Doa, Maaf, dan Kesadaran
Meminta doa itu tidak mudah. Lebih-lebih jika hati kita penuh gengsi. Ada orang yang sepanjang hidupnya hampir tak pernah meminta doa pada siapa pun. Bahkan untuk mengucap, “Doakan saya, ya…” terasa berat seperti menelan paku. Ada juga yang lebih sulit lagi: tak pernah meminta maaf, sekalipun jelas bersalah.
Anehnya, kepada orang seperti itu, kita sering dituntut untuk peka. Jika kita tak datang padanya untuk minta doa, kita dianggap sombong. Jika kita tak membuka pembicaraan lebih dulu, dianggap menyimpan dendam. Dunia relasi kadang memang timpang: yang diam terlihat benar, yang berinisiatif terlihat salah langkah.
Padahal, meminta doa bukan tanda kelemahan. Itu tanda kerendahan hati. Dan meminta maaf bukan aib. Justru di situlah keberanian menemukan bentuknya.
Sayyidina Umar bin Khattab pernah berkata: "Tiga hal akan meninggikan derajatmu walau kau tak dianggap: memberi pada yang menzalimimu, menyambung pada yang memutusmu, dan meminta maaf pada yang menyakitimu."
Meminta maaf bukan berarti kita sepenuhnya salah. Tapi karena kita sepenuhnya ingin menjaga hubungan. Begitu juga dengan meminta doa: itu bukan karena kita tak mampu berdoa sendiri, tapi karena kita percaya bahwa keberkahan sering datang dari hati orang lain yang bersih.
Namun sebagian orang justru merasa tinggi jika tak pernah meminta. Mereka menelan gengsi sebagai pilar harga diri. Padahal kata para ulama salaf, salah satu ciri orang yang disucikan hatinya adalah ringan lisan dalam berkata: “Afwan, doakan saya.”
Sayyid Ahmad Zarruq menulis dalam Qawa’id at-Tashawwuf: "Barang siapa enggan minta maaf atau minta doa kepada orang lain karena merasa lebih tinggi derajatnya, maka sejatinya ia masih tertipu oleh keakuan dirinya."
Tapi hidup memang sering ironis. Orang yang tak pernah minta doa, tak pernah minta maaf, justru paling mudah merasa tersinggung jika orang lain tak datang lebih dulu. Ia lupa, bahwa dalam hubungan antarmanusia, saling mendekat itu bukan tentang siapa duluan, tapi siapa yang lebih sadar.
Sebab kesadaran tidak selalu datang pada yang lebih tua, lebih pintar, atau lebih berpengaruh. Kadang justru datang pada yang paling menderita karena diam-diam menanggung luka yang tak pernah disadari orang lain.
Kita memang hidup dalam masyarakat yang kadang membentuk standar aneh:
Yang meminta maaf dianggap lemah.
Yang mengakui kesalahan dianggap kalah. Yang meminta doa dianggap sedang merengek.
Padahal justru sebaliknya. Yang paling rendah hatinya, itulah yang paling kuat.
Jangan salah.