Bullying Bukan Hal Sepele: Saat Canda Berubah Jadi Luka

Bullying Bukan Hal Sepele: Saat Canda Berubah Jadi Luka

24 Oktober 2025 | 13:56

Keboncinta.com-- Akhir-akhir ini, bullying semakin marak terjadi, baik di lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi. Pernahkah kamu melihat seseorang diejek di sekolah, lalu semua orang tertawa, tapi wajahnya tampak menahan perih? Bullying sering dianggap sebagai candaan, padahal hal itu bisa berubah menjadi luka yang dalam.

Orang yang dibully biasanya memilih diam, sementara pelaku sering kali tidak sadar bahwa ucapannya bisa meninggalkan luka batin yang berat.

Bullying adalah bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap orang lain, biasanya dilakukan berulang kali. Contohnya seperti mengejek, memukul, mengucilkan, atau menyebarkan rumor. Hal-hal ini sangat keterlaluan, tapi sering dianggap enteng karena disamakan dengan bercanda. Padahal, kita harus bisa membedakan antara bercanda dan bullying.

Jika orang yang diejek ikut tertawa, mungkin itu memang sekadar candaan. Namun, bila orang tersebut hanya diam dan menahan diri, itu tanda bahwa yang terjadi bukan lagi candaan melainkan bullying.

Dampak Bullying bagi Korban

Bullying dapat memberikan banyak dampak buruk bagi korban, seperti:

  1. Perasaan takut, cemas, minder, atau menarik diri dari pergaulan.
  2. Menurunnya prestasi belajar karena korban kehilangan semangat.
  3. Kehilangan keinginan untuk datang ke sekolah karena takut bertemu pelaku bullying.

Sering kali, korban memilih diam karena takut dianggap lemah, padahal di dalam hatinya ia sedang berjuang keras untuk bertahan. Mereka tidak berani menceritakan apa yang terjadi karena khawatir akan mendapat ancaman berikutnya.

Mengapa Bullying Bisa Terjadi?

Beberapa hal yang bisa menjadi penyebab terjadinya bullying, antara lain:

  1. Ingin terlihat keren di depan teman. Padahal, cara ini salah. Jika ingin terlihat keren, tunjukkan prestasi dan sikap baik yang bisa membanggakan sekolah.
  2. Meniru perilaku orang lain. Banyak tayangan di media sosial atau televisi yang tanpa sadar mendorong seseorang untuk meniru perilaku negatif.
  3. Kurangnya empati atau pengawasan. Kurangnya perhatian dari keluarga dapat membuat anak kehilangan arahan tentang mana yang baik dan mana yang buruk.

Jangan menormalisasi ejekan sebagai candaan. Kita harus bisa membedakannya!

Sekecil apa pun tindakan baik yang kita lakukan bisa menyelamatkan seseorang dari luka yang tak terlihat. Jika di sekelilingmu ada korban bullying, dekati dan dukung mereka agar mentalnya tetap kuat. Dan jika kamu melihat seseorang menindas orang lain, beranilah menegur dengan tegas. Karena perubahan dimulai dari keberanian kita untuk peduli.

Tags:
Pendidikan Karakter Stop Bullying Sekolah Tanpa Bullying

Komentar Pengguna