keboncinta.com-- Dalam khazanah Islam, hubungan antara masyarakat dan pemimpin bukan sekadar kontrak sosial politik, melainkan sebuah ikatan moral yang didasarkan pada prinsip saling menasihati demi kebaikan bersama. Namun, menyampaikan kritik kepada penguasa adalah sebuah seni yang membutuhkan kematangan spiritual dan ketajaman adab, bukan sekadar keberanian berteriak di ruang publik. Para ulama salaf terdahulu telah memberikan teladan yang sangat elegan tentang bagaimana menjalankan kewajiban amar makruf nahi munkar tanpa harus mengorbankan martabat pemimpin atau memicu stabilitas sosial yang rapuh. Bagi mereka, tujuan utama dari sebuah kritik bukanlah untuk menjatuhkan atau mencari panggung popularitas, melainkan untuk membawa perubahan nyata (ishlah) yang diridai oleh Allah.
Salah satu prinsip fundamental yang dipegang teguh oleh para ulama terdahulu adalah mengutamakan nasihat secara tertutup atau al-nasihah fis-sirr. Mereka memahami bahwa seorang pemimpin, sebagaimana manusia pada umumnya, memiliki harga diri yang jika terluka di depan umum justru akan memicu sikap defensif dan keras kepala. Dengan mendatangi langsung atau mengirimkan surat secara pribadi, seorang penasihat sebenarnya sedang membuka pintu hati sang penguasa agar lebih mudah menerima kebenaran. Metode ini mencerminkan ketulusan niat, di mana si pengkritik benar-benar menginginkan perbaikan, bukan sekadar ingin memuaskan ego atau mendapatkan pengakuan sebagai pahlawan dari khalayak ramai. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara menasihati demi kebenaran dengan mempermalukan demi kepuasan emosional.
Selain cara penyampaian, para ulama salaf juga sangat memperhatikan pilihan kata yang santun dan penuh wibawa. Mereka tidak menggunakan caci maki atau narasi yang merendahkan, karena lisan yang kasar sering kali justru menutup peluang bagi pesan kebaikan untuk meresap. Sejarah mencatat bagaimana tokoh-tokoh besar seperti Imam Ahmad bin Hanbal tetap menunjukkan rasa hormat dan mendoakan kebaikan bagi penguasa, meskipun beliau sendiri sedang mengalami ujian berat akibat kebijakan penguasa saat itu. Sikap ini lahir dari pemahaman bahwa doa tulus bagi pemimpin agar mendapatkan hidayah jauh lebih produktif bagi kemaslahatan umat daripada seribu hujatan yang hanya akan memperkeruh suasana. Fokus mereka adalah pada substansi masalah, bukan pada kebencian personal terhadap sosok individu.
Terakhir, keteladanan para ulama dalam mengkritik penguasa selalu didasari oleh pertimbangan kemaslahatan yang lebih besar. Mereka sangat berhati-hati agar kritik yang disampaikan tidak menjadi pemantik bagi fitnah atau kekacauan yang jauh lebih merusak daripada ketidakadilan yang sedang dikritik. Dengan menempatkan adab di atas amarah, para ulama salaf telah mengajarkan bahwa integritas seorang pejuang kebenaran diuji pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara ketegasan prinsip dan kelembutan sikap. Menasihati pemimpin dengan elegan adalah bentuk cinta yang tertinggi terhadap negara dan agama, sebuah cara untuk memastikan bahwa api kebenaran tetap menyala tanpa harus membakar rumah yang kita tinggali bersama.