Keboncinta.com-- Kunjungan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, ke Uni Soviet menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah diplomasi Indonesia pada era Perang Dingin.
Lawatan ini bukan sekadar agenda politik internasional, tetapi juga meninggalkan jejak bersejarah dalam dunia Islam, yakni terkait penemuan kembali makam Imam Bukhari, ulama besar ahli hadis.
Pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an, Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Uni Soviet sebagai bagian dari politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif.
Saat itu, Indonesia berupaya menjalin hubungan strategis dengan berbagai kekuatan dunia, termasuk negara-negara Blok Timur.
Uni Soviet menyambut Soekarno dengan sangat meriah. Ia dianggap sebagai pemimpin karismatik dari dunia ketiga yang berani menantang dominasi kekuatan Barat.
Hubungan Indonesia–Uni Soviet pun semakin erat, ditandai dengan kerja sama di berbagai bidang, mulai dari militer, industri, hingga pendidikan.
Di balik agenda politik dan kenegaraan tersebut, terdapat kisah menarik yang jarang diketahui publik.
Dalam salah satu kunjungannya ke wilayah Asia Tengah—yang saat itu berada di bawah kekuasaan Uni Soviet—Soekarno disebut menanyakan keberadaan makam Imam Bukhari, ulama besar kelahiran Bukhara yang karyanya, Shahih Bukhari, menjadi rujukan utama umat Islam di seluruh dunia.
Pada masa pemerintahan Soviet, praktik keagamaan sangat dibatasi. Banyak situs sejarah Islam terbengkalai dan tidak terawat, termasuk makam para ulama besar.
Makam Imam Bukhari sendiri dikabarkan lama tidak diketahui secara pasti lokasinya dan berada dalam kondisi memprihatinkan.
Baca Juga: Tubuh Manusia Didominasi Air, Tapi Kenapa Masih Harus Banyak Minum? Yuk Cari Tahu
Ketertarikan Soekarno terhadap tokoh-tokoh besar Islam mendorong pihak Uni Soviet untuk melakukan penelusuran lebih lanjut.
Dari sinilah kemudian ditemukan kembali lokasi makam Imam Bukhari di wilayah Samarkand, Uzbekistan. Temuan ini menjadi titik awal pemulihan dan penghormatan terhadap situs bersejarah tersebut.
Setelah penemuan kembali makam Imam Bukhari, kawasan tersebut perlahan mulai mendapat perhatian, meski revitalisasi besar-besaran baru dilakukan bertahun-tahun kemudian, terutama setelah runtuhnya Uni Soviet.
Kini, makam Imam Bukhari menjadi salah satu pusat ziarah dan kajian Islam terpenting di Asia Tengah.
Baca Juga: Telur Pernah Dicap Berbahaya, Benarkah? Fakta Kolesterol yang Baru Terungkap
Kisah ini menunjukkan bahwa kunjungan Soekarno ke Uni Soviet tidak hanya berdampak pada peta politik global, tetapi juga memberikan kontribusi berharga bagi sejarah peradaban Islam.
Peran Soekarno dalam mengangkat kembali jejak ulama besar dunia menjadi bukti bahwa diplomasi budaya dan spiritual bisa berjalan seiring dengan diplomasi politik.
Jejak sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa hubungan antarbangsa dapat melahirkan dampak luas, melampaui kepentingan kekuasaan dan menyentuh aspek keagamaan, kebudayaan, serta merawat perdamaian dunia.***