Keboncinta.com-- Asesmen merupakan salah satu bagian penting dalam pembelajaran. Melalui asesmen, guru dapat memperoleh informasi mengenai perkembangan, pemahaman, dan pencapaian peserta didik selama mengikuti proses belajar.
Namun, setiap bentuk asesmen tidak memiliki tujuan yang sama. Dua istilah yang cukup sering digunakan dalam pembelajaran adalah Asesmen Sumatif Lingkup Materi (ASLM) dan asesmen formatif.
Keduanya sama-sama menghasilkan informasi mengenai proses belajar siswa. Meski demikian, waktu pelaksanaan, tujuan, serta cara memanfaatkan hasilnya memiliki perbedaan.
Pemahaman terhadap perbedaan tersebut penting agar asesmen tidak hanya digunakan untuk mendapatkan nilai, tetapi benar-benar membantu guru menentukan langkah pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Baca Juga: Guru SD Bisa Tingkatkan Kompetensi Bahasa Inggris, Ini Program dan Kemampuan yang Dikembangkan
Asesmen Sumatif Lingkup Materi atau ASLM digunakan untuk mengetahui pencapaian peserta didik setelah sebuah lingkup materi atau kompetensi selesai dipelajari.
Sebagai contoh, guru kelas VI telah menuntaskan pembelajaran tentang pecahan. Setelah seluruh materi dalam lingkup tersebut diberikan, guru dapat melakukan ASLM untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap kompetensi yang menjadi target pembelajaran.
Dari hasil asesmen tersebut, guru memperoleh gambaran mengenai capaian masing-masing peserta didik. Informasi tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan tindak lanjut.
Siswa yang belum mencapai kompetensi dapat memperoleh pembelajaran remedial. Sementara itu, peserta didik yang telah menguasai materi dapat diberikan kegiatan pengayaan.
Karena itu, ASLM sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai kegiatan yang menghasilkan angka. Nilai yang diperoleh perlu dianalisis agar guru mengetahui bagian materi yang sudah dikuasai maupun yang masih membutuhkan perhatian.
Berbeda dengan ASLM, asesmen formatif lebih menekankan pada proses belajar yang sedang berlangsung.
Guru dapat menggunakan asesmen formatif ketika sebuah materi masih diajarkan. Tujuannya adalah memperoleh informasi secara cepat mengenai tingkat pemahaman siswa sehingga guru dapat menyesuaikan pembelajaran.
Misalnya, saat mengajarkan materi pecahan, guru memberikan beberapa pertanyaan singkat di tengah kegiatan belajar. Dari jawaban siswa, guru mengetahui bahwa sebagian besar peserta didik masih kesulitan memahami cara membandingkan dua pecahan.
Guru kemudian dapat segera melakukan penyesuaian. Penjelasan dapat diulang dengan menggunakan gambar, benda konkret, contoh yang berbeda, atau metode lain yang lebih mudah dipahami siswa.
Artinya, informasi dari asesmen formatif dimanfaatkan seketika untuk memperbaiki proses pembelajaran yang masih berlangsung.
Baca Juga: Guru Mulai Manfaatkan AI untuk Pembelajaran, Jangan Lupakan 5 Hal Penting Ini
Perbedaan antara ASLM dan asesmen formatif bukan sekadar mengenai apakah guru menggunakan soal pilihan ganda, pertanyaan lisan, tugas, kuis, observasi, atau tes tertulis.
Berbagai bentuk instrumen tersebut dapat menjadi bagian dari asesmen formatif apabila informasi yang diperoleh digunakan untuk memahami kebutuhan belajar peserta didik dan memperbaiki pembelajaran.
Sementara itu, ASLM memiliki fungsi untuk melihat capaian peserta didik setelah suatu lingkup materi atau kompetensi selesai dipelajari.
Dengan demikian, guru perlu melihat tujuan asesmen, kapan asesmen dilakukan, serta bagaimana hasilnya digunakan. Bentuk instrumen saja tidak cukup untuk menentukan apakah suatu kegiatan termasuk asesmen formatif atau ASLM.
Perbedaan kedua jenis asesmen tersebut dapat lebih mudah dipahami melalui contoh pembelajaran.
Misalnya, guru kelas VI sedang mengajarkan materi sistem peredaran darah. Ketika pembelajaran masih berlangsung, guru memberikan lima pertanyaan singkat untuk mengetahui pemahaman siswa mengenai fungsi jantung dan pembuluh darah.
Setelah memeriksa jawaban, guru menemukan bahwa beberapa konsep masih belum dipahami oleh siswa. Guru kemudian mengubah strategi dengan memberikan penjelasan tambahan dan menggunakan gambar sistem peredaran darah.
Kegiatan tersebut merupakan contoh asesmen formatif. Alasannya, informasi yang diperoleh langsung digunakan untuk memperbaiki pembelajaran yang sedang berlangsung.
Setelah seluruh materi sistem peredaran darah selesai dipelajari, guru kemudian melaksanakan ASLM. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian peserta didik sudah mencapai kompetensi yang ditargetkan, sedangkan beberapa siswa masih membutuhkan bantuan pada materi tertentu.
Guru dapat menggunakan hasil tersebut untuk memberikan tindak lanjut berupa remedial kepada siswa yang belum mencapai kompetensi serta pengayaan bagi peserta didik yang sudah menguasai materi.
Baca Juga: Cara Cek Data DTSEN Pakai NIK KTP secara Online, Ini Langkah dan Hal yang Perlu Diperhatikan
Meskipun memiliki fungsi yang berbeda, ASLM dan asesmen formatif sama-sama dapat membantu guru memperoleh informasi penting mengenai pembelajaran.
Asesmen formatif membantu guru mengetahui apa yang perlu segera diperbaiki agar siswa dapat memahami materi dengan lebih baik.
Sementara itu, ASLM memberikan gambaran mengenai sejauh mana kompetensi yang ditargetkan telah dikuasai setelah sebuah lingkup materi selesai dipelajari.
Karena memiliki fungsi yang berbeda, keduanya tidak perlu dipertentangkan. Guru justru dapat menggunakan kedua jenis asesmen tersebut secara tepat sesuai kebutuhan pembelajaran.
Asesmen formatif bukan sekadar kuis kecil sebelum ujian. Begitu pula ASLM tidak semata-mata ditujukan untuk menghasilkan nilai.
Jika dimanfaatkan dengan tepat, informasi dari kedua asesmen dapat menjadi bagian dari siklus pembelajaran. Guru memperoleh gambaran tentang kebutuhan siswa, melakukan penyesuaian selama proses belajar, kemudian melihat capaian setelah lingkup materi selesai.
Dengan pemahaman tersebut, asesmen dapat berfungsi lebih dari sekadar alat penilaian. Hasilnya dapat menjadi dasar bagi guru untuk merancang tindak lanjut dan memastikan pembelajaran benar-benar menyesuaikan kebutuhan peserta didik.***