KebonCinta.com – Bayangkan sedang berada di pusat perbelanjaan, stasiun, atau tempat ramai. Smartphone yang sebelumnya menunjukkan jaringan 4G atau 5G tiba-tiba berubah menjadi 2G.
Beberapa saat kemudian masuk SMS yang terlihat seperti berasal dari bank.
Pesannya mengatakan rekening bermasalah, transaksi mencurigakan terdeteksi, atau akun mobile banking harus segera diverifikasi. Sebuah tautan disertakan dan pengguna diminta membukanya.
Situasi seperti ini belakangan sering dikaitkan dengan modus fake BTS, false base station, IMSI catcher, atau SMS blaster.
Ancaman teknologinya memang nyata.
Namun ada satu hal yang harus diluruskan: turunnya jaringan ke 2G tidak dengan sendirinya membuat saldo rekening hilang.
Bahaya terbesar muncul ketika teknologi tersebut digabungkan dengan phishing, pencurian kredensial, aplikasi berbahaya, social engineering, atau ketika korban memberikan informasi rahasia kepada pelaku. Google menjelaskan bahwa SMS blaster dapat membuat jaringan palsu LTE atau 5G yang kemudian memaksa perangkat tertentu turun ke protokol 2G sebelum pesan phishing dikirim langsung ke perangkat korban.
Jadi modusnya bukan sesederhana:
HP masuk 2G → rekening langsung kosong.
Ada beberapa tahapan lain yang biasanya diperlukan pelaku untuk mendapatkan akses ke uang korban.
Ponsel selalu mencari BTS atau menara seluler untuk terhubung ke jaringan operator.
Pada serangan false base station, penjahat menggunakan perangkat radio yang berpura-pura menjadi BTS resmi.
GSMA menyebut perangkat semacam ini juga dikenal sebagai SMS blaster atau IMSI catcher. Penjahat dapat menggunakannya untuk meniru jaringan seluler dan mengirim pesan berbahaya kepada perangkat yang berada dalam jangkauan.
Salah satu kelemahan yang dimanfaatkan berada pada jaringan 2G.
Dokumentasi Android menjelaskan perangkat yang masih mengizinkan 2G tetap memiliki potensi terkena serangan 2G downgrade, bahkan jika operatornya sendiri sudah tidak lagi mengoperasikan jaringan 2G, karena ponsel masih dapat mencari dan mencoba terhubung dengan base station 2G palsu.
Google bahkan menjelaskan pola serangan SMS blaster secara lebih spesifik.
Perangkat penyerang dapat memancarkan jaringan palsu LTE atau 5G, membuat ponsel korban terhubung, lalu menurunkannya menuju teknologi 2G yang lebih tua sebelum mengirim pesan phishing.
Salah satu tujuannya adalah menghindari sistem penyaringan SMS milik operator.
SMS phishing biasa melewati infrastruktur operator sehingga terdapat peluang pesan berbahaya dideteksi atau diblokir.
SMS blaster dapat mengirim pesan langsung melalui base station palsu.
GSMA memasukkan False Base Station Attacks sebagai salah satu bentuk scam melalui SMS dan menjelaskan teknologi tersebut digunakan pelaku untuk melewati mekanisme penyaringan SMS pada jaringan operator.
Akibatnya, korban dapat menerima SMS yang terlihat sangat meyakinkan.
Pesannya bisa mengatasnamakan bank.
Perusahaan pengiriman.
Instansi pemerintah.
Operator seluler.
Atau layanan digital lain.
Teknologi jaringan hanya menjadi jalan masuk.
Serangan berikutnya biasanya tetap mengandalkan manusia agar percaya.
Inilah bagian yang membuat modus tersebut berbahaya.
Korban terbiasa berpikir:
“Kalau SMS masuk dengan nama bank, berarti pasti benar.”
Padahal identitas pengirim dalam penipuan digital tidak selalu dapat dijadikan jaminan.
Pelaku dapat menggunakan berbagai bentuk impersonation untuk membuat pesan terlihat seperti komunikasi resmi.
Kemudian muncul kalimat yang sengaja dibuat mendesak:
“Rekening Anda akan diblokir.”
“Terjadi transaksi Rp5 juta.”
“Segera verifikasi akun.”
“Klik untuk membatalkan transaksi.”
Tujuannya membuat korban bertindak lebih cepat daripada berpikir.
Komdigi menyebut penipuan melalui SMS atau smishing memang memanfaatkan pesan untuk mendorong korban menyerahkan data pribadi atau membuka tautan berbahaya.
Bayangkan korban menekan tautan.
Tampilan website kemudian dibuat sangat mirip halaman bank.
Logo sama.
Warnanya sama.
Ada kolom username.
Password.
Nomor kartu.
PIN.
Bahkan mungkin terdapat halaman OTP.
Korban mengira sedang melakukan verifikasi kepada bank.
Padahal informasi tersebut dikirim kepada penipu.
Bank Indonesia dalam materi edukasi keamanan digital menyebut phishing sebagai upaya menggunakan tautan atau situs palsu untuk mendapatkan informasi pribadi. BI juga mengingatkan OTP hanya boleh diketahui pemiliknya dan tidak boleh diberikan kepada pihak lain.
Pada titik inilah rekening mulai benar-benar berada dalam bahaya.
Bukan karena tulisan “2G” muncul di bagian atas layar.
