keboncinta.com-- Melihat anak tumbuh menjadi pribadi yang penurut dan rajin tentu menjadi impian setiap orang tua, namun sering kali kita terjebak pada jalan pintas berupa pemberian hadiah atau "iming-iming" untuk memancing perilaku baik tersebut. Memberikan stiker, makanan manis, atau mainan baru setiap kali anak berhasil membereskan tempat tidur atau mendapatkan nilai bagus memang memberikan hasil instan yang memuaskan. Namun, dalam dunia parenting, cara ini sebenarnya adalah pedang bermata dua yang bisa melukai motivasi internal anak. Ketika kita membiasakan anak untuk bekerja demi imbalan materi, kita secara tidak sadar sedang menggeser fokus mereka dari nilai sebuah perbuatan menjadi sekadar transaksi ekonomi yang kering akan makna moral.
Fenomena ini sering dijelaskan dalam psikologi sebagai efek overjustification, di mana pemberian hadiah eksternal untuk aktivitas yang seharusnya menyenangkan atau bermakna justru menurunkan minat alami anak terhadap aktivitas tersebut. Anak yang awalnya senang membantu karena rasa empati atau rasa ingin tahu, perlahan-lahan akan kehilangan kegembiraan murni tersebut karena otak mereka mulai terprogram untuk hanya mencari "upah" di akhir tugas. Jika hal ini terus dilakukan, anak tidak lagi belajar tentang esensi tanggung jawab atau kepedulian, melainkan belajar menjadi seorang negosiator ulung yang selalu bertanya "apa untungnya buatku?" sebelum mereka mau bergerak untuk melakukan hal yang benar.
Bahaya jangka panjang dari pola asuh transaksional ini adalah terciptanya karakter yang sangat bergantung pada validasi eksternal. Anak yang terbiasa "disogok" akan kesulitan membangun regulasi diri yang kuat saat mereka berada di dunia nyata yang tidak selalu memberikan hadiah atas setiap tindakan baik. Mereka mungkin akan merasa hampa atau malas bergerak ketika tidak ada imbalan materi yang menanti, karena mereka tidak pernah dilatih untuk merasakan kepuasan batin yang muncul secara alami saat berhasil menyelesaikan tantangan atau menolong orang lain. Motivasi yang bersumber dari luar bersifat sangat rapuh; ia akan segera lenyap begitu hadiahnya tidak lagi menarik atau frekuensi pemberiannya berkurang.
Sebagai orang tua, tugas kita adalah membantu anak menemukan "mengapa" di balik setiap tindakan mereka, bukan sekadar memastikan mereka melakukan "apa" yang kita perintahkan. Alih-alih menawarkan hadiah materi, cobalah untuk memberikan apresiasi verbal yang spesifik terhadap usaha mereka atau jelaskan dampak positif dari perbuatan baik tersebut bagi orang di sekitar mereka. Mengajak anak merasakan kebanggaan saat berhasil menguasai keterampilan baru atau melihat senyum orang lain yang mereka bantu akan membangun fondasi karakter yang jauh lebih kokoh. Dengan membiarkan motivasi internal mereka tumbuh subur tanpa gangguan iming-iming, kita sedang mempersiapkan mereka menjadi orang dewasa yang berintegritas, yang melakukan hal benar karena memang itulah jati diri mereka, bukan karena ada hadiah yang menunggu di garis finis.