Berita
Hilmi An Naufal

BINUS Resmi Luncurkan Program Artificial Intelligence di Bekasi, Indonesia Masih Kekurangan 3 Juta Talenta Digital

BINUS Resmi Luncurkan Program Artificial Intelligence di Bekasi, Indonesia Masih Kekurangan 3 Juta Talenta Digital

06 September 2026 | 06:15

 

KEBONCINTA.COM – BINUS University resmi meluncurkan Program Artificial Intelligence di BINUS @Bekasi pada Sabtu, 5 September 2026 sebagai bagian dari upaya memperluas pendidikan kecerdasan buatan sekaligus menjawab kebutuhan talenta digital Indonesia.

Program tersebut diarahkan bukan hanya untuk menghasilkan mahasiswa yang mampu menggunakan berbagai alat AI.

Pembelajaran juga dirancang agar lulusan memahami bagaimana teknologi dikembangkan, dievaluasi dan diterapkan untuk menyelesaikan persoalan di dunia industri maupun masyarakat.

Langkah tersebut menjadi semakin relevan ketika kecerdasan buatan mulai digunakan dalam berbagai bidang pekerjaan.

AI kini tidak lagi terbatas pada perusahaan teknologi.

Sistem berbasis kecerdasan buatan telah digunakan dalam bisnis, manufaktur, layanan, keuangan, kesehatan, komunikasi maupun berbagai sektor lainnya.

Perubahan tersebut membuat kebutuhan tenaga kerja juga ikut bergeser.

Perusahaan tidak hanya mencari orang yang mampu menulis program atau mengoperasikan sebuah aplikasi.

Kemampuan memahami persoalan bisnis, menganalisis data, melakukan kolaborasi serta menentukan bagaimana AI digunakan secara tepat semakin dibutuhkan.

Senior Data Scientist & AI Consultant Lintasarta Cloudeka Nicholas Dominic mengatakan AI mulai bergeser dari sekadar alat bantu menjadi bagian dari proses kerja.

Kondisi tersebut membuat talenta yang dibutuhkan industri juga berubah.

Seseorang dapat mempunyai keterampilan teknis sangat baik.

Namun apabila tidak mampu memahami masalah yang sedang diselesaikan, teknologi yang dikembangkan belum tentu memberikan manfaat nyata.

Karena itu, kemampuan teknis perlu berjalan bersama berpikir kritis dan pemahaman terhadap konteks.

ANTARA mengutip Microsoft Work Trend Index 2026 yang menunjukkan 33 persen pekerja di Indonesia telah masuk kategori pengguna AI tingkat lanjut.

Angka tersebut disebut lebih dari dua kali rata-rata global sebesar 16 persen.

Survei yang sama mencatat 62 persen responden di Indonesia menilai kemampuan berpikir kritis semakin penting pada era AI.

Kemudian 60 persen responden menilai kemampuan melakukan kontrol kualitas terhadap hasil AI menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan.

Data tersebut memperlihatkan paradoks menarik.

Semakin canggih teknologi, manusia justru membutuhkan kemampuan lebih baik untuk menilai hasil teknologi.

AI dapat menghasilkan teks, kode, analisis maupun berbagai jenis informasi secara cepat.

Namun hasil yang cepat tidak selalu berarti benar.

Pengguna masih harus memeriksa apakah informasi akurat, relevan dan sesuai tujuan.

Kemampuan inilah yang ingin diperkuat melalui pendidikan tinggi.

Dekan School of Computer Science BINUS University Prof. Derwin Suhartono menilai pertanyaan utama saat ini bukan lagi apakah AI akan menggantikan manusia.

Pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah generasi muda telah mempunyai kompetensi untuk bekerja berdampingan dengan AI.

Cara pandang tersebut penting karena perubahan teknologi sering menimbulkan kekhawatiran mengenai hilangnya pekerjaan.

Otomatisasi memang dapat menggantikan sebagian aktivitas yang bersifat rutin.

Namun pada saat yang sama, teknologi juga menciptakan kebutuhan terhadap jenis keahlian baru.

Profesi seperti AI Engineer, Machine Learning Engineer, Data Scientist maupun AI Consultant membutuhkan tenaga dengan fondasi teknis yang kuat.

Di luar profesi tersebut, kemampuan memahami AI mulai diperlukan pada pekerjaan yang sebelumnya tidak dianggap sebagai bidang teknologi.

Seseorang yang bekerja di bisnis misalnya perlu memahami bagaimana AI dapat digunakan untuk membantu analisis.

Tenaga di industri kreatif mulai berhadapan dengan sistem generatif.

Sementara bidang pendidikan juga mulai memanfaatkan AI untuk mendukung proses pembelajaran.

Karena itu, literasi AI mempunyai kemungkinan berkembang menjadi salah satu kemampuan dasar pada masa depan.

Pemerintah sendiri memproyeksikan kebutuhan talenta digital Indonesia cukup besar.

Kementerian Komunikasi dan Digital memperkirakan Indonesia membutuhkan sekitar 12 juta talenta digital pada 2030.

Namun masih terdapat kesenjangan sekitar tiga juta talenta yang harus dipenuhi.

Angka tersebut menjadi salah satu tantangan besar dalam transformasi ekonomi digital.

Indonesia mempunyai populasi muda yang besar.

Namun jumlah penduduk saja tidak otomatis menghasilkan tenaga digital yang siap bekerja.

