.

Baca Juga: Urban Sneaker Society 2025 Kembali Hadir di Jakarta, Tampilkan Lebih dari 300 Brand dan Transformasi Besar Menuju Curated Lifestyle Market Terbesar

Widodo menambahkan, manfaat pelatihan ini terasa langsung bagi peserta karena mereka didorong untuk fokus pada masa depan, memahami potensi diri, serta memiliki visi hidup yang seimbang di berbagai aspek.

“Kita tuntun mereka agar punya impian 10 tahun ke depan. Mereka diajak memetakan cita-cita secara fisik, finansial, sosial, dan spiritual, lalu menyusun strategi mencapainya,” ungkapnya.

Dalam proses tersebut, peserta belajar mengenali kelebihan dan kekurangan diri, menentukan nilai-nilai yang perlu diperkuat, serta menyiapkan langkah konkret sejak dini. Menurut Paman Dodo, keseimbangan antara ikhtiar fisik, spiritual, dan sosial menjadi kunci agar generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang maslahah, bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Sementara itu, Kasubdit Bina Keluarga Sakinah Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Zudi Rahmanto, menilai program ini sebagai bagian penting dari upaya Kemenag membangun generasi berkarakter dan sadar masa depan.

Baca Juga: Pendaftaran UKPPG Periode IV Resmi Dibuka 1–13 November 2025, Ini Panduannya!

“Pendidikan sebaya ini bukan sekadar pelatihan, tapi investasi sosial jangka panjang. Remaja diajak berpikir kritis, memaknai nilai-nilai keluarga sakinah, dan menolak segala bentuk perilaku yang bisa menghambat masa depannya,” ujarnya.

Tindakan membangun kesadaran remaja tentang pentingnya menjaga diri dan menunda perkawinan hingga siap secara mental dan ekonomi adalah langkah strategis untuk menekan angka perkawinan anak di tanah air.***

Tags:
berita nasional kemenag Remaja Masa Kini Pernikahan Dini

Komentar Pengguna