KEBONCINTA.COM – Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN berhasil meraih Juara 1 Biru Voices: Clean Air Policy Competition 2026 setelah menawarkan gagasan kebijakan fiskal untuk memperkuat pengendalian polusi udara di kawasan Jabodetabek.
Tim bernama Duarr dari PKN STAN menjadi yang terbaik dengan policy brief berjudul “Dual Track Decarbonization: Menata Insentif dan Disinsentif Pengendalian Polusi Udara di Jabodetabek”.
Hasil kompetisi diberitakan ANTARA pada Sabtu, 5 September 2026 setelah presentasi final berlangsung di Gedung Grha Ali Sadikin, Kompleks Balai Kota Provinsi DKI Jakarta pada Kamis, 3 September.
Sebanyak 10 tim mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi berhasil mencapai babak final dan mempresentasikan rekomendasi kebijakan di hadapan dewan juri.
Tim PKN STAN memilih melihat persoalan pencemaran udara dari sisi kebijakan fiskal.
Mereka menilai pengendalian polusi selama ini tidak cukup apabila hanya mengandalkan regulasi tanpa mekanisme insentif, disinsentif serta pembiayaan yang mendukung perubahan perilaku pelaku ekonomi.
Melalui konsep dual track decarbonization, mahasiswa mengusulkan kombinasi antara pemberian insentif kepada aktivitas yang membantu mengurangi emisi dan disinsentif terhadap kegiatan yang menghasilkan pencemaran lebih besar.
Pendekatan tersebut diarahkan untuk memperkuat pengendalian emisi di Jabodetabek.
Kawasan tersebut merupakan wilayah dengan aktivitas transportasi, industri dan penduduk yang sangat tinggi.
Persoalan kualitas udara kemudian tidak dapat ditangani hanya oleh satu pemerintah daerah.
Jakarta terhubung langsung dengan Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi dalam aktivitas masyarakat setiap hari.
Emisi yang dihasilkan di satu wilayah juga dapat memberikan dampak kepada wilayah lainnya.
Karena itu, kebijakan pengendalian udara membutuhkan koordinasi sekaligus instrumen yang mampu memengaruhi perilaku pelaku usaha dan masyarakat.
Latar belakang pendidikan mahasiswa PKN STAN membuat gagasan fiskal menjadi menarik.
Perguruan tinggi tersebut memang berfokus pada bidang keuangan negara.
Mahasiswa kemudian mencoba menerjemahkan ilmu yang mereka pelajari menjadi solusi untuk persoalan lingkungan.
Kebijakan fiskal tidak hanya berfungsi mengumpulkan penerimaan negara.
Pajak, insentif maupun pembiayaan dapat digunakan untuk mendorong aktivitas tertentu dan mengurangi aktivitas yang menghasilkan dampak negatif.
Konsep semacam itu telah digunakan di berbagai negara untuk mendukung transisi energi dan pengurangan emisi.
Namun penerapan di Indonesia harus mempertimbangkan kondisi ekonomi, kemampuan pemerintah serta dampak terhadap masyarakat.
Karena itu, sebuah policy brief harus menjelaskan tidak hanya gagasan, tetapi juga dasar data, mekanisme pelaksanaan dan kemungkinan dampaknya.
Tim mahasiswa harus mampu menyampaikan rekomendasi tersebut secara ringkas dan dapat dipahami pengambil kebijakan.
Juara kedua kompetisi diraih Tim APPA dari Institut Teknologi Bandung.
Tim ITB membawa rekomendasi berjudul “Pengendalian Emisi Industri Berbasis Data dan Penataan Ruang di Cekungan Bandung”.
Gagasan tersebut melihat karakter geografis Cekungan Bandung sebagai faktor penting dalam persoalan kualitas udara.
Polutan dari aktivitas industri dapat terakumulasi dalam kawasan karena kondisi topografi.
Mahasiswa kemudian mengusulkan pendekatan berbasis data serta penataan ruang untuk membantu mengendalikan emisi industri.
Dua tim terbaik tersebut menunjukkan persoalan udara dapat dianalisis dari perspektif berbeda.
PKN STAN menggunakan pendekatan fiskal dan pembiayaan.
Sementara ITB menyoroti industri, data dan tata ruang.
Kompetisi sejak awal memang dirancang agar mahasiswa dari berbagai jurusan dapat berpartisipasi.
Program terbuka untuk mahasiswa aktif jenjang D3, D4 dan S1 dari perguruan tinggi di Indonesia.
