Keboncinta.com-- Dalam Islam, proses belajar bukan sekadar perpindahan ilmu, tetapi juga hubungan yang dijaga dengan adab. Baik guru maupun murid memiliki peran penting yang saling melengkapi agar ilmu menjadi berkah. Tanpa adab, ilmu yang dipelajari sering kali tidak membuahkan manfaat sebagaimana mestinya.
Adab Guru: Mengajar dengan Ikhlas dan Lemah Lembut. Seorang guru dianjurkan mengajar dengan niat yang lurus, yakni mencari ridha Allah, bukan sekadar materi atau pujian. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah, para malaikat, dan penghuni langit serta bumi bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi).
Guru juga hendaknya bersikap sabar, penuh kasih, dan menjelaskan ilmu sesuai kemampuan murid.
Adab Murid: Hormat, Tunduk, dan Bersungguh-sungguh. Murid dianjurkan menghormati guru, tidak memotong pembicaraan, dan menjaga perkataan. Dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan untuk memuliakan orang berilmu: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11). Kesungguhan dalam belajar juga termasuk adab. Murid sebaiknya datang tepat waktu, mencatat, bertanya dengan sopan, serta mengamalkan ilmu yang diperoleh.
Hubungan yang Saling Menguatkan. Adab antara guru dan murid bukan hubungan satu arah. Guru membutuhkan murid, dan murid membutuhkan bimbingan guru. Ketika keduanya menjaga adab, suasana belajar menjadi lebih mudah, lembut, dan penuh keberkahan.
Kesimpulan
Islam menempatkan adab sebagai fondasi pendidikan. Guru dihormati karena ilmunya, sementara murid dimuliakan karena kesungguhannya. Dengan menjaga adab, ilmu tidak hanya dipahami secara intelektual, tetapi juga menghiasi akhlak dan kehidupan sehari-hari.