KEBONCINTA.COM – Proses pemulihan pendidikan pascabencana gempa di Nusa Tenggara Timur terus berjalan.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat sebanyak 2.447 satuan pendidikan terdampak telah kembali menjalankan kegiatan pembelajaran.
Namun kondisi sekolah belum sepenuhnya kembali normal.
Dari jumlah tersebut, baru 487 sekolah yang dapat melaksanakan pembelajaran secara normal di dalam ruang kelas.
Sementara sebanyak 1.960 satuan pendidikan lainnya masih menjalankan kegiatan belajar menggunakan tenda, ruang terbuka maupun fasilitas darurat.
Pemerintah tidak hanya melakukan pemulihan terhadap bangunan sekolah.
Pendampingan psikososial juga diberikan kepada warga sekolah untuk membantu mengatasi dampak psikologis akibat bencana.
Kemendikdasmen mencatat pendampingan psikososial telah dilakukan di 75 sekolah melalui kerja sama dengan berbagai mitra.
Pemerintah juga mempersiapkan 120 fasilitator nasional serta sekitar 1.700 fasilitator daerah.
Mereka ditargetkan membantu sekitar 51 ribu pendidik dan tenaga kependidikan yang berada di tujuh kabupaten terdampak, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Nagekeo, Ngada, Sikka dan Ende.
Untuk mendukung kegiatan belajar sementara, tenda kelas darurat senilai sekitar Rp5,5 miliar telah didistribusikan ke daerah terdampak.
Kemendikdasmen juga menyiapkan 672 Ruang Kelas Sementara dengan anggaran sekitar Rp3,5 miliar.
Fasilitas tersebut mencakup kebutuhan PAUD, SLB, SMK, SMP hingga SMA.
Selain fasilitas sementara, pemerintah mulai menyalurkan bantuan revitalisasi tahap pertama kepada 187 satuan pendidikan dengan total anggaran sekitar Rp50 miliar.
Bantuan digunakan untuk memperbaiki berbagai satuan pendidikan yang mengalami kerusakan.
Pemulihan pendidikan pascabencana tidak hanya membutuhkan pembangunan gedung.
Anak-anak juga perlu memperoleh rasa aman agar dapat kembali mengikuti pembelajaran setelah mengalami situasi yang menakutkan.
Karena itu, pendampingan psikososial menjadi bagian penting dari proses pemulihan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menyatakan kembalinya ribuan sekolah beroperasi merupakan hasil gotong royong berbagai pihak.
Pemerintah menargetkan kegiatan pembelajaran dapat kembali berlangsung secara optimal seiring perbaikan sarana dan pemulihan kondisi warga sekolah.
Bagi peserta didik di daerah terdampak, keberlanjutan pendidikan menjadi salah satu bagian penting dalam mengembalikan kehidupan secara perlahan setelah bencana.