Salah satu kisah penuh kasih dari Nabi Muhammad ﷺ adalah ketika beliau menyapa seorang anak kecil yang kehilangan burung kesayangannya. Nabi ﷺ berkata: “Ya Aba Umair, apa yang terjadi dengan Nughair (burung pipitmu)?” Kisah sederhana ini menggambarkan betapa besar perhatian beliau bahkan pada hal-hal kecil yang menyentuh hati seorang anak.
Beliau menolak bersikap keras pada anak-anak dan justru mencontohkan kelembutan. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّۭا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنْفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ
(QS. Ali Imran: 159)
“Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu.”
Di zaman modern, anak-anak tumbuh dengan akses informasi yang melimpah, baik benar maupun menyesatkan. Karena itu, orang tua perlu membimbing anak agar kritis, sekaligus menjaga kecintaan mereka pada Nabi ﷺ.
Ibnu Abbas ra. pernah ditanya dari mana beliau memperoleh ilmunya. Beliau menjawab: “Dengan lisan yang banyak bertanya dan hati yang paham.” Jawaban ini menunjukkan pentingnya menggabungkan rasa ingin tahu (bertanya) dan kemampuan memahami.
Namun, pertanyaan tanpa usaha memahami hanya melahirkan keraguan. Di sinilah peran orang tua: menjadikan rasa ingin tahu anak sebagai jalan menuju pengetahuan yang benar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
(HR. Bukhari, no. 5027)
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Mengajarkan Nabi kepada anak bukan sekadar lewat cerita, tetapi juga lewat contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari: sikap sabar, kasih sayang, dan kejujuran.
Teknologi bisa menjadi sarana pendukung—melalui buku interaktif, aplikasi Islami, atau video edukatif—namun yang paling utama adalah keteladanan orang tua.
Nabi ﷺ mencontohkan cara mendidik anak dengan kelembutan. Umar bin Abu Salamah berkata:
“Aku dulu anak kecil di bawah asuhan Rasulullah ﷺ, dan tanganku menjelajahi piring. Beliau bersabda: ‘Wahai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari apa yang ada di hadapanmu.’” (HR. Bukhari no. 5376, Muslim no. 2022)
Koreksi sederhana ini bukan hanya mendidik adab makan, tapi juga menjaga kehormatan anak.
Banyak riwayat menunjukkan kelembutan beliau:
Beliau memangku cucunya Hasan dan Husain, lalu menciumnya. Saat Al-Aqra’ bin Habis berkata, “Aku punya sepuluh anak dan tidak pernah mencium satu pun dari mereka,” Nabi ﷺ menjawab:
مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
(HR. Bukhari no. 5997, Muslim no. 2318)
“Siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.”
Beliau memendekkan shalat ketika mendengar bayi menangis, agar tidak memberatkan ibunya.
Beliau shalat sambil menggendong cucu, mengangkatnya saat berdiri dan meletakkannya saat sujud.
Semua ini menunjukkan bahwa kasih sayang kepada anak adalah ibadah dan sunnah.
Anak-anak paling memahami bahasa cinta.