Bahaya "Over-Parenting": Kenapa Membantu Semua Kesulitan Anak Justru Bikin Mereka Lumpuh Mental saat Dewasa

Bahaya "Over-Parenting": Kenapa Membantu Semua Kesulitan Anak Justru Bikin Mereka Lumpuh Mental saat Dewasa

20 Februari 2026 | 15:48

keboncinta.com--  Setiap orang tua tentu menginginkan jalan yang mulus bagi masa depan buah hatinya. Ada dorongan naluriah untuk segera berlari dan menyingkirkan kerikil tajam setiap kali melihat anak mulai tersandung. Namun, tren pola asuh yang terlalu protektif atau sering disebut sebagai over-parenting justru menyimpan bom waktu bagi kesehatan mental anak. Ketika orang tua selalu hadir sebagai "pemadam kebakaran" yang memadamkan setiap percikan kesulitan—mulai dari mengerjakan tugas sekolah hingga menengahi konflik pertemanan—anak kehilangan kesempatan emas untuk melatih otot-otot emosional mereka sendiri.

Kecenderungan untuk memanjakan anak dengan kemudahan ini menciptakan lingkungan yang steril dari kegagalan. Masalahnya, ketangguhan atau resiliensi tidak tumbuh di lahan yang terlalu subur dan tanpa tantangan. Resiliensi dibangun melalui rasa frustrasi, percobaan yang gagal, dan keberanian untuk bangkit kembali. Jika semua hambatan dihilangkan oleh tangan orang tua, anak akan tumbuh dengan keyakinan palsu bahwa dunia akan selalu menyesuaikan diri dengan keinginan mereka. Alih-alih menjadi pribadi yang mandiri, mereka justru menjadi individu yang sangat bergantung pada validasi dan bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalah yang paling sederhana sekalipun.

Dampak yang paling mengkhawatirkan muncul saat mereka memasuki fase dewasa muda. Banyak ahli menyebut fenomena ini sebagai "lumpuh mental," di mana seseorang merasa kewalahan menghadapi realitas kehidupan yang tidak terduga. Tanpa "kotak peralatan" emosional untuk mengatasi stres, mereka cenderung mudah mengalami kecemasan akut dan depresi saat menghadapi tekanan di dunia kerja atau kegagalan dalam hubungan romantis. Mereka memiliki kualifikasi akademik yang tinggi, namun secara mental mereka rapuh karena tidak pernah belajar bagaimana caranya merasa tidak nyaman atau bagaimana mengambil keputusan yang berisiko.

Oleh karena itu, tugas sejati orang tua bukanlah menyiapkan jalan yang rata untuk anak, melainkan menyiapkan anak agar mampu melewati jalan yang bergelombang. Membiarkan anak merasakan konsekuensi dari kesalahan mereka—seperti membiarkan mereka mendapat nilai rendah jika lupa belajar—adalah bentuk cinta yang lebih dalam daripada memberikan bantuan instan. Kegagalan kecil di masa kecil adalah vaksin mental yang diperlukan agar mereka tidak tumbang saat menghadapi badai besar di masa depan. Memberi ruang bagi anak untuk berjuang adalah hadiah terbaik yang bisa diberikan agar mereka tumbuh menjadi dewasa yang berdaya, bukan dewasa yang terus-menerus mencari pegangan.

Tags:
Parenting Pola Asuh Kesehatan Mental Anak Kemandirian Anak

Komentar Pengguna