Teknologi
Hilmi An Naufal

Bukan Produk Impor, Trem Otonom ITB-INKA Gunakan AI dan Baterai 200 kWh

Bukan Produk Impor, Trem Otonom ITB-INKA Gunakan AI dan Baterai 200 kWh

13 Agustus 2026 | 06:39

KebonCinta.com – Indonesia ternyata sudah mempunyai trem yang dapat bergerak tanpa terus-menerus dikendalikan masinis.

Bentuknya memang masih menyerupai moda rel perkotaan pada umumnya. Namun di balik bodinya terdapat kamera, radar, LiDAR, sistem penentuan posisi, komputer, kecerdasan artifisial, serta sistem pengendalian elektronik yang membuat kendaraan mampu membaca kondisi di sekelilingnya.

Teknologi tersebut dikembangkan melalui kolaborasi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan PT Industri Kereta Api atau PT INKA. Trem bertenaga baterai itu kemudian diuji langsung di Jalan Slamet Riyadi, Solo, dalam lingkungan mixed traffic yang dipenuhi mobil, sepeda motor dan pejalan kaki.

Inilah yang membuat proyek tersebut menarik.

Indonesia tidak hanya mencoba kendaraan otonom buatan luar negeri.

Peneliti dan industri nasional juga membangun sistemnya sendiri.

Apa yang Dimaksud Trem Otonom Buatan Indonesia?

Istilah “buatan Indonesia” dalam proyek ini perlu dipahami secara tepat.

Platform trem berasal dari PT INKA, perusahaan industri perkeretaapian nasional. Sementara teknologi kecerdasan artifisial dan sistem otonom dikembangkan melalui kolaborasi penelitian dengan ITB. Program penelitian tersebut dipimpin Prof. Bambang Riyanto Trilaksono dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB.

LPDP menyebut proyek riset trem otonom sudah dikembangkan secara bertahap oleh ITB dan PT INKA sejak 2019. Pada 2021, proyek kemudian memperoleh pendanaan RISPRO Invitasi selama tiga tahun dengan total sekitar Rp10,447 miliar untuk periode 2021–2023.

Dana itu membantu penelitian bergerak dari eksperimen menuju prototipe yang akhirnya dapat diuji di lingkungan sebenarnya.

Jadi nilai penting proyek tersebut tidak hanya terletak pada sebuah kendaraan.

Ada transfer pengetahuan dari laboratorium menuju industri.

Trem Punya Dua “Otak” Pengoperasian

Teknologi yang dikembangkan ITB dibagi menjadi dua sistem utama.

Pertama adalah Tram Driving Assistance.

Pada mode ini, masinis masih mengoperasikan trem, tetapi sistem AI berfungsi sebagai asisten keselamatan.

Kamera dapat membantu memantau kondisi masinis, termasuk mendeteksi tanda kelelahan atau gangguan konsentrasi. Sistem juga dapat memberikan peringatan terhadap potensi tabrakan dan membantu mengawasi batas kecepatan pada bagian lintasan tertentu.

Konsepnya mirip fitur bantuan pengemudi pada mobil modern.

Manusia masih mengendalikan kendaraan, tetapi komputer terus mengawasi berbagai risiko di sekelilingnya.

Mode kedua jauh lebih menarik.

Namanya Full Autonomous Tram.

Dalam mode ini, sistem dirancang agar trem dapat bergerak tanpa masinis mengambil alih kendali secara terus-menerus.

Untuk melakukan hal tersebut, trem harus mampu menjawab pertanyaan yang biasanya dijawab manusia.

Ada apa di depan?

Seberapa jauh kendaraan tersebut?

Apakah sebuah objek sedang diam atau bergerak?

Apakah ada orang yang akan menyeberang?

Apakah trem perlu memperlambat laju?

Atau apakah harus berhenti?

Kamera, LiDAR dan Radar Menjadi “Mata” Trem

Manusia mengenali jalan menggunakan mata dan indra lainnya.

Kendaraan otonom memerlukan sensor.

Trem ITB-INKA menggunakan kombinasi kamera, radar, LiDAR dan GNSS yang terhubung ke sistem kecerdasan artifisial. Data dari berbagai sensor tersebut kemudian digunakan untuk memahami kondisi lingkungan di sekitar kendaraan.

Kamera membantu memberikan informasi visual.

LiDAR menggunakan pancaran laser untuk membantu memetakan posisi objek dan lingkungan secara tiga dimensi.

Radar berguna untuk membantu membaca keberadaan serta pergerakan objek.

