keboncinta.com-- Menghadapi anak yang picky eater (pilih-pilih makanan) sering kali menguras emosi orang tua. Rasanya campur aduk antara cemas akan nutrisi anak dan frustrasi karena masakan sudah disiapkan susah payah tapi berakhir ditolak. Namun, satu hal yang disepakati para ahli: memaksa anak makan justru akan memperburuk keadaan.
Memaksa anak bisa memicu trauma dan asosiasi negatif terhadap makanan. Sebagai solusinya, ada metode ilmiah yang jauh lebih lembut namun efektif, yaitu Food Chaining.
Apa Itu Food Chaining?
Food Chaining adalah teknik terapi makan yang dilakukan dengan cara memperkenalkan makanan baru yang memiliki kemiripan sifat (tekstur, rasa, atau warna) dengan makanan yang sudah disukai anak. Tujuannya adalah memperluas zona nyaman anak secara perlahan tanpa membuatnya merasa terancam.
Cara Kerja Food Chaining
Bayangkan sebuah rantai. Mata rantai pertama adalah makanan favorit anak, dan mata rantai terakhir adalah target makanan baru. Kita tidak melompat langsung, tapi melalui perantara.
Misalnya, anak Anda hanya mau makan Nugget Ayam Goreng:
Trik Menjalankan Food Chaining di Rumah
Mengapa Tekanan Harus Dihilangkan?
Saat anak dipaksa, tubuh mereka memproduksi hormon stres. Secara biologis, sulit bagi siapa pun untuk merasa lapar atau ingin makan dalam kondisi stres. Dengan metode Food Chaining, kita menghargai ritme anak dan membangun kepercayaan diri mereka di meja makan.
Ingat: Tugas orang tua adalah menyediakan makanan bergizi di meja, sedangkan tugas anak adalah menentukan berapa banyak yang ingin mereka makan.
Kesimpulan
Menangani anak picky eater adalah maraton, bukan lari cepat. Fokuslah pada kemajuan kecil. Jika hari ini anak hanya mau memegang brokoli tanpa memakannya, itu sudah sebuah kemenangan. Dengan kesabaran dan strategi food chaining, daftar makanan yang disukai anak akan bertambah seiring berjalannya waktu.