Keboncinta.com-- Banyak penulis pemula terhambat karena merasa ide mereka terlalu kecil. Padahal, cerpen yang kuat justru sering berangkat dari satu kalimat sederhana.
1. Mulai dari Satu Kalimat yang Mengandung Rasa atau Pertanyaan
Kalimat seperti “Ia tidak jadi pulang hari itu” atau “Seseorang meninggalkan payung di teras” sudah cukup menjadi bibit cerita. Kalimat pembuka yang memancing rasa ingin tahu adalah fondasi terbaik. Pertanyaan yang muncul — mengapa ia tidak pulang? siapa yang meninggalkan payung? — akan memicu imajinasi berkembang ke arah cerita.
2. Kembangkan Menjadi Situasi
Setelah memiliki satu kalimat, tugas berikutnya adalah membayangkan konteks: di mana peristiwa terjadi? siapa yang mengalami? bagaimana suasananya? Kalimat “Ia tidak jadi pulang hari itu” bisa berkembang menjadi drama keluarga, misteri, atau kisah persahabatan.
3. Hadirkan Konflik yang Relevan
Konflik kecil — salah paham, kehilangan barang, janji yang dilanggar — sudah bisa menggerakkan cerita. Konflik membuat pembaca ingin terus mengikuti perjalanan tokoh.
4. Tambahkan Detail yang Menguatkan
Detail memperkaya cerita tanpa harus memanjangkannya. Aroma hujan, suara kereta, atau kebiasaan tokoh dapat menghidupkan suasana. Detail yang tepat membuat pembaca merasa berada di dalam cerita, bukan sekadar membacanya.
5. Tutup dengan Makna atau Kejutan Kecil
Cerpen tidak harus memberi pesan moral yang eksplisit. Namun, akhir yang menyentuh, mengagetkan, atau menyisakan renungan sering menjadi alasan pembaca mengingat sebuah cerita.
Mengembangkan ide kecil menjadi cerpen adalah latihan melihat potensi pada hal yang tampak biasa. Dengan satu kalimat sebagai pijakan, penulis belajar merangkai situasi, konflik, dan makna.
Contributor: Tegar Bagus Pribadi