Berita
Hilmi An Naufal

Pelajar Aceh Timur Raih Beasiswa Penuh ke Tiongkok, Shilva Zohra Jalani Program 1 Tahun Bahasa dan 4 Tahun S1

Pelajar Aceh Timur Raih Beasiswa Penuh ke Tiongkok, Shilva Zohra Jalani Program 1 Tahun Bahasa dan 4 Tahun S1

06 September 2026 | 07:18

KEBONCINTA.COM – Kesempatan menempuh pendidikan internasional berhasil diraih Shilva Zohra, generasi muda asal Julok Tunong, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur.

Shilva mendapatkan Letter of Acceptance atau LoA sekaligus beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan di Hefei Normal University, Tiongkok.

Keberhasilan tersebut menjadi perhatian setelah diberitakan pada Minggu, 6 September 2026.

Shilva menempuh pendidikan di SMA Unggul Cut Nyak Dhien Langsa dan berasal dari keluarga yang tinggal di Julok Tunong.

Ia berhasil mendapatkan kesempatan kuliah melalui proses seleksi yang dijalani secara mandiri.

Perjalanannya menuju kampus di Tiongkok tidak berlangsung secara instan.

Berbagai dokumen dan tahapan pengajuan harus disiapkan sebelum akhirnya Shilva memperoleh LoA dan dinyatakan mendapatkan full scholarship.

Hefei Normal University merupakan perguruan tinggi negeri yang berada di Kota Hefei, Provinsi Anhui, Tiongkok.

Shilva akan mengikuti skema Predegree 1+4 pada tahun akademik 2026/2027.

Program tersebut mempunyai dua tahapan utama.

Pada tahun pertama, peserta menjalani masa persiapan sebelum memasuki program Sarjana.

Salah satu bagian penting dalam masa persiapan adalah pembelajaran bahasa Mandarin secara intensif.

Setelah menyelesaikan tahap tersebut sesuai ketentuan, peserta melanjutkan pendidikan strata satu selama empat tahun.

Dengan demikian, keseluruhan jalur pendidikan yang dipersiapkan Shilva berlangsung sekitar lima tahun apabila seluruh tahap diselesaikan sesuai rencana.

Pembelajaran bahasa menjadi komponen penting karena mahasiswa internasional harus mampu beradaptasi dengan lingkungan akademik maupun kehidupan sehari-hari di negara tujuan.

Bahasa tidak hanya diperlukan ketika mengikuti kuliah.

Mahasiswa juga membutuhkannya saat melakukan kegiatan administrasi, berinteraksi dengan masyarakat dan berkomunikasi dengan rekan mahasiswa.

Penguasaan bahasa asing tersebut sekaligus dapat menjadi kompetensi tambahan setelah menyelesaikan pendidikan.

Prestasi Shilva menarik perhatian karena ia berasal dari wilayah desa di Aceh Timur namun mampu menembus seleksi pendidikan internasional.

Pencapaian itu menunjukkan bahwa akses informasi dan keberanian mencari peluang dapat membuka kesempatan bagi pelajar dari berbagai daerah.

Lokasi tempat tinggal tidak harus menjadi batas bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Namun keberhasilan mendapatkan beasiswa membutuhkan persiapan.

Calon mahasiswa harus memahami persyaratan program, menyiapkan dokumen pendidikan, mengurus administrasi dan mengikuti proses seleksi.

Dalam kasus Shilva, proses tersebut dijalani dengan usaha dan persiapan yang dilakukan secara mandiri.

Ibunda Shilva, Zahara, mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan yang berhasil diperoleh putrinya.

Keluarga menilai pencapaian tersebut merupakan hasil dari kerja keras selama mengikuti proses menuju pendidikan internasional.

Meski telah memperoleh beasiswa penuh, keluarga menyebut masih terdapat berbagai persiapan yang perlu dilakukan sebelum Shilva benar-benar memulai studi.

Hal tersebut menjadi pengingat bahwa istilah beasiswa penuh tidak selalu berarti seluruh kebutuhan sebelum keberangkatan otomatis selesai.

ANTARA tidak merinci satu per satu komponen yang ditanggung beasiswa Shilva.

Karena itu, informasi mengenai tiket, biaya persiapan, asuransi maupun kebutuhan lainnya tidak sebaiknya diasumsikan tanpa dokumen resmi program.

Yang telah dikonfirmasi adalah Shilva memperoleh LoA dan full scholarship dari jalur pendidikan yang akan diikutinya.