Sementara GNSS membantu sistem mengetahui posisi kendaraan.

Bukan satu sensor yang bekerja sendirian.

Informasi dari semuanya digabungkan agar sistem mempunyai pemahaman lingkungan yang lebih lengkap.

Bisa Membedakan Mobil, Motor hingga Pejalan Kaki

Dalam pengujian di Solo, sistem AI pada trem dilaporkan mampu mendeteksi berbagai objek dinamis seperti mobil, sepeda motor dan pejalan kaki, sekaligus memperkirakan arah geraknya.

Kemampuan ini sangat penting.

Misalnya sebuah sepeda motor berada 20 meter di depan trem.

Komputer tidak cukup hanya mengetahui bahwa ada sebuah benda.

Ia harus memahami bahwa benda tersebut adalah kendaraan yang bergerak.

Sistem kemudian perlu menilai seberapa cepat motor bergerak, ke mana arahnya, apakah jaraknya aman, dan apakah terdapat kemungkinan lintasannya berpotongan dengan trem.

ITB menjelaskan ketika sistem menemukan potensi benturan, trem dapat secara otomatis menyesuaikan kecepatan serta membunyikan klakson sebagai peringatan.

Inilah bagian di mana kecerdasan artifisial digunakan bukan sekadar sebagai fitur tambahan.

AI menjadi bagian dari sistem keselamatan kendaraan.

Kalau Ada Orang Mendadak Menyeberang?

Skenario paling sulit bagi kendaraan otonom sering kali bukan jalan yang kosong.

Justru kejadian tidak terduga.

Seorang pejalan kaki tiba-tiba menyeberang.

Motor memotong rel.

Mobil berhenti di lintasan.

Untuk menghadapi situasi semacam itu, trem dilengkapi Emergency Braking System.

ITB melaporkan dalam situasi mendadak, sistem pengereman darurat dapat aktif secara otomatis agar kendaraan berhenti dengan aman.

Selain itu, mode otonom mempunyai fitur seperti traffic sign recognition dan adaptive cruise control. Pada mode bantuan masinis tersedia pula object detection, collision avoidance assist, driver attention warning dan speed limit assist.

Artinya, trem tidak hanya dibuat agar mampu bergerak sendiri.

Fokus pentingnya adalah mengetahui kapan harus memperlambat atau berhenti.

Perintah Komputer Diteruskan Lewat Drive-by-Wire

Setelah AI memutuskan kendaraan perlu mengerem atau menambah kecepatan, keputusan tersebut harus benar-benar diterjemahkan menjadi gerakan kendaraan.

Di sinilah sistem drive-by-wire berperan.

ITB menjelaskan teknologi sensor dan AI pada trem terhubung dengan sistem pengendalian tersebut sehingga komputer dapat memberikan perintah kepada kendaraan berdasarkan kondisi yang dibaca dari lingkungan.

Sederhananya, AI menjadi bagian yang “berpikir”, sementara sistem pengendali menjalankan keputusan.

Tanpa mekanisme seperti ini, kendaraan hanya akan mampu melihat lingkungan tetapi tidak bisa mengambil tindakan secara otomatis.

Ditenagai Baterai 200 kWh

Selain teknologi otonom, trem ini juga menarik dari sisi sumber tenaga.

Tidak menggunakan mesin diesel.

ITB menyebut trem menggunakan baterai berkapasitas 200 kWh dan dapat menempuh jarak hingga sekitar 90 kilometer dalam satu kali pengisian daya.

Dalam satu rangkaian terdapat dua gerbong.

LPDP menyebut masing-masing gerbong dapat menampung sekitar 40–60 orang, sehingga kapasitas total rangkaian secara kasar dapat mencapai sekitar 80–120 orang tergantung konfigurasi operasional.

Secara teknis trem disebut dapat mencapai sekitar 40 km/jam, meskipun pada kondisi lalu lintas perkotaan kecepatan operasionalnya berada pada kisaran lebih rendah, sekitar 15–30 km/jam menurut LPDP.

Kendaraan perkotaan memang tidak membutuhkan kecepatan ekstrem.

Keselamatan, kapasitas dan keteraturan perjalanan justru lebih penting.

Mengapa Uji Coba di Solo Begitu Penting?

Jika ingin kendaraan otonom terlihat hebat, sebenarnya mudah.

Masukkan ke lintasan tertutup.

Pastikan tidak ada motor, mobil atau orang menyeberang.

Kemudian biarkan kendaraan bergerak.

