keboncinta.com --- Banyak yang bertanya: Apakah sholat yang dilakukan tanpa khusyuk tetap diterima oleh Allah SWT? Pertanyaan ini penting karena khusyuk merupakan inti dari sholat, sebagai bentuk kepasrahan lahir dan batin kepada Allah SWT.
Secara bahasa, khusyuk berasal dari kata khasya‘a yang berarti tenang, tunduk, dan merendahkan diri. Dalam ibadah, khusyuk menggambarkan kondisi hati dan anggota badan yang fokus, tidak lalai, dan sepenuhnya tertuju kepada Allah.
Allah SWT memuji orang-orang beriman yang menjaga kekhusyukan dalam sholat, sebagaimana firman-Nya:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya."
(QS. Al-Mu’minun: 1-2)
Kata aflaha dalam ayat ini bermakna beruntung, berbahagia, dan berhasil, menunjukkan bahwa khusyuk adalah salah satu kunci keberhasilan dan kebahagiaan seorang mukmin.
Kekhusyukan tidak hanya membawa pahala, tetapi juga menjadikan sholat sebagai penolong di setiap kesulitan. Allah SWT berfirman:
وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ
"Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk."
(QS. Al-Baqarah: 45)
Sholat yang dilakukan dengan khusyuk akan terasa ringan dan menenangkan. Bahkan, Allah SWT menegaskan bahwa sholat berperan sebagai benteng moral:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
"Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (sholat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-‘Ankabut: 45)
Para ulama menjelaskan bahwa khusyuk bukan syarat sah sholat, melainkan kesempurnaan ibadah. Syarat sah sholat adalah:
Menghadap kiblat
Menutup aurat
Suci dari hadas besar dan kecil
Sedangkan rukunnya meliputi niat, takbiratul ihram, membaca al-Fatihah, rukuk, i‘tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, tasyahud, shalawat, dan salam, semuanya dilakukan dengan tuma’ninah (tenang).
Hal ini ditegaskan oleh para ulama, seperti disebutkan dalam hadits sahih:
"Kemudian rukuklah hingga kamu tuma'ninah dalam rukuk. Lalu bangkitlah hingga kamu tuma'ninah dalam berdiri. Lalu sujudlah hingga kamu tuma'ninah dalam sujud. Lakukanlah hal itu dalam seluruh sholatmu."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari sini, sholat tanpa khusyuk tetap sah, tetapi nilainya berbeda. Sholat yang tidak khusyuk tetap menggugurkan kewajiban, namun tidak mencapai kesempurnaan ibadah.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya seorang hamba mengerjakan sholat, tetapi tidak ditulis baginya kecuali seperenam atau sepersepuluhnya."
(HR. Abu Daud, Ahmad, dan Ibnu Hibban)
Hadits ini menunjukkan bahwa kualitas sholat diukur dari kadar kekhusyukan. Semakin khusyuk, semakin besar nilai pahala.
Untuk meraih khusyuk, para ulama menganjurkan:
✅ Memahami makna bacaan sholat
✅ Mengingat kematian saat sholat
✅ Menyingkirkan gangguan konsentrasi
✅ Memperbanyak doa agar diberi kekhusyukan
Rasulullah SAW sendiri sering berdoa:
"اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا"
"Ya Allah, jadikanlah di hatiku cahaya."
(HR. Muslim)
Kesimpulan:
Sholat tanpa khusyuk tetap sah, tetapi kekhusyukan menentukan kualitas dan pahala sholat.