Khazanah
Hilmi An Naufal

Gempa M 5,8 Guncang Kepulauan Sangihe, BMKG Perbarui Magnitudo Menjadi 5,6

Gempa M 5,8 Guncang Kepulauan Sangihe, BMKG Perbarui Magnitudo Menjadi 5,6

06 Agustus 2026 | 06:02

SANGIHE — Gempa bumi mengguncang wilayah Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Kamis, 6 Agustus 2026, pukul 04.41 WIB. Informasi awal Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat kekuatan gempa sebesar magnitudo 5,8.

Setelah melakukan analisis lanjutan, BMKG memperbarui parameter gempa menjadi magnitudo 5,6 dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa tersebut dipastikan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Pusat gempa berada di laut

Episenter gempa berada pada koordinat 5,12 derajat Lintang Utara dan 125,37 derajat Bujur Timur. Lokasinya berada di laut, sekitar 168 kilometer arah barat laut Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Data awal yang dipublikasikan BMKG sebelumnya menyebut pusat gempa berjarak sekitar 169 kilometer di barat laut Tahuna dengan koordinat 5,13 Lintang Utara dan 125,37 Bujur Timur. Perbedaan kecil tersebut muncul setelah BMKG memperbarui hasil pengolahan data seismik.

BMKG menjelaskan bahwa gempa tersebut termasuk gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi di kawasan Palung Cotabato atau Cotabato Trench. Analisis mekanisme sumber menunjukkan adanya pergerakan naik atau thrust fault.

Guncangan dirasakan di sejumlah wilayah

Berdasarkan estimasi peta guncangan BMKG, gempa dirasakan pada skala IV MMI di Kepulauan Marore, Kendahe, dan Miangas.

Pada tingkat IV MMI, getaran umumnya dapat dirasakan oleh banyak orang yang berada di dalam rumah. Sebagian orang di luar bangunan juga dapat merasakan guncangan, sementara pintu, jendela, atau dinding dapat mengeluarkan bunyi.

Hingga pukul 05.00 WIB, pemantauan BMKG belum mencatat adanya aktivitas gempa susulan setelah gempa utama tersebut. Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi perubahan aktivitas seismik.

BMKG pastikan tidak berpotensi tsunami

Hasil pemodelan yang dilakukan BMKG menunjukkan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Kepastian ini penting bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir Kepulauan Sangihe dan wilayah sekitarnya. Warga tetap diminta mengikuti informasi resmi serta tidak mudah mempercayai kabar yang beredar melalui media sosial tanpa sumber yang jelas.

Meskipun tidak memicu tsunami, gempa dangkal tetap perlu diwaspadai karena getarannya dapat terasa cukup kuat di wilayah yang dekat dengan pusat gempa.

Masyarakat diminta tetap tenang

BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Warga juga disarankan memeriksa kondisi bangunan setelah merasakan gempa. Bangunan yang terlihat retak atau mengalami kerusakan sebaiknya tidak langsung dimasuki sebelum dipastikan aman.

Masyarakat dapat memperoleh pembaruan melalui situs resmi BMKG, aplikasi Info BMKG, serta akun media sosial resmi yang telah terverifikasi.

Parameter gempa dapat diperbarui

Perubahan magnitudo dari M 5,8 menjadi M 5,6 merupakan bagian dari proses pemutakhiran data.

Informasi awal gempa biasanya diterbitkan dengan mengutamakan kecepatan agar segera diketahui masyarakat. Setelah lebih banyak data dari jaringan sensor diterima dan dianalisis, parameter seperti magnitudo, koordinat, kedalaman, dan jarak pusat gempa dapat diperbarui.

Karena itu, masyarakat sebaiknya menggunakan parameter terbaru yang disampaikan BMKG sebagai rujukan utama.

Gempa ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan gempa. Mengetahui jalur evakuasi, menyimpan nomor darurat, mengamankan perabot berat, dan memahami cara berlindung saat gempa dapat membantu mengurangi risiko ketika bencana terjadi.

Sumber informasi: BMKG dan detikNews. Artikel ini ditulis dengan struktur dan susunan kalimat baru berdasarkan fakta dari sumber resmi.

 
 
 
 
Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna