Parenting
Rahman Abdullah

Orangtua Wajib Tahu, Ini Dampak Jika Terlalu Sering Mengatakan “Jangan” kepada Anak

Orangtua Wajib Tahu, Ini Dampak Jika Terlalu Sering Mengatakan “Jangan” kepada Anak

26 September 2026 | 20:47

Keboncinta.com-- Dalam keseharian, orangtua tentu membutuhkan aturan untuk membantu anak memahami batasan dan membedakan perilaku yang boleh dilakukan dengan yang sebaiknya dihindari. Salah satu kata yang cukup sering digunakan untuk tujuan tersebut adalah “jangan”.

Namun, penggunaan kata “jangan” secara terus-menerus dalam berbagai situasi ternyata perlu diperhatikan. Larangan yang terlalu dominan dalam komunikasi sehari-hari dapat membuat anak merasa seolah-olah setiap tindakan yang dilakukannya selalu salah.

Para ahli perkembangan anak dan pendidikan menilai bahwa cara orangtua berkomunikasi memiliki peran dalam membentuk cara anak memahami dirinya, lingkungan, serta berbagai pengalaman yang mereka hadapi.

Baca Juga: Anak Sering Bilang “Nggak Mau”? Jangan Langsung Anggap Nakal, Ini Makna di Baliknya

Terlalu Banyak Larangan Bisa Membatasi Eksplorasi Anak

Masa kanak-kanak merupakan periode ketika anak memiliki rasa ingin tahu yang besar. Mereka belajar dengan mencoba, bertanya, mengamati, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Jika hampir setiap keinginan untuk mencoba sesuatu langsung mendapatkan respons berupa larangan, anak dapat menangkap pesan bahwa mengeksplorasi sesuatu merupakan hal yang salah atau tidak diperbolehkan.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat membuat sebagian anak menjadi lebih ragu ketika hendak mencoba sesuatu yang baru. Mereka juga dapat menjadi kurang berani mengambil inisiatif karena khawatir melakukan kesalahan.

Kreativitas Anak Bisa Ikut Terhambat

Bukan hanya keberanian bereksplorasi, pola komunikasi yang terlalu banyak berisi larangan juga dapat memengaruhi kesempatan anak untuk mengekspresikan gagasan.

Anak membutuhkan ruang untuk bertanya, mencoba, berimajinasi, dan menemukan cara baru dalam melakukan sesuatu. Ketika berbagai aktivitas spontan terlalu sering dihentikan, anak bisa menjadi enggan menyampaikan ide atau mencoba pengalaman baru.

Karena itu, memberikan batasan tetap penting, tetapi cara menyampaikannya juga perlu disesuaikan agar anak tetap memperoleh kesempatan untuk belajar.

Baca Juga: Sekolah Negeri Sudah Didukung Dana BOS, Pemerintah Siapkan Skema Pendidikan Gratis dari TK hingga SMA

Jelaskan Alasan di Balik Sebuah Larangan

Orangtua tidak harus menghilangkan kata “jangan” sepenuhnya. Dalam situasi yang berkaitan dengan keselamatan atau perilaku yang berisiko, larangan justru dapat diperlukan.

Yang perlu diperhatikan adalah memberikan penjelasan setelah atau bersamaan dengan larangan tersebut.

Sebagai contoh, ketika anak berlari di tempat yang berisiko membuatnya terjatuh, orangtua tidak hanya mengatakan, “Jangan lari.” Orangtua dapat menjelaskan bahwa tempat tersebut licin atau sempit sehingga berlari dapat membuat anak kehilangan keseimbangan.

Dengan pendekatan seperti ini, anak tidak hanya menerima perintah untuk berhenti, tetapi juga memahami alasan di balik aturan yang diberikan.

Ubah Larangan Menjadi Arahan Positif

Cara lain yang dapat dicoba adalah mengubah kalimat negatif menjadi instruksi yang lebih positif dan mudah dipahami.

Misalnya, daripada mengatakan “jangan pukul adik”, orangtua dapat mengatakan, “Ayo perlakukan adik dengan lembut.” Pesan yang disampaikan tetap memberikan batasan, tetapi anak mendapatkan gambaran mengenai perilaku yang seharusnya dilakukan.

Pendekatan tersebut membantu anak memahami alternatif tindakan, bukan sekadar mengetahui apa yang dilarang.

Baca Juga: Standar Guru dan Tendik Diperbarui, Ada Syarat S1 D-IV hingga Sertifikasi Sesuai Bidang Tugas

Pilih Kata-Kata yang Mendukung Perkembangan Anak

Komunikasi orangtua merupakan bagian penting dalam proses pengasuhan. Kalimat yang disampaikan berulang kali dapat memengaruhi bagaimana anak memandang dirinya dan merespons berbagai situasi.

Karena itu, orangtua dapat mulai memperbanyak kalimat yang memberikan arahan, penjelasan, dan dorongan. Anak tetap membutuhkan aturan, tetapi mereka juga memerlukan kesempatan untuk memahami alasan sebuah aturan dan belajar mengambil keputusan.

Dengan komunikasi yang lebih positif dan tetap tegas, anak dapat memperoleh ruang untuk mengembangkan rasa percaya diri, kreativitas, kemandirian, serta kemampuan menghadapi berbagai pengalaman.

Pada akhirnya, mendidik anak bukan hanya mengenai seberapa banyak aturan yang diberikan, tetapi juga bagaimana aturan tersebut disampaikan. Ketika larangan disertai penjelasan dan alternatif perilaku yang tepat, anak memiliki kesempatan lebih besar untuk belajar memahami konsekuensi sekaligus mengembangkan dirinya.***

Tags:
Parenting Orang Tua Anak

Komentar Pengguna