Pendidikan
Hilmi An Naufal

Korea Utara Punya “Radar Terbang” Baru, Dibangun dari Il-76 dan Bukan E-7 Wedgetail

Korea Utara Punya “Radar Terbang” Baru, Dibangun dari Il-76 dan Bukan E-7 Wedgetail

13 Agustus 2026 | 06:44

KebonCinta.com – Sebuah pesawat besar berwarna putih melintas rendah di hadapan Kim Jong Un. Empat mesinnya terlihat jelas, sementara sebuah struktur radar berbentuk piringan besar berada di atas badan pesawat.

Pada saat yang sama, Korea Utara juga memperlihatkan drone pengintai dan drone serang yang diklaim memanfaatkan teknologi kecerdasan artifisial.

Kemunculan berbagai teknologi militer tersebut pada Maret 2025 membuat pemberitaannya mudah tercampur.

Ada yang menyebut pesawat besar itu sebagai “drone mirip Boeing E-7 Wedgetail”.

Padahal keduanya berbeda.

Pesawat besar tersebut merupakan Airborne Early Warning and Control atau AEW&C, yakni pesawat berawak yang membawa radar untuk melakukan pengawasan udara dari ketinggian. Pesawat itu dibangun dengan memodifikasi Ilyushin Il-76 yang sebelumnya digunakan Korea Utara sebagai pesawat angkut.

Sementara drone yang ikut ditampilkan pada kegiatan tersebut adalah sistem berbeda.

Korea Utara Sebenarnya Memperlihatkan Dua Teknologi Berbeda

Pada 27 Maret 2025, media pemerintah Korea Utara KCNA melaporkan Kim Jong Un mengawasi pengujian drone pengintai dan drone serang yang dilengkapi teknologi AI.

Pada laporan yang sama, Korea Utara untuk pertama kalinya secara resmi memperlihatkan pesawat peringatan dini udara atau AEW&C miliknya.

Foto-foto yang dipublikasikan menunjukkan Kim menaiki tangga menuju sebuah pesawat bermesin empat dengan radar besar di atas fuselage.

Reuters mencatat analis sebelumnya sudah mengetahui Korea Utara sedang memodifikasi pesawat angkut Rusia Ilyushin Il-76 untuk menjalankan fungsi tersebut.

Di sisi lain, foto lain memperlihatkan pesawat tanpa awak pengintai yang bentuk luarnya mengingatkan analis pada RQ-4 Global Hawk milik Amerika Serikat.

Jadi ada setidaknya dua cerita:

pesawat radar AEW&C berawak, dan program drone Korea Utara.

Keduanya bukan kendaraan yang sama.

Apa Itu Pesawat AEW&C?

Secara sederhana, AEW&C bisa disebut sebagai radar terbang.

Radar berbasis darat mempunyai keterbatasan karena bentuk permukaan bumi, pegunungan, bangunan, dan kelengkungan bumi dapat menghalangi kemampuan melihat target yang terbang rendah.

Jika radar ditempatkan di pesawat dan diterbangkan pada ketinggian tertentu, bidang pandangnya menjadi jauh lebih luas.

Inilah alasan pesawat seperti AEW&C mempunyai peran penting.

Ia dapat membantu mendeteksi pesawat, memantau aktivitas udara, membangun gambaran situasi pertempuran, dan membantu koordinasi kekuatan udara.

International Institute for Strategic Studies yang dikutip Reuters menilai kemampuan radar udara dapat membantu Korea Utara mengurangi keterbatasan radar darat akibat medan pegunungan di Semenanjung Korea, termasuk ketika mencoba melacak pesawat atau rudal jelajah yang terbang rendah.

Karena itu, nilai strategis pesawat ini bukan pada kemampuannya menjatuhkan bom.

Fungsi utamanya adalah menjadi mata di langit.

Berasal dari Pesawat Kargo Air Koryo

Pengembangan pesawat tersebut ternyata sudah terlihat jauh sebelum Kim Jong Un memamerkannya.