Ia juga telah mendapatkan pemanggilan dari Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok di Jakarta sebagai bagian dari proses menuju pendidikan di negara tersebut.

Kepala SMA Unggul Cut Nyak Dhien Langsa Muhammad Rizky menyebut keberhasilan Shilva menjadi bukti bahwa pelajar Aceh mempunyai kemampuan untuk bersaing pada tingkat internasional.

Sekolah selama ini mendorong penguatan kemampuan bahasa asing agar siswa lebih berani membuka kesempatan pendidikan di luar negeri.

Kemampuan bahasa memang menjadi salah satu modal penting bagi siswa yang mempunyai target studi internasional.

Selain bahasa negara tujuan, banyak program juga meminta kemampuan Bahasa Inggris sebagai bagian dari proses penerimaan.

Namun persiapan tidak hanya berkaitan dengan bahasa.

Prestasi akademik, kegiatan siswa, kemampuan menulis dokumen aplikasi serta kesiapan mengikuti wawancara dapat menjadi bagian dari persyaratan berbagai program.

Setiap beasiswa mempunyai ketentuan yang berbeda.

Karena itu, siswa tidak dapat menggunakan satu daftar persyaratan untuk seluruh program.

Mereka harus memeriksa ketentuan universitas dan penyelenggara beasiswa yang dituju.

Pencapaian Shilva juga mendapat apresiasi dari pemerintah kecamatan.

Camat Julok Muhammad mengatakan keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan bagi masyarakat setempat sekaligus motivasi bagi generasi muda lainnya.

Pesan yang muncul dari pencapaian itu adalah anak dari daerah mempunyai peluang yang sama untuk mengejar pendidikan internasional selama mempunyai kemampuan dan keberanian mempersiapkan diri.

Di era digital, informasi mengenai universitas dan beasiswa memang semakin mudah ditemukan.

Namun kemudahan tersebut juga mempunyai risiko.

Banyak informasi palsu maupun pihak yang menjanjikan beasiswa dengan meminta pembayaran tertentu.

Pelajar perlu memastikan program yang diikuti berasal dari universitas, pemerintah atau lembaga yang dapat diverifikasi.

Dokumen pribadi seperti paspor, identitas dan data akademik juga harus dikirim melalui sistem resmi.

Siswa tidak sebaiknya mudah menyerahkan dokumen kepada pihak tidak dikenal melalui pesan pribadi.

Kisah Shilva menunjukkan proses pencarian beasiswa dapat dimulai ketika siswa masih berada pada jenjang sekolah menengah.

Mereka dapat mulai menentukan negara dan bidang yang diminati.

Setelah itu siswa dapat mempelajari persyaratan akademik, bahasa serta jadwal pendaftaran.

Persiapan yang dilakukan lebih awal memberikan waktu untuk memperbaiki kemampuan yang masih kurang.

Apabila program membutuhkan sertifikat bahasa, siswa mempunyai waktu belajar dan mengikuti tes.

Jika seleksi mempertimbangkan prestasi, siswa dapat mulai membangun rekam jejak melalui kompetisi maupun aktivitas sekolah.

Guru dan sekolah juga mempunyai peranan besar.

Sekolah dapat membantu siswa memperoleh informasi, membuat surat rekomendasi dan mempersiapkan kemampuan bahasa.

Pada saat yang sama, siswa tetap perlu aktif mencari peluang karena jumlah beasiswa luar negeri sangat banyak dan waktu pendaftarannya berbeda.

Shilva kini memasuki tahapan baru setelah memperoleh LoA dan beasiswa penuh.

Tantangan berikutnya adalah mempersiapkan keberangkatan, beradaptasi dengan kehidupan di Tiongkok dan menyelesaikan program Predegree sebelum memasuki jenjang Sarjana.

Satu tahun pertama akan menjadi fase penting untuk membangun kemampuan bahasa dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Setelah itu, perjalanan akademiknya masih berlanjut selama empat tahun.

Pencapaian tersebut dapat menjadi inspirasi bagi siswa lain di Aceh maupun daerah lain di Indonesia.

Kesempatan kuliah ke luar negeri memang membutuhkan kerja keras, tetapi tidak hanya terbuka bagi siswa yang tinggal di kota besar.

Dengan informasi yang benar, persiapan akademik dan keberanian mengikuti seleksi, pelajar dari daerah juga dapat memperoleh kesempatan pendidikan di tingkat internasional.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna