AI Mengubah Cara Belajar, Tapi Bisakah Menggantikan Peran Guru?

AI Mengubah Cara Belajar, Tapi Bisakah Menggantikan Peran Guru?

31 Desember 2025 | 12:02

Keboncinta.com-- Majunya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menempatkan dunia pendidikan pada persimpangan penting antara mempertahankan tradisi lama dan mengadopsi inovasi baru.

Teknologi yang mampu mengolah data dalam jumlah besar dan merespons pertanyaan secara instan ini telah mengubah wajah pembelajaran secara drastis.

Sejak era teknologi informasi berkembang, sistem pendidikan memang terus mengalami perubahan besar.

Jika dahulu guru menjadi satu-satunya sumber pengetahuan yang harus diakses melalui ruang kelas dan perjalanan panjang, kini peserta didik dapat memperoleh informasi hanya dengan sentuhan jari melalui internet.

Hadirnya AI menandai fase baru dalam evolusi pendidikan. Mesin tidak lagi sekadar menjadi penyedia data, tetapi juga mampu menghasilkan teks, materi pembelajaran, hingga solusi akademik dalam waktu singkat.

Baca Juga: Jelang Akhir Tahun, Kemenag Terapkan Kerja Fleksibel untuk ASN, Ini Aturan Lengkapnya

Perkembangan ini menawarkan kemudahan dan efisiensi, namun sekaligus memunculkan dilema besar bagi dunia pendidikan.

Di satu sisi, AI membuka akses pengetahuan yang luas dan cepat. Bahkan, sejumlah institusi pendidikan global mulai memanfaatkan AI sebagai pengajar virtual yang mampu menyampaikan materi secara terstruktur dan konsisten.

Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa teknologi ini berpotensi menggeser peran manusia dalam proses belajar-mengajar.

Kondisi tersebut mendorong pengelola pendidikan untuk menata ulang kurikulum dan metode pembelajaran agar tetap relevan di era digital.

Transformasi ini bukan semata soal penggunaan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana pendidikan tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang tidak dapat direplikasi oleh mesin.

Dalam menghadapi perubahan tersebut, konsep pendidikan berkesadaran menjadi semakin relevan. Pendekatan ini menegaskan bahwa proses belajar tidak cukup hanya berfokus pada kecerdasan kognitif dan kecepatan memperoleh jawaban.

Baca Juga: WFH Terasa Fleksibel, Tapi Kenapa Pekerjaan Justru Tak Pernah Usai? Ini Alasannya

Pendidikan berkesadaran mengedepankan refleksi, pemikiran kritis, dan pertimbangan etis—unsur yang lahir dari pengalaman dan kesadaran manusia.

AI, secanggih apa pun, bekerja berdasarkan pola dan data yang tersedia, tanpa pemahaman emosional, kebijaksanaan, maupun nilai moral sebagaimana dimiliki manusia.

Di tengah pesatnya perkembangan AI, peran pendidik justru menjadi semakin penting. Guru dan dosen tidak digantikan oleh teknologi, melainkan bertransformasi menjadi fasilitator dan mediator antara AI dan peserta didik.

Mereka berperan membimbing proses interpretasi pengetahuan, mengarahkan refleksi, serta membantu peserta didik menerapkan ilmu dalam konteks kehidupan nyata.

Tujuan utama pendidikan—mencetak manusia yang kritis, kreatif, dan bermoral—menjadi landasan agar AI berfungsi sebagai alat pendukung, bukan pengganti.

Revolusi teknologi merupakan keniscayaan, dan peran AI dalam pendidikan akan terus berkembang.

Namun, melalui pendekatan pendidikan berkesadaran, dunia pendidikan Indonesia berupaya menjaga keseimbangan antara kecerdasan mesin dan kebijaksanaan manusia.

Baca Juga: Jelang Akhir Tahun, Kemenag Terapkan Kerja Fleksibel untuk ASN, Ini Aturan Lengkapnya

Dengan begitu, kemajuan teknologi tidak menghilangkan esensi pendidikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya, melainkan memperkaya kapasitas belajar dan memperluas makna pembelajaran.***

Tags:
pendidikan kecerdasan artifisial AI Kecerdasan Buatan Guru

Komentar Pengguna