Analisis citra satelit 38 North menunjukkan sebuah Il-76 milik Air Koryo dipindahkan ke fasilitas perawatan di Bandara Internasional Sunan, Pyongyang, pada Oktober 2023. Tak lama kemudian, area di sekitar pesawat diberi pagar pengamanan.

Pada November 2023, pekerjaan mulai terlihat pada bagian atas badan pesawat.

Sepanjang 2024 modifikasi terus berlangsung.

Pesawat kemudian masuk ke hanggar pada November 2024 dan baru terlihat kembali pada akhir Februari 2025 dengan sebuah radome besar terpasang di atasnya.

Citra satelit pada 3 Maret 2025 kemudian memberikan gambaran yang jauh lebih jelas mengenai konfigurasi tersebut.

Tiga minggu setelah itu, Korea Utara akhirnya memamerkannya secara resmi.

Lalu Mengapa Disebut Mirip E-7 Wedgetail?

Kebingungan ini bisa dipahami karena keduanya menjalankan fungsi yang kurang lebih serupa, yaitu airborne early warning and control.

Namun bentuk dasar keduanya sangat berbeda.

Boeing E-7 Wedgetail dibangun menggunakan platform Boeing 737-700 AEW&C. Sistem tersebut menggunakan radar Multi-role Electronically Scanned Array atau MESA pada struktur memanjang berbentuk seperti “top hat” di bagian atas fuselage.

Pesawat Korea Utara justru menggunakan Ilyushin Il-76, pesawat angkut besar bermesin empat.

Radar di atas pesawat Korea Utara juga berada di dalam struktur berbentuk piringan besar atau radome.

Secara visual, konfigurasi itu lebih dekat dengan keluarga pesawat AEW&C berbasis Il-76 seperti A-50 Rusia daripada E-7 Wedgetail berbasis Boeing 737.

Jadi kalimat yang lebih tepat adalah:

Korea Utara mengembangkan pesawat AEW&C yang menjalankan fungsi sejenis dengan E-7 Wedgetail, tetapi menggunakan platform dan konfigurasi yang berbeda.

Bahkan Bentuk Radarnya Menarik Perhatian Analis

38 North menemukan detail menarik pada struktur radar Korea Utara.

Pada bagian atas radome terlihat pola segitiga yang menurut analis menyerupai desain pada sejumlah pesawat AEW China. Pada sistem semacam itu, bentuk tersebut dapat berhubungan dengan tiga array radar yang masing-masing melayani sektor sekitar 120 derajat.

Namun 38 North juga memberikan catatan penting.

Kemiripan desain belum membuktikan China membantu proyek tersebut.

Bentuk eksternal hanya dapat menjadi petunjuk atau pengaruh desain, bukan bukti mengenai asal radar maupun teknologi elektronik di dalamnya.

Hal yang sama berlaku untuk dugaan bantuan Rusia.

Juru bicara militer Korea Selatan pada Maret 2025 menyatakan Rusia mungkin mempunyai hubungan dengan sistem internal atau komponen pesawat, tetapi hal tersebut disampaikan sebagai kemungkinan, bukan fakta yang telah dibuktikan secara terbuka.

Karena itu, klaim seperti “radarnya pasti buatan Rusia” atau “teknologinya diberikan China” sebaiknya dihindari tanpa bukti tambahan.

Seberapa Canggih Radar Korea Utara?

Ini justru pertanyaan yang hingga sekarang sulit dijawab dari informasi terbuka.

Korea Utara memperlihatkan bentuk pesawat, ruang operator, dan demonstrasi penerbangannya.

Namun spesifikasi teknis terperinci mengenai jangkauan radar, kemampuan mendeteksi target kecil, jumlah sasaran yang dapat dilacak, ketahanan terhadap gangguan elektronik, atau kemampuan komunikasi data tidak dipublikasikan secara independen.

Militer Korea Selatan sendiri mengatakan kemampuan operasional pesawat tersebut saat kemunculannya pada 2025 masih belum jelas.

Ukuran Il-76 yang besar juga membuat pesawat ini berpotensi menjadi target yang lebih mudah dideteksi dan membutuhkan perlindungan apabila digunakan dalam kondisi konflik.

