Keboncinta.com-- Kemampuan mengenal angka dan berhitung menjadi salah satu dasar penting yang perlu dikenalkan kepada anak sejak usia dini. Pembelajaran matematika pada tahap awal tidak harus dilakukan dengan cara yang kaku, karena konsep bilangan dapat diperkenalkan melalui berbagai kegiatan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Mengenalkan numerasi sejak anak berusia 5-6 tahun bukan hanya membantu mereka memahami angka dan perhitungan dasar. Kemampuan tersebut juga dapat menjadi fondasi bagi perkembangan logika, pola pikir kritis, serta keterampilan dalam mencari solusi ketika menghadapi berbagai persoalan.
Baca Juga: Terlalu Sering Bilang “Jangan” pada Anak? Ini Dampaknya dan Cara Menggantinya
Pada usia 5-6 tahun, anak mulai dapat diperkenalkan dengan berbagai konsep dasar numerasi secara bertahap. Mereka dapat belajar mengenali lambang angka, memahami jumlah benda, membandingkan ukuran, hingga mengetahui urutan bilangan.
Pengalaman tersebut akan membantu anak memiliki bekal ketika memasuki jenjang pendidikan berikutnya. Semakin sering konsep bilangan dikenalkan melalui kegiatan yang sesuai dengan usia, semakin banyak pula kesempatan anak untuk memahami matematika secara alami.
Namun, proses belajar tidak harus selalu dilakukan melalui buku atau lembar latihan. Orangtua dapat memanfaatkan permainan dan aktivitas sederhana yang membuat anak merasa sedang bermain sekaligus belajar.
Mainan yang tersedia di rumah dapat menjadi media belajar numerasi yang mudah digunakan. Orangtua misalnya dapat mengajak anak mengumpulkan mobil-mobilan, boneka, balok, atau benda lainnya.
Setelah itu, minta anak menyusun benda tersebut berdasarkan ukuran, mulai dari yang paling besar hingga paling kecil atau sebaliknya.
Aktivitas sederhana ini membantu anak mengenal konsep urutan dan perbandingan. Selain itu, anak juga terlibat langsung dalam proses mengamati dan menentukan posisi setiap benda.
Baca Juga: Anak Sering Bilang “Nggak Mau”? Jangan Langsung Anggap Nakal, Ini Makna di Baliknya
Mengenalkan lambang bilangan juga dapat dilakukan melalui latihan menulis. Orangtua dapat menyiapkan selembar kertas yang dibagi menjadi 10 bagian menggunakan kolom sederhana.
Selanjutnya, anak dapat diminta menuliskan angka 1 hingga 10 pada masing-masing bagian. Kegiatan ini sekaligus melatih koordinasi tangan dan kemampuan menulis anak.
Lebih dari sekadar menghafalkan bentuk angka, latihan tersebut membantu anak menghubungkan simbol bilangan dengan konsep jumlah yang diwakilinya.
Lingkungan keluarga juga dapat menjadi tempat yang menarik untuk belajar numerasi. Orangtua bisa mengajak anak mengamati anggota keluarga dan mengurutkannya berdasarkan usia, misalnya dari yang paling muda hingga paling tua.
Melalui permainan tersebut, anak dapat mulai memahami hubungan antara jumlah dan perbandingan. Mereka dapat diperkenalkan dengan konsep seperti lebih banyak, lebih sedikit, sama, lebih muda, atau lebih tua.
Pembelajaran seperti ini terasa lebih dekat karena menggunakan situasi yang memang ditemui anak dalam kehidupan sehari-hari.
Lagu anak-anak yang memiliki unsur angka dan hitungan juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana belajar. Bernyanyi membuat suasana menjadi lebih santai sehingga anak tidak merasa sedang mengikuti pelajaran matematika.
Orangtua dapat memilih lagu yang memuat urutan atau hitungan sederhana, kemudian mengajak anak mengikuti angka yang terdapat dalam liriknya.
Selain membantu anak mengingat urutan bilangan, kegiatan ini dapat membuat proses pengenalan numerasi menjadi lebih menyenangkan.
Numerasi sebenarnya dapat dikenalkan melalui banyak kegiatan sederhana.