Masalahnya, kondisi itu tidak menggambarkan lingkungan kota sebenarnya.

Karena itu pengujian di Solo menjadi bagian penting dari pengembangan trem ini.

Jalan Slamet Riyadi memiliki jalur rel yang berinteraksi langsung dengan lalu lintas umum. PT INKA menyebut kondisi tersebut representatif untuk pengujian mixed traffic karena rel bercampur dengan jalan raya dan terdapat persimpangan yang juga digunakan pengguna jalan lain.

Artinya, trem harus berhadapan dengan ketidakpastian.

Motor bisa berada di rel.

Mobil dapat berpindah jalur.

Orang bisa menyeberang.

Kondisi lalu lintas dapat berubah dari menit ke menit.

Itulah tantangan sebenarnya bagi kendaraan otonom.

Pengembangan Tidak Langsung Dilepas ke Jalan Raya

Tim ITB dan PT INKA juga tidak langsung menguji mode penuh di tengah kota.

Pengembangannya dilakukan bertahap.

PT INKA menjelaskan pada tahun pertama pengembangan sejak 2021, pengujian dilakukan di lingkungan pabrik dengan kondisi lebih terkendali. Sistem ketika itu antara lain diuji untuk mendeteksi potensi tabrakan, kelebihan kecepatan serta kondisi masinis yang lelah atau mengantuk.

Pada tahun berikutnya, trem mulai diuji secara terbatas di jalur depan fasilitas INKA yang sudah mempunyai interaksi dengan lalu lintas umum.

Barulah kemudian kendaraan dibawa menuju pengujian mixed traffic yang jauh lebih kompleks di Solo.

Pendekatan seperti ini penting dalam pengembangan teknologi keselamatan.

Kemampuan baru diuji secara bertahap sebelum menghadapi kondisi yang lebih sulit.

15 Hari Berhadapan dengan Lalu Lintas Nyata

Pengujian mixed traffic berlangsung selama 15 hari pada 7–21 November 2024 di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, Solo. ITB mencatat trem beroperasi dengan kecepatan rata-rata sekitar 3,9–4,5 meter per detik, atau kira-kira 14–16 km/jam.

Selama pengujian, sistem tidak hanya menjalankan kendaraan.

AI terus membaca mobil, sepeda motor dan pejalan kaki di lingkungan sekitarnya.

Foto pengujiannya bahkan memperlihatkan trem berada langsung bersebelahan dengan kendaraan umum di jalan.

Ini membuat proyek tersebut sangat berbeda dari kendaraan otomatis yang hanya berjalan pada koridor khusus dan terisolasi.

BRIN Melakukan Audit Teknologi

Hasil pengujian tidak hanya dinilai oleh tim pengembang sendiri.

ITB melaporkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan audit teknologi secara independen. Berdasarkan laporan ITB, hasil audit menyatakan teknologi berfungsi dengan baik dan dinilai setara dengan tingkat otomasi Level 3 atau conditional driving automation berdasarkan klasifikasi SAE.

Namun istilah Level 3 perlu dibaca dengan hati-hati.

Tidak berarti trem dapat dilepas ke mana saja tanpa batas.

Sistem otonom tetap bekerja dalam kondisi operasional yang ditentukan dan implementasi nyata membutuhkan regulasi, standar keselamatan, infrastruktur serta prosedur operasional yang jelas.

Karena itu keberhasilan audit merupakan tonggak teknologi, bukan berarti kendaraan otomatis langsung siap menjadi transportasi umum di seluruh Indonesia.

Mengapa Disebut Karya Anak Bangsa?

Ada kecenderungan menggunakan frasa “karya anak bangsa” untuk hampir semua produk yang berkaitan dengan teknologi Indonesia.

Dalam proyek ini, istilah tersebut mempunyai dasar yang lebih konkret.

Sistem otonom dikembangkan melalui riset ITB.

PT INKA menjadi mitra industri dan menyediakan platform perkeretaapiannya.

Riset mendapat dukungan pendanaan LPDP.

Kemudian prototipe diuji dalam kondisi jalan Indonesia.

Tetapi tetap lebih tepat menyebutnya sebagai hasil riset dan pengembangan teknologi Indonesia daripada mengklaim seluruh sensor dan setiap komponen elektronik di dalamnya 100 persen dibuat di dalam negeri.

Sumber resmi yang saya temukan tidak memberikan rincian tingkat kandungan dalam negeri untuk setiap komponen trem otonom tersebut.

