Sejarah
Admin

Detik-detik Menegangkan di Balik Proklamasi: Saat Bung Karno Tantang Nyawa dan Bung Hatta Dituduh Tak Revolusioner

Detik-detik Menegangkan di Balik Proklamasi: Saat Bung Karno Tantang Nyawa dan Bung Hatta Dituduh Tak Revolusioner

27 Juli 2025 | 15:50

Keboncinta.com – Sejarah mencatat bahwa kemerdekaan Indonesia tidak diperoleh dengan mudah. Di balik pembacaan teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945, tersimpan kisah penuh tekanan, perbedaan pandangan, dan keberanian luar biasa dari para tokoh bangsa, terutama Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta.

Momen paling menegangkan terjadi menjelang hari kemerdekaan. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945, muncul desakan dari kalangan pemuda agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), yang dianggap bentukan Jepang.

Tokoh seperti Sutan Sjahrir, Soebadio, dan Soebianto mendesak keras agar kemerdekaan diproklamasikan atas nama rakyat, bukan lewat PPKI.

Baca Juga: Pemenang Lomba Karya Tulis Ilmiah Santri Telah Diumumkan Kemenag, Berikut Daftar Pemenang dan Hadiahnya!

Namun, Bung Karno menolak bertindak sendiri. Ia berpendapat bahwa deklarasi kemerdekaan harus melalui PPKI sebagai forum resmi, terlebih dirinya menjabat sebagai ketua. “Aku tidak bertindak sendiri. Hak itu adalah tugas PPKI yang aku menjadi ketuanya. Alangkah janggalnya di mata orang jika aku melewati PPKI yang kuketuai,” tegas Soekarno.

Sikap itu memicu kemarahan sejumlah pemuda. Bung Hatta bahkan dituduh tidak revolusioner karena berusaha menenangkan ketegangan dan tetap berpegang pada mekanisme yang disepakati. Bung Hatta memilih diam dan tetap pada pendiriannya, menjaga keseimbangan antara tekanan pemuda dan kehati-hatian politik.

Situasi memuncak pada malam 16 Agustus 1945, ketika rumah Bung Karno dikepung pemuda. Dalam suasana panas dan desakan keras, Bung Karno dengan tenang namun tegas berkata kepada salah satu pemuda, Wikana: “Ini leherku. Setelah aku ke pojok sana, dan sudahilah nyawaku malam ini juga, jangan menunggu sampai besok!”

Baca Juga: Peluang Baru! Kemenag bersama BAZNAS dan LAZ Luncurkan B-Zakat, Ini Daftar Kampus Negeri Tujuan Beasiswa ini!

Pernyataan dramatis itu mencerminkan tekad Bung Karno untuk tidak bertindak gegabah, meski nyawanya dipertaruhkan. Ia menolak dipaksa oleh emosi dan memilih cara yang sah, terukur, dan konstitusional.

Akhirnya, pada dini hari 17 Agustus 1945, setelah melalui perundingan alot, penyusunan teks proklamasi dilakukan di rumah Laksamana Maeda. Bung Hatta mendiktekan teks yang ditulis langsung oleh Bung Karno, dan atas saran Soekarni, hanya dua orang yang menandatangani teks itu: Soekarno dan Hatta, “atas nama Bangsa Indonesia”.

Pukul 10.00 WIB, teks Proklamasi dibacakan di halaman rumah Bung Karno di Jl. Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Sang Saka Merah Putih dikibarkan dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan menandai lahirnya Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Peristiwa-peristiwa menegangkan ini menjadi bukti bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari perjuangan, keberanian moral, dan kebesaran jiwa para tokoh bangsa dalam menghadapi tekanan dari dalam maupun luar.***

 

Sumber: Modul Wawasan kebangsaan dan Nilai Bela Negara

Tags:
Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Bung Karno Tantang Nyawa Bung Hatta Dituduh Tak Revolusioner Rengasdengklok dan Teks Proklamasi

Komentar Pengguna