Bukber: Ajang Silaturahmi atau Pamer Kesuksesan?

Bukber: Ajang Silaturahmi atau Pamer Kesuksesan?

21 Februari 2026 | 20:33

Keboncinta.com-- Bulan suci Ramadan selalu menghadirkan tradisi yang khas di tengah masyarakat, salah satunya adalah buka bersama atau yang akrab disebut bukber. Kegiatan ini sering menjadi momen yang dinanti-nanti, baik oleh pelajar, mahasiswa, pekerja, maupun keluarga. Bukber menjadi alasan untuk kembali berkumpul setelah sekian lama tidak bertemu.

Secara umum, niat awal diadakannya buka bersama adalah untuk mempererat silaturahmi. Pertemuan dengan teman sekolah, rekan kerja, atau keluarga besar menjadi kesempatan untuk berbagi cerita, melepas rindu, dan memperkuat hubungan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan masing-masing. Ramadan pun menjadi waktu yang tepat karena suasananya mendukung kebersamaan dan kehangatan.

Namun, di sisi lain, tidak bisa dimungkiri bahwa bukber terkadang berubah makna. Alih-alih menjadi ajang mempererat persaudaraan, sebagian orang justru memanfaatkannya sebagai ajang menunjukkan pencapaian atau kesuksesan. Percakapan yang awalnya ringan bisa berubah menjadi perbandingan karier, penghasilan, jabatan, atau pencapaian hidup lainnya. Tanpa disadari, suasana yang seharusnya hangat justru menjadi canggung.

Akibatnya, tidak sedikit orang yang merasa minder atau enggan menghadiri acara buka bersama. Mereka merasa tertinggal dibandingkan teman-temannya. Padahal, setiap orang memiliki jalan hidup dan ukuran sukses yang berbeda. Ada yang sukses dalam karier, ada yang sukses dalam membangun keluarga, ada pula yang sedang berproses meraih impian. Semua memiliki waktunya masing-masing.

Perasaan rendah diri sering muncul karena kita hanya melihat pencapaian yang tampak di permukaan. Kita jarang mengetahui perjuangan, kegagalan, atau proses panjang di balik keberhasilan seseorang. Membandingkan diri dengan orang lain hanya akan menimbulkan rasa tidak percaya diri dan mengurangi makna kebersamaan itu sendiri.

Seharusnya, bukber kembali pada tujuan utamanya: mempererat silaturahmi dan memperkuat ukhuwah. Ramadan mengajarkan kesederhanaan, empati, dan rasa syukur. Maka, pertemuan dalam suasana berbuka puasa sebaiknya diisi dengan obrolan yang membangun, saling mendukung, dan mendoakan kebaikan satu sama lain.

Jika kita merasa belum berada di titik yang sama dengan orang lain, tidak perlu merasa kalah. Hidup bukanlah perlombaan cepat, melainkan perjalanan yang berbeda bagi setiap individu. Fokuslah pada proses diri sendiri dan tetap bersyukur atas apa yang telah dicapai.

Pada akhirnya, buka bersama akan bermakna ketika diisi dengan keikhlasan dan kebersamaan, bukan perbandingan. Mari jadikan bukber sebagai ruang untuk saling menguatkan, bukan saling mengunggulkan.

Tags:
Gaya Hidup Refleksi Diri Ramadhan 2026 Bukber Silahturahmi

Komentar Pengguna