Sejarah
Admin

Apakah Benar Sultan Jalaluddin Akbar Tak Bisa Baca Tulis? Menguak Jejak Sejarah Sang Pemimpin Besar Mughal

Apakah Benar Sultan Jalaluddin Akbar Tak Bisa Baca Tulis? Menguak Jejak Sejarah Sang Pemimpin Besar Mughal

07 Desember 2025 | 19:22

Keboncinta.com-- Kisah mengenai kejayaan Kesultanan Mughal di India selalu dikaitkan dengan sosok besar Sultan Jalaluddin Muhammad Akbar, penguasa termasyhur dari kesultanan tersebut.

Sultan Jalaluddin Muhammad Akbar sering digambarkan sebagai penguasa besar yang membentuk wajah India pada abad ke-16. Ia memimpin Kesultanan Mughal dengan kekuasaan yang luas, otoritas yang kuat, serta visi pemerintahan yang melampaui zamannya.

Di tengah reputasi besarnya, muncul sebuah pernyataan yang kerap dibicarakan dalam sejarah, yaitu: bahwa Akbar tidak bisa membaca.

Kisah mengenai literasi Akbar muncul dalam catatan para penulis sezamannya, yang menyebutkan bahwa ia tidak banyak menerima pendidikan formal pada masa kecilnya.

Usianya yang masih sangat muda ketika naik tahta, ditambah kehidupan berpindah-pindah di tengah konflik dinasti, dianggap membuatnya tidak memiliki waktu untuk belajar menulis secara terstruktur.

Baca Juga: Sejarah Evolusi Senjata Api: Bermula dari Pencarian Ramuan Keabadian Dinasti Tang hingga Menjelma jadi Teknologi Militer Modern

Gambaran ini kemudian menghadirkan anggapan bahwa Akbar tumbuh sebagai sosok yang menguasai seni berperang, tetapi tidak terlalu akrab dengan buku.

Meskipun demikian, riwayat Akbar justru menunjukkan kedekatannya dengan dunia intelektual. Istana Mughal yang ia pimpin menjadi ruang pertemuan bagi para cendekiawan dari berbagai wilayah.

Pertemuan itu tidak hanya sekadar diskusi resmi, tetapi juga menjadi tempat pertukaran pengetahuan, ide-ide filosofis, dan pembicaraan mengenai agama serta budaya.

Akbar sering duduk mendengarkan, menanggapi, dan menilai gagasan-gagasan yang datang, seolah-olah ia memiliki kedalaman pengetahuan yang diperoleh dengan cara lain selain membaca.

Kemampuan Akbar untuk mengingat, mengolah, dan menafsirkan informasi membuatnya dikenal sebagai sosok yang peka terhadap perubahan.

Ia mengundang para pujangga, pemikir, ulama, dan pemimpin agama untuk berbicara di hadapannya, bukan semata-mata untuk mempertanyakan ajaran mereka, tetapi untuk memahami cara pandang mereka terhadap dunia.

Baca Juga: Alhamdulillah! Kemenag Kucurkan Bantuan Miliaran untuk KKG-MGMP dan Tingkatkan Tunjangan Guru

Dari ruang dialog itu lahir kebijakan toleransi beragama yang menjadi salah satu ciri khas pemerintahannya.

Sejumlah sumber sejarah menggambarkan Akbar sebagai seorang penguasa yang lebih mengandalkan pengetahuan lisan dibanding teks tertulis. Sekretaris istana membaca surat-surat penting untuknya, sementara ia memberikan respon secara verbal.

Keterampilan menulis mungkin tidak ia miliki, tetapi kejernihan berpikir dan keberaniannya mengambil keputusan menjadikannya sosok yang dihormati.

Dengan cara yang unik, Akbar membangun otoritasnya melalui kecerdasan oral, bukan literasi teknis.

Di balik kehidupan intelektualnya, Akbar juga berperan sebagai pelindung kebudayaan. Ia memberikan ruang bagi seniman, membangun monumen arsitektur megah, dan membuka jalan bagi lahirnya karya-karya sastra dalam bahasa Persia dan Hindi.

Baca Juga: Sejarah Evolusi Senjata Api: Bermula dari Pencarian Ramuan Keabadian Dinasti Tang hingga Menjelma jadi Teknologi Militer Modern

Kebijakan dan perlindungannya terhadap seni menunjukkan bahwa ia memiliki pemahaman mendalam mengenai nilai kebudayaan sebagai alat pemersatu kerajaan.

Perdebatan mengenai kemampuan membaca Akbar pada akhirnya bukan hanya soal apakah ia mengenali huruf atau tidak, tetapi bagaimana seorang pemimpin mampu membangun peradaban tanpa mengandalkan pendidikan formal seperti yang lazim pada bangsawan masa itu.

Di balik kontroversi itu, sosok Akbar tampak sebagai penguasa yang percaya pada pengetahuan, namun mempelajarinya dengan cara yang berbeda.

Kesultanan Mughal yang ia pimpin meninggalkan warisan panjang dalam arsitektur, politik, hingga tradisi intelektual. Nama Akbar tidak hanya diingat sebagai raja, tetapi sebagai tokoh yang merumuskan jati diri negeri yang kompleks dan beragam.

Baca Juga: BGN Dorong Standarisasi 120 Dapur SPPG di Cirebon untuk Tingkatkan Pelayanan Gizi kepada 3.000 Penerima Manfaat

Pertanyaan tentang kemampuan literasinya, justru menambah warna dalam narasi hidupnya: bahwa seorang pemimpin besar bisa lahir dari pengalaman, intuisi, dan kepekaan, bukan semata-mata dari kemampuan membaca buku dan tulisan-tulisan.***

Tags:
Sejarah Sejarah Islam sejarah dunia

Komentar Pengguna