Kebanggaan terhadap produk nasional justru lebih kuat ketika klaimnya presisi.

Lebih Rumit daripada Kereta Otonom di Jalur Terpisah

PT INKA sebenarnya bukan pemain baru dalam transportasi otomatis.

Perusahaan tersebut juga terlibat dalam pembuatan sarana LRT Jabodebek.

Namun Direktur Pengembangan PT INKA yang dikutip LPDP menjelaskan trem otonom menghadirkan tingkat kerumitan berbeda karena kendaraan berinteraksi langsung dengan pengguna jalan.

Kereta di jalur eksklusif relatif lebih mudah dikendalikan.

Tidak ada motor yang tiba-tiba masuk ke lintasannya.

Tidak ada mobil parkir di depan.

Pejalan kaki juga tidak bebas menyeberang di sembarang tempat.

Trem perkotaan harus memahami lingkungan yang jauh lebih dinamis.

Dalam konteks inilah kemampuan autonomous driving lokal menjadi menarik.

Yang sedang dikembangkan bukan hanya kereta yang tahu kapan harus berjalan dan berhenti di stasiun.

Kendaraan harus mampu membaca perilaku lalu lintas kota.

Belum Langsung Dijual ke Banyak Kota

Ada satu bagian yang penting agar pemberitaan teknologi tidak menjadi terlalu bombastis.

Setelah berhasil diuji di Solo, trem tersebut tidak otomatis langsung diproduksi massal atau digunakan sebagai transportasi reguler.

Pada November 2024, Ketua Tim Peneliti ITB memperkirakan masih dibutuhkan sekitar 1–3 tahun agar teknologi menjadi lebih matang menuju penggunaan komersial. Salah satu alasannya adalah karakter setiap kota berbeda sehingga sistem membutuhkan penyesuaian.

Regulasi juga menjadi tantangan.

ITB ketika itu menyoroti belum adanya aturan khusus yang secara detail mengatur pengoperasian trem otonom di lingkungan lalu lintas campuran, termasuk persoalan standar rambu dan hubungan antara regulasi perkeretaapian dengan jalan raya.

Dengan kata lain, teknologi bisa berkembang lebih cepat daripada aturan yang mengelilinginya.

Bagaimana Statusnya pada 2026?

Dalam penelusuran publikasi resmi ITB, PT INKA dan LPDP hingga 13 Agustus 2026, sumber yang dapat saya temukan masih menempatkan pengujian mixed traffic Solo pada November 2024 sebagai capaian publik utama proyek trem otonom ITB-INKA. Saya belum menemukan pengumuman resmi yang menyatakan trem tersebut telah masuk ke layanan penumpang komersial reguler. Ini merupakan kesimpulan dari penelusuran sumber resmi yang tersedia, bukan pernyataan bahwa pengembangan proyek telah berhenti.

Justru fase setelah prototipe biasanya menentukan apakah penelitian benar-benar dapat menjadi produk.

Teknologinya harus semakin matang.

Reliabilitasnya harus diuji.

Regulasinya harus tersedia.

Model bisnis dan biaya operasinya perlu masuk akal.

Kemudian pemerintah daerah harus mempunyai kebutuhan serta infrastruktur yang sesuai.

Bukan Sekadar Trem Tanpa Masinis

Jika hanya dilihat sekilas, inovasi ini bisa diringkas menjadi:

“Indonesia membuat trem tanpa masinis.”

Padahal pencapaiannya lebih luas.

Peneliti Indonesia mengembangkan sistem persepsi kendaraan.

AI digunakan untuk mengenali objek.

Sensor digabungkan agar kendaraan memahami lingkungan.

Sistem mampu mengambil keputusan pengereman dan akselerasi.

Teknologi tersebut kemudian dipasang pada kendaraan buatan industri nasional dan diuji langsung di jalan kota.

Itulah rantai inovasi yang jarang terlihat ketika sebuah penelitian hanya berhenti di laboratorium.

Keberhasilan sebenarnya baru akan terlihat apabila suatu hari teknologi ini bisa diproduksi dengan harga kompetitif dan digunakan masyarakat.

Namun trem ITB-INKA sudah menunjukkan satu hal penting:

Indonesia tidak harus selalu menjadi pembeli ketika teknologi transportasi menjadi semakin pintar.

Dengan riset yang berkelanjutan, industri yang mampu memproduksi, serta regulasi yang mengikuti perkembangan teknologi, Indonesia juga mempunyai kesempatan menjadi pembuatnya.

Tags:
teknologi

Komentar Pengguna