Keboncinta.com-- Ada kalimat yang makin sering terdengar akhir-akhir ini: “jalanin aja dulu.” Biasanya muncul saat seseorang ditanya soal masa depan, tujuan hidup, atau keputusan besar yang seharusnya butuh arah jelas. Sekilas terdengar santai, bahkan bijak. Tapi kalau diperhatikan lebih dalam, kalimat itu kadang bukan sekadar sikap tenang, melainkan tanda lelah yang tidak sempat diberi nama.
Di balik fenomena ini, ada pergeseran cara manusia memaknai hidup. Dulu, orang cenderung mengejar tujuan jangka panjang dengan keyakinan bahwa segalanya harus punya makna besar. Sekarang, banyak yang justru merasa ragu untuk memberi makna terlalu cepat, karena pengalaman sering menunjukkan bahwa rencana tidak selalu berjalan sesuai harapan. Akibatnya, muncul sikap bertahan tanpa terlalu banyak bertanya: cukup bergerak, tanpa perlu terlalu yakin ke mana arah akhirnya.
Kalimat “jalani aja dulu” sering lahir dari dunia yang serba tidak pasti. Harga hidup yang naik, karier yang berubah cepat, relasi yang tidak selalu stabil, hingga tekanan sosial yang datang dari berbagai arah. Dalam situasi seperti ini, terlalu banyak berpikir tentang makna justru terasa melelahkan. Maka, nihilisme modern tidak selalu berarti tidak peduli pada hidup, tapi lebih seperti mekanisme bertahan: mengurangi ekspektasi agar tidak mudah jatuh.
Namun, ada sisi lain yang jarang disadari. Ketika “jalani aja dulu” menjadi kebiasaan, manusia perlahan bisa kehilangan kemampuan untuk benar-benar berhenti dan bertanya: sebenarnya aku mau apa? Hidup memang tetap berjalan, tapi arah bisa terasa kabur. Seperti berada di arus sungai yang deras, bergerak terus tanpa sempat memilih ke mana ingin berenang.
Menariknya, sikap ini juga menciptakan paradoks. Di satu sisi melindungi dari kekecewaan. Di sisi lain bisa menjauhkan seseorang dari rasa kepemilikan atas hidupnya sendiri. Bukan karena tidak mampu menentukan arah, tapi karena terlalu terbiasa menunda keputusan untuk merasa aman.