Keboncinta.com-- Menghadapi anak usia 2-3 tahun memang dapat menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Pada usia tersebut, anak kerap menunjukkan perilaku emosional, mudah marah, menangis, menolak permintaan, bahkan bersikeras dengan keinginannya.
Fase ini sering dikaitkan dengan istilah “terrible two” dan “threenager”. Meski perilaku anak pada masa tersebut terkadang membuat orangtua kewalahan, kondisi ini pada dasarnya merupakan bagian dari proses tumbuh kembang yang wajar.
Pada usia 2-3 tahun, anak sedang belajar mengenali keinginan, membangun kemandirian, sekaligus memahami berbagai emosi yang muncul dalam dirinya. Namun, kemampuan mereka untuk mengendalikan dan menyampaikan emosi belum berkembang secara sempurna.
Akibatnya, ketika merasa kecewa, marah, lelah, atau tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan, anak dapat meluapkannya melalui tangisan, teriakan, penolakan, maupun perilaku yang terlihat keras kepala.
Agar orangtua tidak mudah terpancing dan dapat membantu anak melewati fase tersebut, ada beberapa langkah yang bisa diterapkan dalam keseharian.
Baca Juga: Wacana Kuliah Gratis PTN Disiapkan, Ada Usulan 25 Persen Anggaran untuk Penguatan Dosen
Hal pertama yang perlu dilakukan orangtua adalah mengendalikan respons diri sendiri. Ketika anak sedang mengalami ledakan emosi, orangtua sebaiknya menghindari respons yang sama-sama emosional.
Sikap tenang dapat membantu menciptakan suasana yang lebih aman sehingga anak perlahan belajar menenangkan dirinya. Orangtua juga dapat mengambil waktu sejenak untuk mengatur napas sebelum berbicara atau memberikan respons.
Di balik perilaku anak yang menangis atau ngotot, biasanya terdapat emosi atau kebutuhan yang belum mampu mereka ungkapkan dengan baik.
Orangtua dapat mencoba memahami apa yang membuat anak kecewa, marah, takut, atau frustrasi. Dengarkan anak dan bantu menyebutkan perasaannya dengan kata-kata sederhana.
Dengan begitu, anak secara bertahap belajar mengenali emosinya sekaligus memahami bahwa perasaannya dapat disampaikan tanpa harus selalu melalui ledakan emosi.
Memahami perasaan anak bukan berarti membiarkan semua perilakunya. Orangtua tetap perlu memberikan batasan yang jelas mengenai tindakan yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Aturan sebaiknya disampaikan dengan bahasa sederhana dan diterapkan secara konsisten. Anak membutuhkan batasan agar dapat memahami konsekuensi dari perilakunya sekaligus mengetahui aturan yang berlaku dalam lingkungan keluarga.
Salah satu cara untuk mengurangi konflik adalah memberikan anak beberapa pilihan sederhana.
Misalnya, orangtua dapat menawarkan pilihan pakaian yang akan dikenakan atau menentukan apakah anak ingin membereskan mainan sebelum atau sesudah melakukan aktivitas tertentu.
Pilihan semacam ini dapat membuat anak merasa memiliki kesempatan untuk menentukan sesuatu. Di sisi lain, orangtua tetap dapat menjaga batasan yang sudah ditetapkan.
Lingkungan sekitar juga dapat memengaruhi kondisi emosional anak. Karena itu, pastikan anak berada di tempat yang aman dan mendapatkan aktivitas yang sesuai dengan usianya.
Mainan, kegiatan bermain, serta rutinitas harian yang sesuai dengan tahap perkembangan anak dapat membantu menciptakan suasana yang lebih nyaman. Orangtua juga perlu memperhatikan kondisi yang berpotensi membuat anak terlalu lelah, stres, atau cemas.
Ketika anak berhasil melakukan sesuatu, berusaha mengendalikan emosi, atau menunjukkan perilaku positif, berikan apresiasi yang tulus.
Pujian tidak harus diberikan hanya ketika anak mencapai sesuatu yang besar. Menghargai usaha kecil yang dilakukan anak juga dapat membantu membangun rasa percaya diri dan mendorong mereka mengulangi perilaku positif.
Baca Juga: PPG Daljab PAI 2026 Segera Dimulai, Guru Perlu Cek Syarat dan Validitas Data SIAGA
Menghadapi anak usia 2-3 tahun membutuhkan keseimbangan antara memberikan kasih sayang dan menerapkan batasan.
Orangtua dapat menunjukkan bahwa mereka memahami perasaan anak, tetapi tetap tegas terhadap perilaku yang tidak diperbolehkan.