KEBONCINTA.COM – Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan tinggi Indonesia.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menegaskan pendidikan harus mampu menghasilkan sumber daya manusia yang dapat mengendalikan dan mengembangkan AI, bukan sekadar menjadi pengguna teknologi tersebut.
Pernyataan itu disampaikan dalam Seminar Nasional bertema Sinergi Sains, Teknologi, dan Nilai Kebangsaan dalam Mencetak Generasi Unggul Berdaya Saing Global di Purwokerto, Jawa Tengah, Sabtu, 19 September 2026.
Menurut Stella, perkembangan AI membuat dunia pendidikan harus kembali melihat peran manusia dalam proses penciptaan pengetahuan.
Teknologi dapat membantu manusia mengolah informasi maupun melakukan berbagai pekerjaan dengan lebih cepat.
Namun manusia tetap memiliki peran penting dalam menentukan tujuan, menilai hasil, membangun pengetahuan dan mempertimbangkan dampak penggunaan teknologi.
Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya diajarkan cara menggunakan aplikasi berbasis AI.
Perguruan tinggi perlu membangun kemampuan berpikir kritis sehingga mahasiswa mampu memahami kapan teknologi dapat digunakan dan kapan hasil yang diberikan AI perlu diperiksa kembali.
Kemampuan tersebut semakin penting karena AI kini mulai digunakan dalam berbagai aktivitas akademik, seperti pencarian informasi, pengolahan data, pembuatan kode komputer hingga penyusunan tulisan.
Tanpa pemahaman yang memadai, mahasiswa berisiko terlalu bergantung pada teknologi dan kehilangan proses berpikir yang seharusnya menjadi bagian penting dari pendidikan.
Sebaliknya, apabila dimanfaatkan dengan tepat, AI dapat menjadi alat yang membantu mahasiswa memperluas pengetahuan dan meningkatkan produktivitas.
Perubahan tersebut juga memberikan tantangan bagi dosen.
Metode pembelajaran maupun bentuk tugas perlu terus berkembang agar mahasiswa tetap dituntut berpikir, menganalisis dan menghasilkan gagasan sendiri.
Pendidikan pada era AI karena itu bukan mengenai memilih antara manusia atau teknologi.
Tantangannya adalah menyiapkan manusia yang mempunyai pengetahuan dan kemampuan cukup untuk menggunakan, mengembangkan serta mengendalikan teknologi secara bertanggung jawab.
Dengan pendekatan tersebut, generasi muda Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi konsumen teknologi AI dari negara lain, tetapi memiliki kemampuan untuk ikut menciptakan inovasi dan pengetahuan baru.