keboncinta.com-- Pernahkah Anda merasa semakin dilarang, anak justru semakin sengaja melakukannya? Saat kita berteriak, "Jangan lari!", anak malah melesat lebih cepat. Saat kita bilang, "Jangan tumpah!", air justru membanjiri meja.
Fenomena ini bukan sekadar bentuk pembangkangan, melainkan cara kerja otak anak. Secara psikologis, otak anak (terutama balita) lebih sulit memproses kata negasi seperti "jangan" atau "tidak". Saat mendengar "Jangan lari", otak mereka justru menangkap visualisasi "lari" terlebih dahulu sebelum mencoba memproses instruksi pembatalannya.
Mengapa Kata "Jangan" Kurang Efektif?
Menggunakan kata larangan secara terus-menerus memiliki beberapa dampak negatif bagi tumbuh kembang anak:
Memicu Power Struggle: Anak merasa otoritasnya ditekan, sehingga muncul keinginan untuk melawan.
Membatasi Inisiatif: Terlalu banyak larangan membuat anak takut bereksplorasi karena khawatir berbuat salah.
Bingung Instruksi: Kata "jangan" hanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan, tanpa memberikan solusi apa yang seharusnya dilakukan.
Ubah Instruksi: Dari Larangan Menjadi Arahan
Kunci agar anak lebih penurut adalah dengan menggunakan Kalimat Perintah Positif. Tujuannya adalah memberikan gambaran perilaku yang kita inginkan secara jelas.
Berikut adalah beberapa contoh perubahan kalimat yang bisa Anda praktikkan mulai hari ini:
|
Situasi |
Daripada Bilang... |
Coba Ganti dengan... |
|
Anak berlarian di dalam rumah |
"Jangan lari-lari!" |
"Yuk, pakai kaki jalan saja." |
|
Anak berteriak |
"Jangan berisik!" |
"Gunakan suara pelan/suara dalam ruangan, ya." |
|
Anak memanjat meja |
"Jangan naik ke meja!" |
"Kaki di lantai saja, Sayang." |
|
Anak mencoret dinding |
"Jangan coret-coret tembok!" |
"Coret-coretnya di kertas ini, yuk." |
|
Anak berebut mainan |
"Jangan rebutan!" |
"Mainnya gantian ya, tunggu kakak selesai." |
Tips Agar Kalimat Positif Lebih Ampuh
Agar transisi komunikasi ini berhasil, Ayah dan Bunda bisa menerapkan tiga tips tambahan berikut:
Mengganti kata "jangan" membutuhkan kesabaran dan latihan dari orang tua. Namun, dengan mengubah pola komunikasi menjadi lebih positif, kita tidak hanya membuat anak lebih kooperatif, tetapi juga membangun hubungan yang didasari oleh pengertian, bukan rasa takut.
Mari mulai fokus pada perilaku baik yang ingin kita lihat, bukan hanya pada kesalahan yang ingin kita cegah.