Keboncinta.com - Sekto pertanian di Indonesia kini dihadapkan pada tantangan berat akibat lonjakan harga pupuk kimia sintetis serta penurunan kualitas dan kesuburan tanah. Penurunan kualitas lahan sawah ini umumnya disebabkan oleh kebiasaan pola tanam monokultur tanpa jeda, penggunaan dosis pupuk anorganik yang berlebihan, serta pemakaian pestisida kimia secara terus-menerus yang merusak ekosistem dan mematikan fauna tanah.
Menanggapi persoalan tersebut, pakar pertanian Boediono membagikan pandangan mendalam mengenai strategi pemulihan kesehatan tanah sekaligus efisiensi biaya produksi melalui penggunaan biochar (arang hayati) dan optimalisasi mikroorganisme tanah.
Dalam pemaparannya, Boediono mengungkapkan fakta menarik bahwa air hujan yang turun sejatinya membawa berkah hara alami yang setara dengan seratus kilogram pupuk urea per hektar, dengan catatan jika mikroorganisme tanah berada dalam kondisi hidup dan aktif.
Namun, praktik pemupukan fosfat konvensional yang dilakukan petani selama ini dinilai sangat tidak efisien karena tanaman hanya mampu menyerap sekitar 25 persen hara pada musim pertama, sedangkan sisanya mengendap dan terikat di dalam tanah. Oleh karena itu, pengembalian keanekaragaman hayati tanah serta rotasi tanaman seperti penyelang palawija sangat krusial untuk memutus rantai racun dan mengembalikan kesehatan ekosistem tanah.
Salah satu inovasi penting yang dihadirkan untuk menekan pemakaian pupuk kimia hingga 30 sampai 50 persen adalah pemanfaatan biochar atau arang sekam yang diolah dengan teknologi mikro halus (nano technology).
Arang sekam yang dihaluskan menjadi serbuk mampu bertindak sebagai pelindung hara, tempat pertukaran kation, serta rumah bagi jutaan mikroorganisme menguntungkan. Dengan mencampurkan satu bagian serbuk biochar ke dalam dua atau tiga bagian pupuk NPK, sifat pemupukan yang tadinya mudah terbuang dan menguap berubah menjadi slow release atau dilepaskan secara perlahan sesuai kebutuhan tanaman.
Selain efisiensi pemupukan, proses pembuatan biochar yang dilakukan secara terisolasi tanpa oksigen juga menghasilkan produk sampingan berupa asap cair (liquid smoke). Asap cair yang berasal dari limbah pertanian seperti sabut kelapa atau pelepah sawit ini dapat difungsikan sebagai pelarut alami yang meningkatkan efektivitas pestisida nabati hingga 80 persen.
Di samping itu, petani juga dibimbing untuk memanfaatkan bahan-bahan organik sekitar seperti urine ternak yang kaya nitrogen dan zat pengatur tumbuh (ZPT), serta air kelapa untuk membasahi biochar sebelum diaplikasikan ke lahan pertanian.
Aplikasi biochar secara langsung ke lubang tanam juga terbukti efektif berfungsi sebagai bioremediasi yang sanggup menetralkan racun, logam berat, serta mengendalikan tingkat kelembapan tanah. Pori-pori mikro pada arang hayati menjadi benteng pertahanan alami bagi agen hayati seperti Trichoderma untuk berkembang biak dan melawan agen penyakit tanaman secara biologis.
Melalui penerapan pertanian terpadu dan pemanfaatan limbah biomassa ini, para petani diharapkan mampu menciptakan sistem budidaya yang ramah lingkungan, mandiri energi, serta jauh lebih hemat secara ekonomis. (swd)