Keboncinta.com-- Mohammad Reza Shah Pahlavi, adalah Shah Iran terakhir yang memerintah sebelum terjadinya Revolusi Islam 1979.
Ia lahir pada 27 Oktober 1919 dan naik tahta pada 16 September 1941 setelah ayahnya, Reza Shah Pahlavi, turun dari kekuasaan akibat tekanan internasional pada masa Perang Dunia II.
Kepemimpinan Reza Pahlavi menjadi salah satu fase penting dalam sejarah modern Iran, di mana ia berusaha menyeimbangkan ambisi modernisasi dengan tekanan politik tradisional dan global.
Di bawah pemerintahannya, Iran mengalami perubahan besar dalam berbagai sektor. Salah satu program terpentingnya adalah Revolusi Putih, yang diluncurkan pada 1963.
Program ini mencakup reformasi agraria, perluasan pendidikan, pemberdayaan perempuan, dan modernisasi industri serta militer. Tujuan dari program ini adalah menciptakan Iran yang modern, produktif, dan berdaya saing secara global.
Baca Juga: Gaji PPPK Paruh Waktu 2026 Resmi Cair! Tendik Naik Jadi Rp2,1 Juta, Tapi Masih di Bawah UMK
Namun, kebijakan ini juga memicu kritik dari kalangan ulama dan masyarakat konservatif karena dianggap mengancam nilai-nilai Islam dan struktur sosial tradisional.
Selain itu, Shah Reza Pahlavi berfokus pada pembangunan infrastruktur dan urbanisasi di Iran. Ia mendorong industrialisasi, pengembangan jaringan transportasi, serta modernisasi sistem pendidikan dan kesehatan.
Ia juga membentuk militer yang kuat dan berteknologi tinggi untuk menjaga kedaulatan negara dan memperkuat posisi Iran di kancah internasional.
Dukungan Barat, khususnya dari Amerika Serikat dan Inggris, menjadi salah satu faktor penting yang memperkuat pemerintahannya, baik dalam bidang ekonomi maupun politik.
Namun, masa pemerintahan Reza Pahlavi juga diwarnai kontroversi. Pemerintahannya dikenal otoriter, dengan pengawasan ketat terhadap oposisi politik melalui badan intelijen SAVAK.
Baca Juga: Hati-Hati Pola Asuh Terlalu Protektif, Studi Ungkap Dampaknya pada Usia Harapan Hidup Anak
Ketidakpuasan sosial terhadap kesenjangan ekonomi, korupsi, dan pembatasan kebebasan politik semakin meningkat pada dekade 1970-an. Gelombang protes besar-besaran muncul dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk kalangan pelajar, ulama, dan profesional yang menuntut perubahan sistem pemerintahan.
Puncak krisis politik terjadi pada 1978–1979 ketika demonstrasi anti-monarki meluas ke seluruh negeri. Pada 16 Januari 1979, Mohammad Reza Shah akhirnya meninggalkan Iran dan hidup dalam pengasingan di beberapa negara, termasuk Mesir dan Amerika Serikat.
Pada 27 Juli 1980, Shah Iran terakhir ini wafat di Kairo, Mesir, akibat penyakit kanker pankreas. Kepergiannya menandai berakhirnya monarki di Iran dan berdirinya Republik Islam Iran di bawah kepemimpinan Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Meski kontroversial, Reza Pahlavi meninggalkan warisan yang masih diperbincangkan hingga kini. Di satu sisi, ia dipandang sebagai sosok visioner yang mendorong modernisasi, pendidikan, dan pembangunan ekonomi.
Baca Juga: Aturan Baru Penghasilan Dosen Resmi Berlaku, Ini Rincian Tunjangan dalam Permen 52 Tahun 2025
Di sisi lain, gaya pemerintahannya yang otoriter dan ketergantungan pada dukungan Barat menimbulkan kritik serta meninggalkan luka sosial bagi sebagian masyarakat Iran.
Sampai saat ini, nama Reza Pahlavi tetap menjadi simbol sejarah Iran yang kompleks—antara modernisasi dan tradisi, antara kemajuan dan kontroversi politik.
Bagi banyak sejarawan, ia adalah tokoh yang mencerminkan dilema besar bangsa Persia dalam menghadapi perubahan global dan lokal pada abad ke-20.***