Keboncinta.com-- Dalam kehidupan keluarga, ayah memiliki peran yang begitu penting sebagai pemimpin atau imam. Namun, menjadi imam bukan sekadar soal memimpin secara otoritatif, melainkan bagaimana seorang ayah mampu menuntun, bukan menuntut. Perbedaan dua kata ini sederhana, tetapi maknanya sangat dalam.
Menuntun berarti hadir dengan teladan, menjadi panutan dalam tindakan, ucapan, dan sikap. Seorang ayah yang menuntun tidak hanya memberi perintah, melainkan menunjukkan arah dengan kasih dan kebijaksanaan. Ia memahami bahwa setiap anggota keluarga memiliki perasaan, kebutuhan, dan cara berpikir yang unik. Dengan menuntun, ayah menanamkan nilai, bukan memaksakan kehendak.
Sebaliknya, menuntut sering kali muncul dari ego. Ketika seorang ayah hanya menekankan kewajiban tanpa memberi contoh, keluarga bisa merasa tertekan dan kehilangan makna kebersamaan. Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat, bukan sekadar dari apa yang mereka dengar. Oleh karena itu, keteladanan menjadi kunci utama dalam kepemimpinan seorang ayah.
Sebagai imam, ayah juga bertanggung jawab menciptakan suasana spiritual yang menyejukkan. Ia membimbing keluarga dalam beribadah, menjaga komunikasi yang hangat, dan menegakkan keadilan dalam rumah tangga. Kepemimpinan yang lembut namun tegas akan menumbuhkan rasa hormat, bukan ketakutan.
Menjadi imam keluarga memang bukan peran yang mudah. Diperlukan kesabaran, empati, dan keikhlasan untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Namun, ketika seorang ayah mampu menuntun keluarganya dengan cinta dan tanggung jawab, maka rumah tangga akan menjadi tempat tumbuhnya kedamaian dan keberkahan.
Menuntun berarti berjalan bersama, bukan berdiri di depan untuk memerintah. Sebab sejatinya, keluarga bukan tentang siapa yang paling berkuasa, tetapi tentang siapa yang paling mampu mencintai dan membimbing dengan hati.
Contributor: Tegar Bagus Pribadi