Keboncinta.com-- Menjadi guru di era digital jelas berbeda dengan beberapa tahun lalu.
Jika dahulu proses belajar banyak bergantung pada buku paket dan papan tulis, kini kelas dipenuhi berbagai perangkat digital, mulai dari presentasi interaktif, video pembelajaran, platform belajar daring, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai pendukung proses belajar.
Perubahan ini juga dirasakan oleh mahasiswa yang sedang menjalani Program Pengalaman Lapangan (PPL).
Mereka tidak hanya dituntut mampu menyampaikan materi dengan baik, tetapi juga harus siap menghadapi peserta didik yang tumbuh bersama teknologi sejak usia dini.
Perubahan tersebut membuat peran guru ikut berkembang.
Guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi karena siswa dapat memperoleh berbagai pengetahuan hanya dengan beberapa kali mengetik di mesin pencari.
Kondisi ini menuntut calon guru untuk memiliki kemampuan yang lebih dari sekadar menguasai materi pelajaran.
Mereka perlu mampu memilih media pembelajaran yang sesuai, mengelola kelas yang dipenuhi distraksi digital, serta mengajarkan cara menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
PPL menjadi momen penting untuk menyadari bahwa kemampuan beradaptasi kini menjadi bagian dari kompetensi dasar seorang pendidik.
Namun, adaptif bukan berarti harus selalu menggunakan teknologi dalam setiap proses pembelajaran.
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap pembelajaran akan otomatis menjadi menarik hanya karena menggunakan aplikasi atau media digital.
Padahal, teknologi hanyalah alat. Yang membuat pembelajaran bermakna tetaplah cara guru membangun interaksi dengan peserta didik.
Dalam PPL, mahasiswa justru belajar bahwa tidak semua sekolah memiliki fasilitas yang sama.
Ada sekolah dengan perangkat digital yang lengkap, tetapi ada pula yang masih memiliki keterbatasan.
Situasi ini mengajarkan calon guru untuk kreatif menyesuaikan metode mengajar dengan kondisi yang ada.
Kemampuan membaca kebutuhan siswa dan lingkungan sekolah menjadi jauh lebih penting daripada sekadar menguasai banyak aplikasi.