Pendidikan dan pelatihan diperlukan agar kemampuan lulusan sesuai kebutuhan industri.

Perguruan tinggi mempunyai posisi strategis dalam proses tersebut.

Kampus perlu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan fondasi akademik.

Mahasiswa tidak cukup hanya belajar menggunakan alat yang sedang populer.

Teknologi dapat berubah sangat cepat dan sebuah aplikasi yang dominan hari ini belum tentu tetap sama empat tahun mendatang.

Karena itu, pemahaman mengenai konsep dasar menjadi penting.

Program Artificial Intelligence BINUS dirancang dengan fondasi matematika, data science, machine learning, computer vision, natural language processing, Internet of Things hingga robotics.

Selain kemampuan teknis, mahasiswa juga dibekali pembelajaran mengenai etika, komunikasi serta aspek bisnis.

Pendekatan multidisiplin diperlukan karena persoalan AI bukan hanya tentang bagaimana sistem dibuat.

Penggunaannya dapat menimbulkan persoalan privasi, bias, keamanan dan tanggung jawab.

Seorang pengembang harus mempertimbangkan dampak teknologi terhadap orang yang menggunakannya.

Kesalahan pada sebuah model dapat menghasilkan keputusan yang merugikan.

Karena itu, penggunaan AI secara etis menjadi bagian penting dalam pendidikan.

Program di BINUS @Bekasi juga mempunyai konteks khusus karena Bekasi merupakan wilayah dengan ekosistem industri, bisnis, layanan dan teknologi yang berkembang.

Direktur Kampus BINUS @Bekasi Prof. Gatot Soepriyanto mengatakan pendidikan AI di wilayah tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teknologi.

Mahasiswa diarahkan untuk menerjemahkan pengetahuan menjadi solusi yang mempunyai nilai bagi industri, bisnis dan masyarakat.

Kedekatan dengan dunia industri dapat memberikan peluang pembelajaran yang lebih kontekstual.

Mahasiswa dapat memahami persoalan nyata yang dihadapi perusahaan.

Kemudian mereka belajar merancang teknologi yang benar-benar mempunyai kegunaan.

Kolaborasi dengan industri juga penting agar perguruan tinggi mengetahui perubahan kebutuhan tenaga kerja.

Jika kurikulum tidak mengikuti perkembangan, lulusan berisiko mempunyai keterampilan yang tidak lagi sesuai ketika mereka memasuki dunia profesional.

Namun hubungan pendidikan dan industri juga tidak berarti kampus hanya berfungsi sebagai tempat mencetak pekerja.

Perguruan tinggi tetap mempunyai peranan mengembangkan penelitian, berpikir kritis dan inovasi.

Mahasiswa perlu memiliki kemampuan menciptakan teknologi baru, bukan hanya menggunakan sistem yang sudah tersedia.

Riset AI dapat menghasilkan solusi pada banyak persoalan Indonesia.

Pertanian, transportasi, pelayanan publik, kesehatan maupun mitigasi bencana merupakan beberapa contoh bidang yang dapat memperoleh manfaat dari analisis data dan otomatisasi.

Namun kualitas solusi tetap bergantung pada kemampuan manusia memahami permasalahannya.

Itulah sebabnya BINUS menekankan hubungan antara teknologi, bisnis dan masyarakat.

Peluncuran Program Artificial Intelligence di Bekasi menjadi bagian dari perluasan program AI BINUS ke sejumlah kampus.

Sebelumnya program telah tersedia di Kemanggisan dan Alam Sutera, kemudian diperluas ke Bekasi, Bandung, Malang dan Semarang.

Langkah tersebut bertujuan memperluas akses pendidikan AI agar calon mahasiswa dari lebih banyak daerah dapat memperoleh pilihan belajar di bidang tersebut.

Namun keberhasilan program nantinya tidak hanya dapat diukur dari banyaknya mahasiswa yang masuk.

Hal yang lebih penting adalah apakah lulusan benar-benar mempunyai kompetensi yang dapat menjawab kebutuhan industri dan masyarakat.

Kesenjangan sekitar tiga juta talenta digital menunjukkan kebutuhan Indonesia masih besar.

Perguruan tinggi, industri dan pemerintah perlu bekerja bersama untuk memperkecil jarak tersebut.

Bagi calon mahasiswa, perkembangan ini juga menjadi pengingat ketika memilih bidang studi.

Jurusan AI memang mempunyai prospek besar, tetapi membutuhkan fondasi belajar yang serius.

Mahasiswa harus siap mempelajari matematika, komputasi, data serta logika sekaligus terus mengikuti perkembangan teknologi yang cepat.

Kemampuan belajar sepanjang hayat akan menjadi sangat penting.

Teknologi AI yang dipelajari pada tahun pertama dapat berkembang jauh ketika seorang mahasiswa lulus beberapa tahun kemudian.

Karena itu, tujuan pendidikan bukan sekadar menguasai sebuah tools.

Mahasiswa harus mempunyai kemampuan memahami konsep, belajar teknologi baru dan mengevaluasi hasilnya secara kritis.

Dengan peluncuran program di BINUS @Bekasi pada 5 September 2026, semakin banyak calon mahasiswa memperoleh pilihan pendidikan khusus kecerdasan buatan.

Tantangan berikutnya adalah memastikan pendidikan tersebut menghasilkan generasi yang bukan hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami bagaimana membangun dan menggunakannya secara bertanggung jawab untuk memberikan dampak nyata.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna