Adab dalam Berpakaian: Antara Syariat dan Estetika

Adab dalam Berpakaian: Antara Syariat dan Estetika

04 November 2025 | 19:37

Keboncinta.com--   Berpakaian dalam Islam bukan hanya persoalan menutup tubuh, tetapi juga menjaga martabat dan kesadaran diri di hadapan Allah. Ia adalah cermin antara syariat dan estetika—antara kewajiban moral dan keindahan spiritual. Dalam pakaian, tersimpan pesan tentang siapa kita dan kepada siapa kita tunduk.

Pakaian Sebagai Anugerah dan Amanah

Al-Qur’an menempatkan pakaian bukan sekadar pelindung fisik, tetapi juga simbol moral:

“Wahai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al-A’raf 7:26)

Ayat ini menegaskan dua dimensi pakaian: syariat—menutup aurat, dan estetika—menampakkan keindahan yang santun. Islam tidak menolak keindahan; ia hanya menuntun agar keindahan tidak berubah menjadi kesombongan.

Antara Kesopanan dan Keindahan

Rasulullah ļ·ŗ bersabda:

“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim no. 91)

Keindahan yang dimaksud bukanlah kemewahan yang memamerkan, tetapi kerapian dan kebersihan yang menumbuhkan rasa hormat. Rasulullah ļ·ŗ berpakaian sederhana, namun selalu rapi dan wangi. Beliau melarang pakaian yang sombong atau berlebihan, tetapi juga menolak kekumuhan yang dianggap sebagai kesalehan palsu.

Dalam Islam, berpakaian adalah bentuk adab, bukan sekadar gaya. Adab berarti tahu tempat dan tahu batas: tidak pamer di hadapan manusia, dan tidak lalai di hadapan Tuhan.

Menjaga Identitas dan Nilai

Pakaian juga menjadi simbol identitas umat. Dengan berpakaian sesuai tuntunan syariat, seorang Muslim tidak hanya menutup tubuh, tetapi menegakkan nilai moral di ruang publik.
Namun, syariat tidak pernah meniadakan selera estetika. Selama pakaian itu menutup aurat dan tidak menimbulkan fitnah, Islam membuka ruang bagi kreativitas dan keindahan budaya.

Keindahan yang Beradab

Dalam berpakaian, Islam mengajarkan keseimbangan antara bentuk dan makna.
Syariat menjaga batas, estetika menumbuhkan rasa. Dan ketika keduanya bersatu, pakaian menjadi lebih dari sekadar kain—ia menjadi bahasa kesalehan yang indah, tenang, dan penuh makna.

Contributor: Tegar Bagus Pribadi

 

Tags:
Khazanah Islam Akhlak mulia Khazanah Adab Estetika

Komentar Pengguna