Karena itu, tidak tepat langsung menyimpulkan Korea Utara sekarang mempunyai kemampuan yang setara dengan E-7 Wedgetail, E-3 AWACS, atau pesawat AEW&C modern negara lain.

Bentuk pesawat dapat ditiru.

Kemampuan sensor, pemrosesan data, jaringan komunikasi, perangkat lunak, pelatihan operator, dan integrasinya dengan pesawat tempur jauh lebih sulit dinilai hanya dari foto.

E-7 Wedgetail Sendiri Bukan Drone

Ada satu kekeliruan lain yang penting diluruskan.

E-7 Wedgetail juga bukan drone.

Pesawat tersebut merupakan pesawat AEW&C berawak berbasis Boeing 737.

U.S. Air Force menjelaskan E-7A dirancang untuk menyediakan kemampuan pendeteksian sasaran bergerak dari udara, battle management, command and control, serta radar electronically scanned array.

Royal Australian Air Force telah menggunakan E-7A dan mengoperasikannya sebagai pusat pengawasan serta kendali udara.

Jadi baik E-7 maupun pesawat AEW&C Korea Utara sama-sama berada dalam kategori pesawat pengawasan udara berawak.

Perbedaannya terletak pada platform, radar, sistem misi, dan tingkat kematangan teknologinya.

Drone yang Dipamerkan Justru Mirip Global Hawk

Jika ingin mencari kendaraan Korea Utara yang benar-benar merupakan drone dan menyerupai pesawat Amerika, perhatian seharusnya diarahkan pada Saetbyol-4.

Korea Utara sudah memperlihatkan dua UAV besar pada 2023. 38 North mencatat bentuk salah satunya sangat menyerupai RQ-4 Global Hawk, sedangkan model lain mengambil banyak ciri visual yang mengingatkan pada MQ-9 Reaper.

Saetbyol-4 digunakan sebagai platform pengintaian.

Pada pengujian Maret 2025, Kim Jong Un kembali menginspeksi drone pengintai yang telah ditingkatkan dan diklaim mampu mendeteksi berbagai target taktis serta aktivitas lawan di darat maupun laut.

Namun kemiripan secara bentuk juga tidak berarti kemampuan teknologi internalnya sama dengan Global Hawk Amerika Serikat.

Analisis terhadap program UAV Korea Utara menilai kesamaan desain tidak otomatis menunjukkan Korea Utara mempunyai sensor, komunikasi satelit, endurance, atau avionik dengan kemampuan setara sistem Amerika.

Kim Jong Un Juga Memprioritaskan Drone Berbasis AI

Pada demonstrasi yang sama, Korea Utara menunjukkan suicide attack drones atau loitering munitions yang menyerang sasaran darat.

KCNA mengatakan teknologi AI telah diperkenalkan pada sistem tersebut. Kim Jong Un juga menyerukan agar bidang peralatan tanpa awak dan kecerdasan artifisial dijadikan prioritas dalam modernisasi militer Korea Utara.

Namun detail mengenai apa yang dimaksud dengan “AI” dalam sistem tersebut tidak dijelaskan secara independen.

Istilah AI dapat mencakup berbagai kemampuan, mulai pengenalan objek sampai bantuan navigasi atau pemilihan target.

Karena spesifikasinya tidak tersedia secara terbuka, tidak tepat mengasumsikan sistem tersebut sepenuhnya dapat mengambil keputusan serangan tanpa kendali manusia hanya berdasarkan klaim media pemerintah Korea Utara.

Satu Pesawat AEW&C Juga Belum Cukup

Memiliki satu radar terbang memang meningkatkan kemampuan yang sebelumnya tidak dimiliki Korea Utara.

Tetapi satu unit mempunyai keterbatasan besar.

Pesawat membutuhkan perawatan.

Awak harus beristirahat.

Pesawat juga tidak dapat terus berada di udara selama 24 jam tanpa pergantian.

