Orang-orang penting di masa lalu, terutama Sri Sultan Hamengku Buwono IX, adalah inspirasi dari Hari Pramuka Indonesia, yang diperingati setiap 14 Agustus. Mengapa dia diberi nama itu?
Sri Sultan HB IX dikenal sebagai "Bapak Pramuka Indonesia" karena aktivitasnya dalam kepramukaan. Ia memainkan peran strategis dalam mengembangkan kepanduan di Indonesia.
Menurut buku yang ditulis oleh Toga Nainggolan dan Zulfikar Tanjung, Pramuka Sumut: Dari Kejayaan Masa Lalu Menuju Generasi Emas 2045, ia berperan sebagai penggerak dalam memulai gerakan Pramuka pada tahun 1961, yang menyatukan berbagai organisasi kepanduan di Indonesia.
Sultan HB IX memahami pentingnya pendidikan karakter melalui pramuka sebagai Presiden Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) untuk membentuk generasi muda yang berbudi pekerti luhur, disiplin, dan bertanggung jawab atas bangsa mereka.
Profil Singkat Sri Sultan Hamengku Buwono IX: Sri Sultan HB IX lahir pada 12 April 1912 di Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada usia 28 tahun.
Bapak pramuka Indonesia ini sangat nasionalis. Seperti yang dinyatakan dalam buku Pahlawan Indonesia oleh Tim Media Pusindo, dia memerintah sendiri tanpa bantuan atau intervensi dari pemerintah Belanda dan Jepang.
Dia juga menunjukkan nasionalisme dengan membantu dan melindungi anggota TNI saat militer Belanda menyerang. Ia pernah mengambil sejumlah tindakan strategis.
Selama Orde Baru, Sri Sultan HB IX membantu ekonomi. Dia juga membantu olahraga, pramuka, dan pariwisata. Perannya sebagai ketua umum Gerakan Pramuka Nasional dan pembimbing Lembaga Pariwisata Nasional adalah bukti dari peran ini.
Ia meninggal pada 3 Oktober 1988 dan dimakamkan di Imogiri, pemakaman raja-raja Yogyakarta.