Penyelenggara sebelumnya menyediakan empat kelompok tema.
Tema tersebut mencakup instrumen fiskal dan pembiayaan pengendalian polusi, reformasi tata kelola dan koordinasi kelembagaan, intervensi kebijakan terhadap sumber emisi, serta kebijakan kesehatan publik dan perlindungan kelompok rentan.
Peserta diminta menyusun policy brief berbasis data.
Mereka tidak hanya diminta menjelaskan bahwa polusi merupakan masalah.
Peserta harus menawarkan langkah yang dapat diterapkan sebagai kebijakan.
Proses tersebut menjadi latihan penting bagi mahasiswa.
Di perguruan tinggi, mahasiswa sering mempelajari konsep dan teori.
Melalui kompetisi kebijakan, pengetahuan tersebut harus diterjemahkan menjadi rekomendasi yang dapat digunakan untuk menghadapi persoalan nyata.
Akademisi Universitas Indonesia Julian Aldrin Pasha yang menjadi salah satu juri menilai proses semacam ini dapat membentuk generasi muda sebagai advokat udara bersih.
Menurutnya, mahasiswa mampu menggabungkan gagasan dan presentasi untuk mengangkat perhatian publik serta menawarkan penyelesaian dalam bentuk policy brief.
Dewan juri kompetisi berasal dari berbagai latar belakang.
Di antaranya Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Wibi Andrino, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika DKI Jakarta Marulina Dewi, akademisi Universitas Indonesia Julian Aldrin Pasha, perwakilan KADIN, Georgetown SFS Asia Pacific, Jakarta Property Institute serta Yayasan Bakti Barito.
Komposisi tersebut membuat mahasiswa harus mempresentasikan gagasan kepada orang yang melihat persoalan dari perspektif pemerintah, akademik, usaha maupun organisasi masyarakat.
Direktur Yayasan Bakti Barito Dian A. Purbasari menilai pendekatan analitis mahasiswa membuktikan bahwa generasi muda dapat menjadi inovator dalam mencari solusi udara bersih.
Penyelenggara Biru Voices sebelumnya menyebut kompetisi menyediakan total hadiah Rp30 juta.
Selain hadiah, finalis memperoleh rangkaian pengembangan kapasitas, mentoring bersama praktisi kebijakan, serta peluang terlibat dalam program Biru Voices Ambassadors 2026.
Tahapan kompetisi telah berlangsung sejak Juni.
Pendaftaran dan pengumpulan karya dibuka pada 19 Juni hingga 24 Juli 2026.
Finalis diumumkan pada Agustus sebelum menjalani mentoring dan presentasi akhir pada 3 September.
Proses panjang tersebut membuat keberhasilan tim PKN STAN bukan hanya ditentukan penampilan saat final.
Policy brief telah melewati seleksi substansi sebelum dapat dipresentasikan di Balai Kota DKI Jakarta.
Bagi mahasiswa, kompetisi semacam ini juga menunjukkan bahwa kontribusi terhadap persoalan publik tidak harus menunggu setelah lulus.
Mahasiswa dapat menggunakan ilmu dari kampus untuk menghasilkan alternatif kebijakan yang kemudian dibaca dan didiskusikan pemangku kepentingan.
Polusi udara merupakan persoalan yang memengaruhi kesehatan jutaan masyarakat sehingga membutuhkan kontribusi lintas disiplin.
Ekonomi dan keuangan dapat memberikan pendekatan fiskal.
Teknik dan lingkungan dapat menawarkan teknologi maupun pengendalian sumber emisi.
Ilmu kesehatan dapat menilai dampak terhadap masyarakat.
Sementara ilmu pemerintahan dan kebijakan publik dapat membantu merancang sistem koordinasi.
Kemenangan Tim Duarr dari PKN STAN dan posisi kedua Tim APPA ITB menunjukkan ruang kolaborasi tersebut.
Gagasan mahasiswa tidak berhenti sebagai tugas kelas, tetapi dibawa ke forum yang mempertemukan mereka dengan pembuat kebijakan dan praktisi.
Tantangan berikutnya adalah apakah rekomendasi yang dihasilkan dapat dikembangkan lebih jauh atau menjadi bahan pertimbangan kebijakan.
Namun dari sisi pendidikan, proses tersebut sudah memberikan pengalaman penting.
Mahasiswa belajar menggunakan data, menyusun argumentasi, memberikan solusi serta mempertahankan gagasannya di depan publik.
Kemampuan tersebut akan tetap relevan ketika mereka memasuki dunia profesional setelah lulus.