Keboncinta.com-- Kebencian, cercaan, dan penolakan adalah bagian dari perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ. Namun, yang membuat beliau begitu mulia adalah bagaimana beliau tidak pernah membalas kebencian dengan kebencian. Justru, beliau menanggapinya dengan kesabaran, doa, dan akhlak yang lembut.
Aisyah r.a. menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah membalas kezaliman pribadi. Ia berkata: “Rasulullah tidak pernah membalas dendam untuk dirinya sendiri… tetapi jika kehormatan Allah dilanggar, barulah beliau membalas.” (HR. Al-Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa bagi beliau, ego pribadi bukan sesuatu yang perlu dipertahankan. Yang utama adalah menjaga nilai kebenaran, bukan memenangkan emosi.
Salah satu contoh paling indah adalah ketika beliau mengalami luka parah pada Perang Uhud. Meski dilukai dan disakiti, beliau justru berdoa: “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui.” (HR. Al-Bukhari). Doa ini bukan hanya ungkapan kasih, tetapi juga cara beliau melihat manusia dengan pandangan rahmah (belas kasih), bukan dendam.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan untuk menghadapi kebencian dengan akhlak terbaik. Beliau bersabda: “Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada… dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi, hasan sahih). Akhlak baik bukan hanya untuk orang yang baik pada kita, tetapi bahkan untuk mereka yang membenci kita.
Ketika orang-orang Quraisy menyakiti beliau, Rasulullah ﷺ tidak memaki balik. Bahkan, ketika malaikat penjaga gunung menawarkan untuk membinasakan mereka, beliau menjawab: “Aku berharap Allah akan mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah-Nya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Begitulah Rasulullah ﷺ: menghadapi kebencian dengan doa, menghadapi cercaan dengan kesabaran, dan menghadapi permusuhan dengan harapan akan lahirnya kebaikan.
Dari teladan beliau, kita belajar bahwa menang atas kebencian bukan dengan membalas, tetapi dengan menjaga kelapangan hati, karena kasih lebih kuat dari amarah.
Contributor: Tegar Bagus Pribadi