Analisis IISS yang dikutip Reuters menilai satu pesawat AEW saja tidak cukup untuk memberikan cakupan secara berkelanjutan. Membuat lebih banyak unit juga dapat menjadi masalah karena Korea Utara hanya mempunyai jumlah Il-76 yang sangat terbatas untuk dikonversi.

38 North mencatat pesawat yang dimodifikasi merupakan salah satu dari tiga Il-76 yang sebelumnya digunakan Air Koryo pada penerbangan kargo.

Artinya, program ini memberikan kemampuan baru, tetapi skalanya masih jauh lebih kecil dibandingkan negara dengan armada AEW&C yang terdiri dari beberapa pesawat.

Pesawat Itu Kembali Ditampilkan pada Akhir 2025

Korea Utara tampaknya tetap menempatkan pesawat AEW&C tersebut sebagai salah satu simbol modernisasi kekuatan udaranya.

Pada peringatan 80 tahun Angkatan Udara Korea Utara pada November 2025, Kim Jong Un kembali meninjau berbagai peralatan militer, termasuk pesawat peringatan dini udara tersebut.

Ini menunjukkan proyek tersebut tidak sekadar diperlihatkan satu kali pada Maret lalu kemudian menghilang dari propaganda militer Korea Utara.

Meski demikian, hingga perkembangan yang dapat diverifikasi secara terbuka, rincian mengenai kemampuan radar dan kesiapan operasional penuh pesawat masih sangat terbatas.

Karena sebagian besar informasi awal berasal dari KCNA dan analisis citra terbuka, klaim mengenai performanya tetap harus dibaca dengan hati-hati.

Persaingan Drone di Semenanjung Korea Terus Berkembang

Pengembangan kendaraan tanpa awak juga tidak terjadi dalam ruang kosong.

Pada Juni 2026, Korea Selatan mengumumkan rencana memperluas secara cepat kemampuan drone dan kontra-drone militernya, termasuk rencana melatih sekitar 500 ribu personel sebagai operator atau “drone warriors” dan mendistribusikan puluhan ribu sistem tanpa awak. Pemerintah Korea Selatan secara eksplisit mengaitkan langkah tersebut dengan ancaman dari Korea Utara dan perubahan karakter perang modern.

Perkembangan itu memperlihatkan bagaimana teknologi drone semakin menjadi bagian penting dari persaingan militer di Semenanjung Korea.

Korea Utara mengembangkan drone pengintai, loitering munition dan pesawat radar.

Korea Selatan memperkuat drone serta pertahanan antidrone.

Namun kemampuan yang sebenarnya tetap tidak bisa ditentukan hanya dari penampilan sebuah kendaraan saat parade atau demonstrasi.

Jadi, Apa yang Sebenarnya Dipamerkan Korea Utara?

Jika diringkas, peristiwa Maret 2025 menghadirkan beberapa teknologi sekaligus.

Yang besar, bermesin empat dan mempunyai piringan radar di atasnya adalah pesawat AEW&C berbasis Il-76.

Ia bukan drone.

Ia juga bukan E-7 Wedgetail, meskipun mempunyai fungsi pengawasan udara yang sejenis.

Sementara pesawat tanpa awak besar yang bentuknya menyerupai Global Hawk adalah drone pengintai Korea Utara.

Di samping itu, Kim Jong Un juga mengawasi demonstrasi drone serang yang oleh media pemerintah disebut telah menggunakan teknologi AI.

Perbedaannya mungkin terdengar teknis.

Namun dalam pemberitaan teknologi militer, klasifikasi seperti ini penting.

Salah menyebut pesawat AEW&C sebagai drone dapat membuat pembaca mendapatkan gambaran yang keliru mengenai teknologi yang sebenarnya sedang dikembangkan.

Korea Utara memang sedang mendorong modernisasi drone dan kecerdasan artifisial.

Tetapi “radar terbang” yang menarik perhatian dunia pada Maret 2025 merupakan cerita berbeda: upaya Pyongyang mengubah pesawat angkut Il-76 menjadi pusat pengawasan udara yang dapat memperluas mata radar militernya dari darat ke langit.

Tags:
teknologi

Komentar Pengguna