keboncinta.com --- Doa Abu Nawas merayu Allah, yang dikenal sebagai syair Al-I’tiraf, adalah salah satu karya spiritual paling populer dalam khazanah Islam klasik. Syair ini bukan hanya susunan kata indah, melainkan ungkapan kerendahan hati, pengakuan dosa, serta harapan penuh ampunan dari Allah SWT.
Banyak umat Islam menjadikan doa Abu Nawas ini sebagai inspirasi dalam beribadah, karena mengandung pesan mendalam: manusia penuh dosa, sementara hanya Allah satu-satunya tempat berharap dan memohon ampunan.
Arab:
إِلهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً، وَلاَ أَقْوَى عَلىَ النَّارِ الجَحِيْمِ
فَهَبْ لِي تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبِي، فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ العَظِيْمِ
ذُنُوْبِي مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ، فَهَبْ لِي تَوْبَةً يَا ذَا الجَلاَلِ
وَعُمْرِي نَاقِصٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ، وَذَنْبِي زَائِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ
إِلهِي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ، مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ
فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَاكَ أَهْلٌ، وَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ
Latin:
Ilāhī lastu lil-firdawsi ahlan, wa lā aqwā ‘alā nāril-jahīm.
Fa hablī taubatan waghfir dzunūbī, fa innaka ghāfirudz-dzanbil-‘azhīm.
Dzunūbī mitslu a‘dādir-rimāl, fa hablī taubatan yā dzal-jalāl.
Wa ‘umrī nāqishun fī kulli yaumin, wa dzanbī zā’idun kaifa ihtimāl.
Ilāhī ‘abdukal-‘āshī atāk, muqirran bidz-dzunūbi wa qad da‘āk.
Fa in taghfir fa anta lidzālika ahlun, wa in tatrud faman narjū siwāk.
Artinya:
“Wahai Tuhanku! Aku bukanlah ahli surga, namun aku tidak sanggup menanggung api neraka. Maka berilah aku taubat dan ampunilah dosaku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa-dosa besar. Dosaku bagaikan butiran pasir di pantai, maka ampunilah aku wahai Tuhan yang Maha Agung. Umurku terus berkurang setiap hari, sementara dosaku semakin bertambah, bagaimana aku bisa menanggungnya? Wahai Tuhanku! Hamba-Mu yang penuh dosa datang kepada-Mu, mengakui segala kesalahannya dan memohon kepada-Mu. Jika Engkau mengampuni, memang hanya Engkau yang berhak melakukannya. Namun jika Engkau menolak, kepada siapa lagi aku bisa berharap selain kepada-Mu?”
Doa Abu Nawas Al-I’tiraf adalah simbol pengakuan dosa (taubat) dan kerendahan hati seorang hamba. Pesan penting dalam doa ini adalah kesadaran akan banyaknya dosa yang digambarkan seperti butiran pasir yang tak terhitung jumlahnya, harapan penuh pada rahmat Allah karena hanya Allah tempat memohon ampunan, kesadaran singkatnya hidup karena umur terus berkurang sementara dosa terus bertambah, serta penyerahan total kepada Allah karena hanya Allah satu-satunya tempat bergantung.
Meskipun doa Abu Nawas bukan berasal dari hadis, maknanya sejalan dengan ajaran Al-Qur’an dan sunnah tentang taubat dan ampunan.
1. Allah Maha Pengampun
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
“Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53).
2. Setiap manusia pasti berdosa
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam pasti banyak berbuat dosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi no. 2499).
3. Allah menerima taubat sampai ajal menjemput
إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama ruh belum sampai di kerongkongan.” (HR. Tirmidzi no. 3537).
Abu Nawas (Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami) adalah penyair Arab klasik abad ke-8 yang dikenal cerdas, humoris, sekaligus mendalam dalam karya-karya sufistiknya.