keboncinta.com --- Iman kepada malaikat merupakan salah satu rukun iman dalam Islam. Setiap malaikat memiliki tugas khusus dari Allah SWT, salah satunya adalah Malaikat Munkar. Dalam hadis, nama Malaikat Munkar hampir selalu disebut beriringan dengan Malaikat Nakir karena keduanya memiliki peran penting di alam kubur (barzakh).
Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ أَوْ قَالَ أَحَدُكُمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ أَحَدُهُمَا الْمُنْكَرُ وَالْآخَرُ النَّكِيرُ...
“Jika salah seorang di antara kalian dikuburkan, maka akan didatangi oleh dua malaikat yang hitam kebiruan. Salah satunya bernama Munkar, dan yang lainnya bernama Nakir.” (HR. Tirmidzi no. 1071, dinilai hasan oleh Al-Albani)
📖 Penjelasan ulama: Menurut Imam Al-Qurthubi dalam At-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wal Akhirah, kedua malaikat ini disebut “fattaan al-qabr” (penguji kubur) karena mereka menguji keimanan hamba setelah kematian.
Malaikat Munkar memiliki tugas utama menanyai orang di alam kubur, terutama terkait keburukan dan dosa-dosa yang dilakukan semasa hidup.
Ia akan mendatangi mayit setelah ruh dicabut oleh Malaikat Izrail.
Pertanyaan utamanya adalah tentang keimanan kepada Allah, Nabi Muhammad SAW, dan agama Islam.
Dalam beberapa riwayat, Malaikat Munkar digambarkan sebagai sosok yang menakutkan, bahkan membawa palu besar.
Jika seorang hamba tidak mampu menjawab, ia akan mendapat siksaan di dalam kubur. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّهُ قَدْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي الْقُبُورِ قَرِيبًا مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ
“Telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan diuji di dalam kubur, mendekati fitnah (ujian) Dajjal.” (HR. Bukhari dan Muslim)
📖 Tafsir Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan, ujian kubur ini adalah bentuk keadilan Allah; orang beriman akan kokoh menjawab pertanyaan malaikat, sedangkan orang kafir dan munafik akan gagal.
Berbeda dengan Munkar, Malaikat Nakir bertugas menanyakan kebaikan hamba di alam kubur.
Malaikat Nakir digambarkan lebih ramah kepada ahli iman.
Pertanyaannya menyangkut amalan baik, seperti salat, ibadah, dan amal saleh lainnya.
Jika seseorang istiqamah di dunia, ia akan mudah menjawab pertanyaan Nakir dan mendapat kabar gembira berupa surga.
Dalilnya terdapat dalam firman Allah SWT:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat.” (QS. Ibrahim: 27)
📖 Tafsir Ibnu Katsir: Ayat ini turun berkaitan dengan pertanyaan kubur. Orang beriman akan dimudahkan menjawab dengan jawaban benar: “Rabbiya Allah, Nabi Muhammad Rasulullah, agamaku Islam.”
Meski sering disebut berpasangan, Munkar dan Nakir memiliki perbedaan dalam fokus pertanyaannya:
Malaikat Munkar: menanyai ahli kubur tentang keburukan, dosa, dan keimanan bagi mereka yang banyak berbuat salah.
Malaikat Nakir: menanyai ahli kubur tentang kebaikan, amal saleh, dan keimanan bagi mereka yang istiqamah dalam ketaatan.
Dengan demikian, Munkar lebih condong menguji orang yang lalai, sementara Nakir memberikan kabar gembira kepada orang yang beriman dan taat.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa pertanyaan kubur akan diajukan dengan bahasa yang dipahami oleh si mayit, bukan harus bahasa Arab.
Imam Nawawi menegaskan bahwa Allah memberi kemampuan kepada mayit untuk memahami pertanyaan malaikat sesuai bahasanya.
Imam Al-Qurthubi menambahkan, bahasa bukanlah penghalang, karena inti ujian adalah keimanan hati, bukan lisan semata.
Beriman kepada malaikat merupakan salah satu rukun iman yang wajib diyakini setiap Muslim. Di antara malaikat yang paling sering disebut adalah Malaikat Munkar dan Nakir, yaitu dua malaikat yang bertugas menguji manusia di alam kubur.
Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ أَوْ قَالَ أَحَدُكُمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ أَحَدُهُمَا الْمُنْكَرُ وَالْآخَرُ النَّكِيرُ…
“Jika seseorang di antara kalian telah dikuburkan, maka akan didatangi oleh dua malaikat yang hitam kebiruan. Salah satunya bernama Munkar dan yang lainnya Nakir…” (HR. Tirmidzi no. 1071, dinilai hasan oleh Al-Albani)
Hadis ini menegaskan bahwa setelah manusia dikubur dan ditinggalkan oleh para pengantar, dua malaikat ini segera mendatanginya untuk menanyakan pokok keimanan.
Menurut hadis sahih dari Al-Barra’ bin Azib, pertanyaan utama yang diajukan di alam kubur ada tiga pokok:
مَنْ رَبُّكَ؟ – Man rabbuka? → Siapa Tuhanmu?
مَا دِينُكَ؟ – Ma dinuka? → Apa agamamu?
مَنْ نَبِيُّكَ؟ – Man nabiyyuka? → Siapa Nabimu?
Namun, menurut penjelasan Syekh Nawawi al-Bantani dalam Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, pertanyaan ini dapat bertambah hingga menjadi enam hingga delapan pertanyaan, antara lain:
مَا كِتَابُكَ؟ – Apa kitabmu?
أَيْنَ قِبْلَتُكَ؟ – Di mana kiblatmu?
مَنْ إِخْوَانُكَ؟ – Siapa saudaramu?
مَا إِمَامُكَ؟ – Apa pedoman hidupmu?
مَا عَمَلُكَ؟ – Apa amalmu semasa hidup?
📖 Tafsir QS. Ibrahim: 27
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh di kehidupan dunia dan akhirat.”
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini merujuk pada kemudahan orang beriman dalam menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir.
Menariknya, Imam Nawawi al-Bantani menegaskan bahwa Munkar dan Nakir akan menggunakan bahasa sehari-hari si mayit ketika di dunia. Jadi, orang Arab akan ditanya dalam bahasa Arab, orang Indonesia dengan bahasa Indonesia, begitu juga dengan yang lain.
Artinya, ujian ini bukan soal kemampuan bahasa, melainkan keyakinan hati dan iman yang tertanam.
Bayangkan percakapan seorang mukmin yang mendapat taufik dari Allah:
Malaikat: “Man rabbuka? Siapa Tuhanmu?”
Mayit beriman: “Rabbiya Allah – Tuhanku adalah Allah.”
Malaikat: “Ma dinuka? Apa agamamu?”
Mayit beriman: “Dinil Islam – Agamaku adalah Islam.”
Malaikat: “Man nabiyyuka? Siapa nabimu?”
Mayit beriman: “Nabiyyi Muhammad SAW – Nabiku adalah Muhammad SAW.”
Sebaliknya, orang kafir dan munafik akan panik.
Malaikat: “Man rabbuka? Siapa Tuhanmu?”
Mayit kafir/munafik: “Aku… aku tidak tahu…”
Maka, kuburnya akan dipenuhi kesempitan dan siksaan.
1.