Keboncinta.com-- Proses sinkronisasi pada Dapodik 2026 kembali menjadi perhatian banyak operator sekolah. Tidak sedikit yang mengalami kendala saat mencoba mengirim data ke server pusat.
Mulai dari gagal tukar pengguna hingga proses yang berhenti di tengah jalan, berbagai masalah teknis kerap muncul dan menghambat pelaporan data sekolah.
Agar tidak panik saat menghadapi situasi tersebut, penting untuk memahami sejumlah penyebab umum gagalnya sinkronisasi Dapodik 2026 beserta langkah penanganannya.
Salah satu kendala yang paling sering terjadi adalah tidak bisa menukar pengguna ke akun Kepala Sekolah (KS).
Baca Juga: Cara Sinkronisasi Dapodik 2026 yang Benar: Hindari Error dan Tombol Tidak Muncul
Masalah ini umumnya disebabkan oleh akun KS yang ganda atau belum terdaftar dengan benar di SP DataDik.
Solusi yang dapat dilakukan adalah menghapus akun ganda melalui dinas pendidikan, kemudian melakukan tarik data ulang agar sistem membaca akun yang valid.
Kendala lain yang kerap dikeluhkan adalah menu sinkronisasi yang tidak muncul. Hal ini biasanya terjadi karena pengaturan peran atau tugas tambahan Kepala Sekolah belum disesuaikan di sistem. Jika role belum aktif, maka fitur sinkronisasi tidak akan tampil.
Ada pula kasus di mana akun Kepala Sekolah tidak terdeteksi meskipun sudah terdaftar.
Dalam kondisi ini, perlu dilakukan pengecekan ulang di SP DataDik, memastikan data sudah benar, lalu melakukan proses tarik data kembali agar pembaruan tersinkron ke aplikasi.
Baca Juga: Panduan Lengkap Pendaftaran TKA SD dan SMP Tahun 2026 Agar Proses Ujian Lancar dan Tepat Sasaran
Beberapa operator juga melaporkan proses sinkronisasi yang tiba-tiba terhenti atau hilang di tengah jalan. Gangguan server pusat atau bug pada aplikasi bisa menjadi penyebabnya.
Langkah yang disarankan adalah menginstal ulang aplikasi menggunakan versi terbaru, yakni 2026C, agar sistem berjalan lebih stabil.
Masalah lain yang sering muncul adalah terdeteksinya prefill lama. Jika notifikasi ini muncul, operator cukup melakukan tarik data ulang agar sistem memperbarui basis data yang digunakan.
Selain itu, proses sinkronisasi yang berhenti pada persentase tertentu biasanya berkaitan dengan cache atau gangguan aplikasi.
Membersihkan cache browser atau melakukan instal ulang aplikasi sering kali menjadi solusi efektif.
Kendala tidak terhubung ke server juga menjadi penyebab umum gagalnya sinkronisasi.
Dalam situasi ini, operator perlu memastikan koneksi internet stabil atau menunggu hingga server pusat kembali normal jika sedang mengalami kepadatan akses.
Ada pula kasus ketika saat menekan tombol sinkronisasi justru muncul menu tarik data. Kondisi ini mengindikasikan adanya masalah pada akun KS, seperti akun ganda atau hak akses yang belum sesuai.
Jika seluruh langkah penanganan telah dilakukan namun kendala tetap terjadi, operator sekolah disarankan segera berkoordinasi dengan dinas pendidikan setempat atau berdiskusi di forum komunitas operator untuk mendapatkan pembaruan solusi teknis terbaru.
Memahami penyebab dan prosedur penanganan sejak awal akan membantu sekolah menghindari risiko data tidak terkirim ke server pusat serta memastikan proses pelaporan berjalan lancar dan tepat waktu.***