Keboncinta.com-- Manusia merupakan makhluk dengan akal, emosi, dan kemampuan berpikir yang membedakannya dari makhluk lain. Dalam perjalanan hidupnya, salah satu pengalaman paling universal yang dialami setiap orang adalah perasaan jatuh cinta.
Meski sering dianggap sebagai hal yang romantis dan penuh keindahan, ternyata ada proses biologis dan kimiawi yang jauh lebih kompleks yang terjadi di balik perasaan tersebut.
Penelitian yang dilakukan di Italia memberikan gambaran menarik tentang perubahan hormon yang muncul ketika seseorang jatuh cinta. Pada pria, kadar hormon testosteron yang berperan dalam fungsi reproduksi—justru menurun dari kadar normalnya.
Sebaliknya, pada perempuan, hormon testosteron justru meningkat. Pergeseran hormon ini menunjukkan bahwa jatuh cinta bukan hanya persoalan perasaan, tetapi juga respon tubuh yang nyata dan dapat diukur.
Saat seseorang mulai menyukai atau merasa terikat pada orang lain, tubuh memproduksi berbagai zat yang memengaruhi otak, salah satunya adalah feromon. Feromon merupakan zat kimia yang diproduksi oleh kelenjar endokrin dan berfungsi sebagai sinyal antarindividu, terutama dalam proses pengenalan, ketertarikan, dan reproduksi.
Pada manusia, feromon bekerja secara halus. Zat ini tidak dapat dideteksi melalui penciuman biasa karena tidak memiliki bau tertentu. Feromon hanya bisa diterima oleh organ khusus yang disebut vomeronasal organ atau VMO yang letaknya berada di dalam hidung.
Sinyal feromon yang dipancarkan tubuh berasal dari jaringan kulit tertentu, terutama yang terkonsentrasi pada area lengan. Ketika sinyal ini diterima oleh VMO, pesan kimia tersebut dikirim ke otak, tepatnya ke bagian hipotalamus.
Di sinilah proses pengolahan terjadi. Hipotalamus kemudian mengatur perubahan hormon yang memicu berbagai respons fisiologis, termasuk perubahan emosi, ketertarikan, dan perilaku.
Efek kombinasi hormon dan sinyal kimia ini membuat seseorang cenderung “kecanduan” pada orang yang disukainya. Ada dorongan alami untuk terus melihat, bertemu, atau sekadar berkomunikasi dengannya.
Sensasi ini sering digambarkan sebagai rasa nyaman, berdebar, atau bahkan euforia yang membuat dunia terasa lebih cerah.
Dalam fase jatuh cinta, perubahan yang terjadi pada seseorang biasanya tampak jelas. Perubahan perilaku adalah yang paling kentara, mulai dari menjadi lebih perhatian, lebih sering tersenyum, hingga memiliki energi lebih dari biasanya.
Pola makan pun bisa berubah—ada yang merasa kenyang terus, ada pula yang justru menjadi lebih sering lapar. Selain itu, pola pikir seseorang pun ikut bergeser, di mana fokus dan konsentrasi dapat tertuju pada satu orang tertentu, seolah-olah segala hal berhubungan dengannya.
Semua reaksi tersebut merupakan bagian dari perjalanan alami seseorang ketika merasakan cinta. Jatuh cinta bukan sekadar perasaan lembut yang muncul di hati, tetapi sebuah proses biologis yang memengaruhi tubuh dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Baca Juga: Sejarah Perjanjian Tordesillas: Saat Dunia Dibagi Dua oleh Spanyol dan Portugal di Abad Penjelajahan
Perubahan hormon, respon otak, serta kerja feromon membentuk pengalaman emosional yang membuat manusia merasa lebih hidup dan berwarna.
Pada akhirnya, jatuh cinta adalah salah satu proses penting dalam kehidupan manusia. Ia mengajarkan seseorang tentang kedekatan, ketertarikan, pengorbanan, dan kebahagiaan.
Walau penuh misteri dan sering sulit dijelaskan dengan kata-kata, sains membantu kita memahami bahwa cinta adalah perpaduan indah antara biologi, emosi, dan keinginan untuk terhubung dengan individu lainnya.***