Keboncinta.com-- Pada akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16, Laut Mediterania menjadi panggung utama perebutan pengaruh kekuatan dunia.
Di tengah gejolak ekspansi Eropa dan konflik antarperadaban, muncul sosok legendaris yang namanya menggema dari Afrika Utara hingga pesisir Eropa, yakni Hayreddin Barbarossa.
Hayreddin Barbarossa, yang dalam bahasa Turki dikenal sebagai Hızır Reis atau “Hızır Sang Pelaut”, merupakan salah satu tokoh paling disegani dalam sejarah maritim Islam. Ia lahir sekitar tahun 1478 di Pulau Lesbos, wilayah yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah.
Julukan “Barbarossa”, yang berarti Si Janggut Merah dalam bahasa Italia, disematkan oleh para pelaut Eropa karena warna janggutnya yang kemerahan serta reputasinya yang menakutkan di lautan.
Baca Juga: Tampilan Baru Belajar.id 2026 Resmi Hadir, Akses Layanan Pendidikan Digital Kini Lebih Mudah
Bersama saudaranya, Oruç Reis, Hayreddin memulai karier sebagai pelaut dan pedagang. Namun, situasi politik Mediterania yang semakin panas mendorong mereka terjun ke medan perjuangan.
Spanyol dan Portugis tengah memperluas kolonialisme, sementara armada Kristen kerap menyerang kota-kota pesisir Afrika Utara dan menindas penduduk Muslim setempat.
Dalam konteks inilah Hayreddin dan Oruç Reis dikenal sebagai pelindung umat Islam di laut, bukan sekadar bajak laut seperti yang sering digambarkan dalam sumber-sumber Barat.
Mereka aktif mengevakuasi warga Muslim, melawan agresi kolonial, dan mempertahankan wilayah pesisir dari serangan armada Eropa.
Setelah Oruç Reis gugur dalam pertempuran melawan pasukan Spanyol, Hayreddin melanjutkan perjuangan saudaranya. Pada tahun 1516, ia berhasil membebaskan Aljazair dari pengaruh Spanyol.
Baca Juga: Pemutakhiran Data Jadi Kunci Karier PPPK, BKN Percepat Manajemen Talenta ASN
Kesuksesan ini mengantarkannya ke panggung kekuasaan Utsmaniyah. Hayreddin kemudian menyerahkan Aljazair kepada Sultan Suleiman I dan diangkat sebagai Gubernur sekaligus Kapudan Pasha atau Laksamana Agung armada laut Kesultanan Utsmaniyah.
Puncak kejayaan Hayreddin Barbarossa terjadi pada Pertempuran Preveza tahun 1538. Dalam pertempuran ini, ia memimpin armada Utsmaniyah melawan gabungan kekuatan laut Kristen Eropa yang dipimpin Andrea Doria.
Meski jumlah kapal dan pasukannya lebih sedikit, Barbarossa menunjukkan kecerdasan strategi laut yang luar biasa. Ia memanfaatkan arus laut, formasi kapal, serta manuver taktis untuk memukul mundur armada gabungan Spanyol, Venesia, dan Kepausan.
Kemenangan di Preveza mengukuhkan dominasi Kesultanan Utsmaniyah atas Laut Mediterania selama lebih dari tiga dekade.
Baca Juga: SNBP 2026 Tak Cukup Nilai Rapor, Ini Kesalahan Fatal yang Sering Menggagalkan Lolos PTN
Sejak saat itu, nama Hayreddin Barbarossa menjadi simbol supremasi maritim dunia Islam dan kejayaan strategi militer laut Utsmaniyah.
Tak hanya dikenal sebagai panglima perang, Barbarossa juga merupakan diplomat ulung dan arsitek modernisasi armada laut.
Di bawah kepemimpinannya, pelabuhan Istanbul dan Aljazair berkembang menjadi pusat kekuatan maritim. Ia membangun sistem pelatihan pelaut, memperkuat galangan kapal, serta membentuk jaringan intelijen laut untuk memantau pergerakan musuh.
Dalam ranah diplomasi, Barbarossa menjalin hubungan strategis dengan Prancis dan berperan penting dalam membantu Muslim Andalusia yang melarikan diri dari Spanyol pasca kejatuhan Granada.
Perannya melampaui peperangan, mencerminkan kepemimpinan visioner yang memahami pentingnya kekuatan militer, diplomasi, dan kemanusiaan.
Baca Juga: Beasiswa LPDP STEM Industri Strategis, Peluang Emas S2–S3 di Sektor Vital Nasional
Setelah mengabdikan sebagian besar hidupnya di laut, Hayreddin Barbarossa pensiun dan menetap di Beşiktaş, Istanbul.
Di sana, ia menulis Memoir of Hayreddin Barbarossa, yang berisi catatan perjalanan hidup dan strategi militernya. Ia wafat pada tahun 1546 dan dimakamkan di Istanbul.
Hingga kini, makamnya menjadi simbol kebanggaan bangsa Turki dan kejayaan maritim Islam.
Nama Barbarossa terus dikenang dan diabadikan pada berbagai kapal perang modern Turki, termasuk TCG Barbaros, sebagai penghormatan atas jasanya menjaga kehormatan dan kedaulatan laut.
Kisah Hayreddin Barbarossa bukan sekadar legenda pelaut. Ia melambangkan keberanian, kecerdasan strategi, dan kesetiaan terhadap agama serta bangsanya.
Baca Juga: BRI Dorong UMKM Jadi Pilar Utama Keuangan Berkelanjutan Global di Forum WEF Davos 2026
Dalam konteks dunia modern, sosoknya menjadi inspirasi tentang pentingnya kemandirian maritim, diplomasi global, dan penguasaan teknologi pertahanan. Seperti pada masanya, kekuatan laut tetap menjadi salah satu penentu utama kedaulatan sebuah bangsa.***