Tetapi karena kunci untuk memasuki rekening telah diberikan kepada pihak lain.
Modus lain bahkan tidak membutuhkan fake BTS.
Penipu dapat menghubungi korban lewat WhatsApp dengan mengaku sebagai petugas pajak, BPJS, kepolisian, kurir, perusahaan, atau institusi tertentu.
Korban kemudian diberi tautan yang tampilannya menyerupai Google Play Store dan diminta memasang aplikasi Android atau APK.
BCA mendokumentasikan modus seperti ini. Korban diarahkan memasang APK palsu dan pada beberapa kasus diminta memberikan izin accessibility, akses jarak jauh, atau melakukan screen sharing. Setelah memperoleh izin tersebut, penipu dapat melihat, merekam, bahkan mengendalikan ponsel korban secara remote. BCA menyebut korban dalam kasus semacam itu kemudian menemukan transaksi dan saldo rekening yang berkurang.
Bank Indonesia juga telah berulang kali memperingatkan masyarakat mengenai file APK penipuan. Jika terlanjur memasangnya, BI menyarankan antara lain segera memutus koneksi data, menghapus aplikasi mencurigakan, serta mengganti password akun penting.
Ada modus yang terlihat jauh lebih sederhana.
Penipu menelepon dan menawarkan bantuan.
“Bapak tidak perlu bingung, nanti saya pandu.”
Korban kemudian diminta membuka aplikasi video meeting, remote support, atau fitur berbagi layar.
Masalahnya, layar tersebut dapat memperlihatkan informasi yang seharusnya hanya diketahui pemilik rekening.
BCA secara khusus memperingatkan bahwa penipu dapat meminta screen sharing sebagai bagian dari rekayasa sosial untuk memperoleh akses atau kontrol terhadap perangkat korban.
Karena itu, jangan pernah melakukan screen sharing ketika sedang membuka mobile banking, memasukkan PIN, password, atau informasi finansial.
Petugas bank asli tidak membutuhkan akses jarak jauh ke smartphone pribadi untuk menyelesaikan masalah rekening.
Pertama, jangan langsung panik.
Perubahan ke 2G sendiri bukan bukti pasti ada fake BTS. Dokumentasi Android menunjukkan jaringan 2G masih digunakan pada sebagian wilayah dan kondisi tertentu, sehingga keberadaan indikator 2G saja tidak cukup untuk menyimpulkan sedang terjadi serangan.
Namun menjadi lebih waspada adalah langkah yang masuk akal, terutama jika pada saat yang hampir bersamaan muncul SMS aneh yang meminta tindakan finansial.
Jangan tekan link.
Jangan telepon nomor yang tercantum pada SMS.
Jangan login melalui halaman yang dikirim pesan tersebut.
Buka aplikasi bank langsung dari ikon yang sudah terpasang di smartphone.
Jika benar terdapat masalah rekening, hubungi bank melalui nomor atau kanal resmi yang dicari secara independen.
Google menyediakan satu perlindungan yang secara khusus ditujukan terhadap serangan seperti ini.
Sejak Android 12, Android memiliki kemampuan bagi perangkat yang mendukung untuk menonaktifkan koneksi 2G pada tingkat modem. Google menyatakan tindakan tersebut dapat menghentikan penggunaan 2G pada perangkat dan membantu menghadapi serangan berbasis downgrade jaringan.
Lokasi menu dapat berbeda tergantung produsen smartphone dan versi sistem.
Pada perangkat yang menyediakan opsi tersebut, biasanya terdapat pengaturan jaringan SIM terkait Allow 2G/Izinkan 2G.
Namun ada konsekuensinya.
Android menjelaskan beberapa wilayah atau kondisi roaming masih dapat bergantung pada jaringan 2G. Menonaktifkannya dapat membuat pengguna kehilangan konektivitas di tempat tertentu.
Jadi fitur tersebut bisa menjadi perlindungan tambahan, bukan alasan untuk mengabaikan kebiasaan keamanan lainnya.
Ada beberapa kebiasaan yang jauh lebih penting daripada hanya memperhatikan indikator jaringan.
1. Jangan pernah memberikan OTP, PIN, password, CVV/CVC atau informasi rahasia kepada siapa pun.
OJK dan BI berulang kali mengingatkan informasi tersebut merupakan kredensial yang harus dijaga.
2. Jangan login mobile banking dari link SMS atau WhatsApp.
Buka aplikasi bank dari ikon aplikasi yang sudah terpasang atau ketik alamat situs resminya secara mandiri.
3. Jangan install APK dari chat.
BCA mengingatkan aplikasi palsu dapat dibuat menyerupai aplikasi instansi resmi dan digunakan untuk memperoleh akses terhadap perangkat.
4. Jangan berikan izin Accessibility atau remote access kepada aplikasi yang tidak jelas.
Izin tersebut dapat memberikan kontrol yang sangat besar terhadap smartphone.
5. Hindari screen sharing saat membuka aplikasi keuangan.
PIN, saldo, OTP dan informasi transaksi dapat terlihat pihak lain.
6. Gunakan aplikasi bank dari toko aplikasi resmi.
Bank Indonesia juga memasukkan penggunaan aplikasi mobile banking resmi dari toko aplikasi resmi sebagai praktik keamanan dasar.
7. Aktifkan perlindungan layar dan biometrik.
Gunakan PIN perangkat yang kuat serta fingerprint atau face authentication jika didukung.
8.