Sejarah
Admin

Jejak Sejarah Perang Jamal: Berawal dari Fitnah hingga Pertempuran Besar di Basrah

Jejak Sejarah Perang Jamal: Berawal dari Fitnah hingga Pertempuran Besar di Basrah

06 November 2025 | 18:20

Keboncinta.com-- Perang Jamal tercatat sebagai konflik bersenjata pertama dalam sejarah Islam yang melibatkan para sahabat Nabi Muhammad SAW.

Peperangan antarumat Muslim ini terjadi pada tahun 656 M di Basrah, Irak, hanya beberapa bulan setelah terbunuhnya Khalifah ketiga, Utsman bin Affan RA.

Kematian Utsman menimbulkan guncangan besar di tengah umat Islam. Banyak pihak menuntut agar para pelaku pembunuhan segera diadili, sementara yang lain menilai bahwa kondisi politik yang belum stabil membuat hal itu sulit dilakukan tanpa menimbulkan kekacauan baru. Di sinilah benih fitnah besar mulai tumbuh.

Baca Juga: Menag Nasaruddin Umar: Pesantren Harus Jadi The New Baitul Hikmah, Pusat Ilmu dan Spiritualitas Islam

Setelah Utsman wafat, umat Islam membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat. Namun, sebagian sahabat terkemuka seperti Ummul Mukminin Aisyah RA, Thalhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam memiliki pandangan berbeda.

Mereka menilai keadilan bagi pembunuh Utsman harus ditegakkan segera, sebelum urusan pemerintahan lainnya dijalankan.

Kedua belah pihak sebenarnya memiliki niat baik, yaitu menegakkan kebenaran dan keadilan. Namun, perbedaan pandangan tentang kapan dan bagaimana pelaku harus dihukum menimbulkan ketegangan yang berujung pada pertempuran yang tak terhindarkan.

Kedua pasukan bertemu di Basrah. Awalnya, baik Khalifah Ali maupun Aisyah RA ingin menyelesaikan perselisihan secara damai. Negosiasi sempat berjalan dan kesepakatan hampir tercapai.

Baca Juga: Sejarah Penemuan Senjata Api: Dari Bubuk Mesiu Tiongkok hingga Revolver Modern

Namun, dalam suasana yang penuh kecurigaan, provokasi dan kesalahpahaman terjadi. Dan pada akhirnya pertempuran pun pecah tak dapat dicegah.

Pertumpahan darah sesama Muslim tidak dapat dihindari, dan perang ini kemudian dikenal sebagai Perang Jamal (dari kata jamal yang berarti unta), karena Aisyah berada di atas seekor unta saat berusaha menenangkan pasukannya di medan pertempuran.

Dalam perang ini, pasukan Khalifah Ali akhirnya memenangkan pertempuran. Namun, kemenangan itu bukan untuk dirayakan, melainkan menjadi luka mendalam dalam sejarah Islam.

Usai pertempuran, Ali menunjukkan kebesaran jiwa yang luar biasa. Beliau memerintahkan pasukannya untuk tidak menjarah, tidak mengejar yang lari, dan memperlakukan semua tawanan dengan baik.

Baca Juga: Kemenag Kucurkan Rp191 Miliar untuk Rehabilitasi Madrasah dan KUA Terdampak Bencana

Aisyah RA dipulangkan ke Madinah dengan penuh kehormatan, bahkan dikawal langsung oleh pasukan khusus atas perintah Ali. Tindakan ini menjadi bukti nyata bahwa meskipun terjadi perbedaan pandangan, rasa hormat dan ukhuwah Islamiyah tetap dijaga.

Perang Jamal memberikan pelajaran besar bagi umat Islam tentang bahaya perpecahan dan pentingnya mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan konflik.

Kedua pihak yang terlibat sama-sama berangkat dari niat yang tulus — menegakkan keadilan dan menjaga agama — namun perbedaan cara pandang dan situasi politik yang panas membuat konflik tidak terhindarkan.

Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa dalam sejarah Islam, fitnah dan perpecahan tidak selalu datang dari keburukan niat, tetapi sering kali dari ketidaksepahaman dalam menafsirkan sebuah kebenaran yang ada.***

Tags:
Sejarah Kisah sahabat Sejarah Islam Ali bin Abi Thalib

Komentar Pengguna