keboncinta.com-- Menghadapi kenyataan bahwa anak mungkin menjadi sasaran perundungan atau bullying adalah mimpi buruk bagi setiap orang tua, namun membekali mereka dengan kepalan tangan bukan selalu menjadi solusi yang bijak. Sering kali, reaksi pertama kita sebagai orang tua adalah menyuruh anak untuk "membalas lebih keras," padahal tindakan tersebut berisiko mengubah anak kita menjadi pelaku kekerasan baru atau justru membuat mereka terjebak dalam masalah kedisiplinan yang lebih rumit di sekolah. Melatih anak membela diri sebenarnya lebih banyak tentang membangun benteng kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi asertif daripada melatih teknik bela diri fisik. Tujuan utamanya adalah membuat anak menjadi target yang "sulit" bagi perundung melalui aura keberanian yang tenang, bukan melalui agresi yang meledak-ledak.
Langkah dasar yang paling krusial adalah melatih bahasa tubuh dan proyeksi suara anak agar mereka memancarkan rasa percaya diri. Seorang perundung biasanya mencari target yang terlihat rapuh, mudah goyah, atau menunjukkan reaksi ketakutan yang emosional. Ajarkan anak untuk berdiri tegak dengan bahu terbuka, mempertahankan kontak mata yang stabil, dan berbicara dengan nada suara yang rendah namun tegas. Anda bisa bermain peran di rumah untuk mempraktikkan cara mengatakan "Hentikan, aku tidak suka caramu bicara padaku" dengan volume yang cukup keras agar didengar orang sekitar namun tetap terkontrol. Dengan menunjukkan bahwa mereka tidak terintimidasi, anak sebenarnya sedang memutus pasokan "kepuasan" yang dicari oleh perundung dari reaksi korbannya.
Selain postur fisik, anak juga perlu dibekali dengan teknik pertahanan verbal yang cerdas agar tidak terjebak dalam adu mulut yang merugikan. Salah satu teknik yang efektif adalah "fogging" atau menanggapi ejekan dengan persetujuan yang santai atau ketidakpedulian yang total. Jika seseorang mengejek pakaiannya, anak bisa dilatih untuk merespons dengan kalimat pendek seperti "Mungkin saja, tapi aku suka memakainya" lalu segera berjalan pergi. Hal ini menunjukkan bahwa kata-kata si perundung tidak memiliki kuasa untuk merusak suasana hati anak. Membela diri secara verbal adalah tentang menjaga martabat diri tanpa harus menjatuhkan martabat orang lain, sebuah keterampilan sosial yang akan sangat berguna hingga mereka dewasa nanti.
Penting juga bagi orang tua untuk memberikan pemahaman mengenai perbedaan antara "mengadu" dan "melaporkan demi keamanan." Sering kali anak-anak enggan melapor kepada guru atau orang tua karena takut dianggap lemah atau tukang mengadu. Kita harus menegaskan bahwa meminta bantuan otoritas ketika situasi sudah melampaui batas adalah sebuah langkah strategis yang cerdas, bukan tanda ketidakberdayaan. Pastikan anak tahu bahwa mereka selalu memiliki tempat aman untuk bercerita tanpa dihakimi. Dengan membangun komunikasi yang terbuka di rumah, anak akan merasa memiliki pendukung yang kuat, yang secara otomatis meningkatkan daya tahan mental mereka saat menghadapi tekanan di luar rumah.
Pada akhirnya, melatih anak untuk membela diri tanpa kekerasan adalah tentang menanamkan keyakinan bahwa nilai diri mereka tidak ditentukan oleh pendapat atau perlakuan orang lain. Anak yang tahu harga dirinya tidak akan mudah hancur oleh kata-kata kasar, dan anak yang memiliki kecerdasan emosional akan tahu bahwa kekerasan hanya akan melahirkan lingkaran setan yang tidak berujung. Dengan memberikan mereka "perisai" berupa rasa percaya diri dan "pedang" berupa kata-kata yang tegas, Anda sedang mempersiapkan mereka untuk berdiri tegak di tengah dunia yang tidak selalu ramah, tanpa harus kehilangan kebaikan hati yang menjadi jati diri mereka.