Istidraj: Ngerinya Ketika Maksiat Jalan Terus tapi Rezeki Justru Makin Lancar

Istidraj: Ngerinya Ketika Maksiat Jalan Terus tapi Rezeki Justru Makin Lancar

07 Januari 2026 | 16:35

keboncinta.com--  Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap menyaksikan fenomena yang membingungkan: seseorang bergelimang maksiat, jauh dari nilai agama, tetapi hidupnya tampak lancar. Usaha sukses, harta melimpah, jabatan naik, dan doa seolah selalu terkabul. Dalam khazanah Islam, kondisi ini dikenal dengan istilah istidraj—sebuah keadaan yang justru patut ditakuti, bukan disyukuri secara berlebihan.

Istidraj secara bahasa berarti menarik secara perlahan. Dalam konteks akidah, istidraj adalah kondisi ketika Allah tetap memberikan kenikmatan dunia kepada seseorang yang terus bermaksiat, bukan karena ridha, tetapi sebagai bentuk penangguhan sebelum datangnya azab. Allah membiarkan seseorang larut dalam kesenangan hingga ia semakin jauh dari kesadaran dan taubat.

Al-Qur’an mengingatkan, “Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka…” (QS. Al-An’am: 44). Ayat ini menegaskan bahwa kelapangan hidup tidak selalu menjadi tanda kebaikan di sisi Allah. Bisa jadi, itu adalah ujian paling berbahaya.

Ciri utama istidraj adalah hilangnya rasa bersalah saat berbuat dosa. Hati menjadi tumpul, nasihat terasa mengganggu, dan maksiat dianggap wajar. Bahkan, keberhasilan dunia sering dijadikan pembenaran: “Kalau salah, kenapa hidupku tetap baik-baik saja?” Inilah jebakan istidraj yang membuat seseorang merasa aman dalam dosa.

Berbeda dengan ujian bagi orang beriman, musibah sering kali datang sebagai bentuk teguran agar kembali kepada Allah. Sementara dalam istidraj, teguran itu seolah dicabut. Dunia terus memberi, tapi akhirat terancam. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa jika Allah memberi dunia kepada hamba yang bermaksiat, bisa jadi itu adalah istidraj.

Namun, penting dipahami bahwa kita tidak boleh mudah menghakimi orang lain. Rezeki yang lancar bisa saja merupakan ujian, amanah, atau bahkan jalan hidayah. Istidraj lebih tepat dijadikan cermin untuk diri sendiri, bukan alat menghakimi sesama.

Lalu, bagaimana agar terhindar dari istidraj? Kuncinya adalah muhasabah dan kepekaan hati. Ketika rezeki bertambah, apakah kita semakin dekat dengan Allah atau justru makin lalai? Apakah nikmat membuat kita lebih bersyukur atau semakin sombong? Nikmat yang disertai ketaatan adalah karunia, sedangkan nikmat yang menjauhkan dari Allah patut diwaspadai.

Kesimpulannya, istidraj adalah peringatan keras agar kita tidak tertipu oleh kelapangan dunia. Keberhasilan sejati bukan diukur dari banyaknya harta, tetapi dari keberkahan dan keselamatan di akhirat.

Tags:
Khazanah Islam Tazkiyatun Nafs Istidraj Muhasabah

Komentar Pengguna