Keboncinta.com-- Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga menata kebersihan hati dalam relasi sosial. Salah satu penyakit hati yang paling berbahaya adalah iri dan dengki (hasad), karena ia menggerogoti ketenangan batin dan merusak persaudaraan. Dalam khazanah Islam, salah satu penawar paling efektif untuk penyakit ini adalah sunnah berbagi.
Rasulullah ļ·ŗ adalah teladan utama dalam hal berbagi. Beliau dikenal sangat dermawan, bahkan lebih dermawan daripada angin yang berembus. Berbagi dalam Islam tidak terbatas pada harta, tetapi mencakup waktu, tenaga, ilmu, perhatian, dan empati. Setiap bentuk pemberian yang diniatkan karena Allah bernilai ibadah dan membersihkan hati.
Mengapa berbagi mampu menghilangkan iri dan dengki? Karena berbagi melatih jiwa untuk fokus pada memberi, bukan membandingkan. Iri muncul ketika seseorang sibuk menghitung apa yang dimiliki orang lain. Sementara berbagi mengalihkan perhatian pada apa yang bisa kita manfaatkan untuk kebaikan orang lain. Dari sinilah hati perlahan menjadi lapang.
Islam memandang berbagi sebagai investasi akhirat. Allah menjanjikan balasan berlipat ganda bagi orang yang gemar bersedekah. Keyakinan ini menumbuhkan rasa cukup (qana’ah) dan tawakal. Ketika seseorang yakin bahwa rezeki tidak berkurang karena berbagi, maka kecemasan dan kecemburuan sosial pun melemah.
Secara psikologis, sunnah berbagi juga membawa ketenangan. Memberi menumbuhkan rasa syukur dan empati, dua sikap yang secara alami berlawanan dengan iri dan dengki. Orang yang bersyukur tidak mudah cemburu, karena hatinya sibuk menghargai nikmat yang ada. Orang yang berempati sulit menyimpan dengki, karena ia mampu merasakan kondisi orang lain.
Dalam kehidupan sosial, budaya berbagi menciptakan lingkungan yang sehat. Ketika memberi menjadi kebiasaan, kompetisi berubah menjadi kolaborasi. Masyarakat tidak lagi saling menjatuhkan, tetapi saling menguatkan. Inilah visi Islam tentang masyarakat yang saling menolong dalam kebaikan (ta’awun ‘alal birri wat taqwa).
Di tengah budaya pamer dan perbandingan di era media sosial, sunnah berbagi menjadi latihan spiritual yang sangat relevan. Ia mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada apa yang kita miliki, tetapi pada sejauh mana kita bermanfaat bagi orang lain.