Keberagaman merupakan kenyataan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan latar belakang suku, budaya, dan keyakinan yang berbeda-beda. Perbedaan ini bukanlah sumber perpecahan, melainkan ujian bagi manusia untuk saling memahami, menghormati, dan menjaga kedamaian.
Dalam Islam, perbedaan keyakinan adalah sesuatu yang diakui keberadaannya. Sejak dahulu hingga kini, umat manusia hidup berdampingan dengan berbagai kepercayaan. Islam tidak pernah mengajarkan permusuhan hanya karena perbedaan iman. Sebaliknya, Islam hadir sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Allah SWT dengan tegas berfirman dalam Al-Qur’an:
“Tidak ada paksaan dalam beragama. Sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.”
(QS. Al-Baqarah: 256)
Ayat ini menjadi landasan utama bahwa setiap manusia memiliki kebebasan dalam menentukan keyakinannya, dan Islam menolak segala bentuk pemaksaan dalam urusan agama.
Lebih jauh, Islam juga mengajarkan umatnya untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada siapa pun, termasuk kepada mereka yang berbeda keyakinan. Selama tidak ada permusuhan dan penindasan, maka sikap saling menghormati dan bekerja sama dalam kebaikan harus tetap dijaga. Allah SWT berfirman:
“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama.”
(QS. Al-Mumtahanah: 8)
Ayat ini menegaskan bahwa hidup berdampingan secara damai merupakan bagian dari ajaran Islam yang luhur.
Teladan nyata tentang kehidupan bermasyarakat yang rukun juga dapat kita lihat dalam kehidupan Rasulullah SAW. Ketika tinggal di Madinah, Rasulullah hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain, menjunjung tinggi keadilan, serta melindungi hak-hak mereka. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa menyakiti orang yang memiliki perjanjian (non-Muslim), maka aku akan menjadi lawannya pada hari kiamat.”
(HR. Abu Dawud)
Hadis ini menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap nilai kemanusiaan dan perdamaian, tanpa memandang perbedaan keyakinan.
Hidup berdampingan dalam damai tentu bukan berarti mencampuradukkan akidah. Setiap umat beragama tetap wajib menjaga keyakinannya masing-masing. Namun dalam kehidupan sosial, sikap saling menghormati, menjaga lisan, dan menghindari tindakan yang menyakiti orang lain adalah kunci terciptanya keharmonisan.
Di era modern saat ini, tantangan kerukunan semakin besar, terutama dengan adanya media sosial. Perbedaan sering kali dipelintir, dibesar-besarkan, bahkan dijadikan alat provokasi yang dapat memicu konflik. Oleh karena itu, setiap individu dituntut untuk bersikap bijak, tidak mudah terpengaruh oleh ujaran kebencian, serta mampu menjadi penyebar pesan damai di tengah masyarakat.
Hidup berdampingan dalam damai meski berbeda keyakinan merupakan wujud nyata dari pengamalan ajaran agama sekaligus bentuk kecintaan terhadap persatuan dan keutuhan bangsa. Dengan menjunjung tinggi nilai toleransi, keadilan, dan kemanusiaan, masyarakat yang rukun dan harmonis dapat terwujud.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita semua untuk menjadi pribadi yang mampu menjaga kerukunan, kedamaian, dan persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat.