Berita
Hilmi An Naufal

Mahasiswi Tuli Diterima di Informatika UAD, Kampus Perkuat Pendidikan Tinggi Inklusif

Mahasiswi Tuli Diterima di Informatika UAD, Kampus Perkuat Pendidikan Tinggi Inklusif

19 September 2026 | 18:12

KEBONCINTA.COM – Kesempatan memperoleh pendidikan tinggi yang semakin inklusif terlihat dari kisah Annisa, mahasiswa baru Tuli yang berhasil diterima di Program Studi Informatika, Fakultas Teknologi Industri Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Mahasiswi asal Wonosobo tersebut memilih bidang teknologi sebagai jalan untuk mengembangkan kemampuan sekaligus mengejar cita-citanya.

Bagi Annisa, keterbatasan pendengaran tidak menjadi penghalang untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

Ia mengaku senang dan bersyukur dapat diterima di Program Studi Informatika serta bertekad mengembangkan kemampuan di bidang teknologi selama menjalani perkuliahan.

Pengalaman pertamanya di kampus juga menunjukkan pentingnya lingkungan pendidikan yang mampu mengakomodasi kebutuhan mahasiswa dengan berbagai kondisi.

Ketika mengikuti Program Pengenalan Kampus, Annisa mendapat dukungan dari panitia pendamping maupun mahasiswa lainnya.

Meski demikian, terdapat sejumlah tantangan dalam proses komunikasi.

Ketika narasumber menyampaikan materi terlalu cepat atau berada dalam jarak yang cukup jauh, Annisa membutuhkan cara tambahan untuk memahami informasi.

Ia memanfaatkan berbagai metode visual, termasuk membaca gerak bibir dan menggunakan aplikasi catatan di telepon pintar.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan inklusif tidak cukup hanya membuka kesempatan pendaftaran bagi penyandang disabilitas.

Perguruan tinggi juga perlu mempersiapkan metode pembelajaran, fasilitas, teknologi pendukung serta lingkungan sosial yang dapat memastikan seluruh mahasiswa memperoleh akses belajar secara setara.

Bidang informatika sendiri menjadi salah satu sektor yang terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan tenaga digital, pengembangan perangkat lunak dan kecerdasan artifisial.

Kesempatan mahasiswa penyandang disabilitas memasuki bidang tersebut menunjukkan bahwa dunia teknologi dapat menjadi ruang pengembangan kompetensi bagi siapa saja.

Perguruan tinggi diharapkan semakin memperkuat sistem pendidikan inklusif sehingga mahasiswa dengan kebutuhan berbeda tetap dapat belajar, berprestasi dan mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

Kisah Annisa sekaligus menunjukkan bahwa akses terhadap perguruan tinggi perlu terus diperluas, tidak hanya dari sisi ekonomi dan wilayah, tetapi juga bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna